Wamen LH: Kebakaran TPA Jatiwaringin Lebih Berbahaya dari Lahan Gambut
Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH), Diaz Hendropriyono, meninjau langsung lokasi kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin pada Sabtu (4/7/2026). Dalam kunjungannya, Diaz mengung
Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH), Diaz Hendropriyono, meninjau langsung lokasi kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin pada Sabtu (4/7/2026). Dalam kunjungannya, Diaz mengungkapkan bahwa karakteristik kebakaran di tempat pembuangan sampah tersebut memiliki kemiripan dengan kebakaran lahan gambut, namun dengan tingkat bahaya yang lebih tinggi karena adanya kandungan gas metana (CH4) yang mudah terbakar dan beracun.
"Memang pemadaman ini bukan hal yang mudah. Karakteristiknya mirip seperti kebakaran lahan gambut. Karena mungkin di atasnya terlihat sudah padam, tetapi ketika kita lihat di bagian bawahnya ini masih ada apinya," kata Diaz Hendropriyono kepada wartawan di lokasi.
Fenomena yang dijelaskan Wamen LH ini menegaskan bahwa api di TPA tidak hanya membakar permukaan tumpukan sampah, tetapi juga menjalar di lapisan dalam. Seperti halnya gambut, sampah organik yang telah terdekomposisi dalam waktu lama menciptakan bara bawah tanah yang bisa bertahan dalam waktu lama. Namun, yang membedakan adalah komposisi material TPA yang heterogen dan banyak menghasilkan gas metana—gas yang 25 kali lebih kuat memerangkap panas dibanding karbon dioksida, sekaligus sangat mudah meledak pada konsentrasi tertentu.
Kendala Pemadaman yang Kompleks
Menurut penjelasan dari Kementerian Lingkungan Hidup, memadamkan api di TPA tidak bisa sekadar disiram air dari atas. Pendekatan yang digunakan harus memadukan teknik pemadaman lahan gambut dengan langkah ekstra untuk mengelola gas berbahaya. Upaya penyiraman dan pemblokiran akses oksigen ke material yang terbakar menjadi prioritas, sambil memantau konsentrasi metana secara kontinu agar tidak memicu ledakan.
Beberapa hari sebelumnya, laporan dari Apaberita.com menyebutkan bahwa titik api di TPA Jatiwaringin masih terpantau aktif dan pemadam kebakaran menghadapi kendala angin kencang yang membuat api cepat merambat ke area baru. Kondisi ini memperparah upaya pemadaman yang sudah berlangsung intensif sejak awal munculnya titik api.
Dampak Lingkungan dan Kesehatan
Kebakaran TPA tidak hanya menyulitkan pemadaman, tetapi juga membawa dampak serius bagi udara dan kesehatan masyarakat sekitar. Gas metana yang terlepas, asap pekat, serta partikel halus dari pembakaran sampah—termasuk zat beracun seperti dioksin jika plastik ikut terbakar—bisa terhirup warga. Pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk tetap memakai masker dan mengurangi aktivitas luar ruangan selama proses pemadaman berlangsung.
Sementara itu, Kementerian Lingkungan Hidup tengah mengoordinasikan langkah pemadaman terintegrasi dengan dinas pemadam kebakaran, Dinas Lingkungan Hidup setempat, serta tim ahli gas berbahaya. Upaya injeksi air ke dalam lapisan sampah dengan tekanan tinggi dan penutupan area terbakar menggunakan tanah dan material inert menjadi jalan yang diupayakan untuk memutus suplai oksigen dan menurunkan suhu bara secara perlahan.
Hingga berita ini diturunkan, pantauan Apaberita.com di lokasi menunjukkan aktivitas petugas yang terus memantau titik-titik asap dan berjaga untuk mencegah perambatan baru. Kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya pengelolaan gas di TPA dan sistem deteksi dini kebakaran untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
Comments (0)