Trump Ancam Akan Tolak Bantuan untuk NATO Jika Diminta, Buntut Kekesalan soal Iran

Kekesalan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap aliansi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) belum mereda. Ia kini melontarkan ancaman terbaru yang berpotensi mengguncang fondasi kerja sama

Jul 08, 2026 - 19:31
0 0
Trump Ancam Akan Tolak Bantuan untuk NATO Jika Diminta, Buntut Kekesalan soal Iran
Kekesalan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap aliansi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) belum mereda. Ia kini melontarkan ancaman terbaru yang berpotensi mengguncang fondasi kerja sama pertahanan Barat. Trump secara terbuka menyatakan bahwa Amerika Serikat bisa saja menolak memberikan bantuan kepada negara-negara anggota NATO, sebagai respons atas minimnya dukungan yang diterima Washington saat menggelar operasi militer di Iran. Pernyataan kontroversial tersebut disampaikan langsung oleh Trump di hadapan awak media dalam sebuah konferensi pers di Ruang Oval, Gedung Putih. Dalam kesempatan itu, pemimpin AS tersebut menyinggung kontribusi finansial yang tidak seimbang serta keengganan para sekutu untuk turun tangan saat Amerika Serikat membutuhkan solidaritas di medan perang. “Kita telah menghabiskan semua uang ini, dan kemudian ketika kita mungkin ingin mendapatkan bantuan untuk hal-hal kecil... Mereka mengatakan tidak, kami lebih memilih untuk tidak membantu,” ujar Trump dengan nada kesal, seperti dilansir oleh laporan Apaberita.com pada Selasa (23/6/2026).

Ancaman Pembalasan yang Eksplisit

Trump tidak berhenti pada mengungkapkan rasa frustrasinya. Ia memberikan sinyal kuat bahwa prinsip pertahanan kolektif NATO, yang selama ini menjadi doktrin sakral aliansi tersebut, dapat diabaikan begitu saja oleh Washington sebagai bentuk pembalasan. Prinsip yang tertuang dalam Pasal 5 pakta pertahanan itu mewajibkan seluruh anggota untuk membantu anggota lain yang sedang diserang. “Itu hal bodoh untuk dikatakan, karena kita dapat mengatakan itu kepada mereka jika kita mau, dan mungkin kita akan melakukannya,” cetus Trump, menegaskan bahwa penolakan untuk membantu sekutu kini menjadi salah satu opsi kebijakan yang dipertimbangkan oleh Gedung Putih. Pernyataan ini semakin memanaskan hubungan transatlantik yang dalam beberapa tahun terakhir kerap diwarnai ketegangan. Sejak masa jabatannya yang pertama, Trump memang dikenal sebagai kritikus pedas NATO. Ia berulang kali menuntut negara-negara Eropa untuk meningkatkan anggaran pertahanan mereka hingga memenuhi target dua persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), serta menuduh para sekutu “menumpang” pada kekuatan militer AS. Namun, ancaman kali ini terasa lebih personal dan lebih tajam karena langsung mengaitkan bantuan militer ke Eropa dengan konflik spesifik di Timur Tengah. Ketidaksediaan sejumlah negara anggota NATO untuk mendukung operasi militer AS di Iran tampaknya menjadi luka diplomatik yang belum sembuh bagi Trump. Ia memandang penolakan tersebut sebagai pengkhianatan, mengingat besarnya dana dan sumber daya yang telah dikerahkan Amerika Serikat untuk melindungi Eropa selama puluhan tahun. Laporan dari Apaberita.com mencatat bahwa retorika ini muncul di tengah situasi geopolitik yang masih rapuh. Berbagai negara Eropa saat ini justru tengah berupaya memperkuat mekanisme pertahanan kolektif untuk menghadapi berbagai ancaman, mulai dari keamanan siber hingga perang konvensional. Ancaman pengabaian dari sekutu terkuat dalam aliansi tersebut dapat menciptakan celah keamanan yang berbahaya bagi benua biru itu. Hingga berita ini diturunkan, belum ada respons resmi dari Sekretaris Jenderal NATO maupun perwakilan negara-negara anggota utama seperti Jerman, Prancis, maupun Inggris. Namun, para analis pertahanan memperingatkan bahwa ketidakpastian komitmen AS terhadap NATO dapat mendorong akselerasi kemandirian militer Eropa—sebuah wacana yang telah lama bergulir, tetapi sering terhambat oleh ketergantungan pada payung nuklir dan logistik Amerika.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bagus-nugroho

Editor Ekonomi. Editor isu pasar, bisnis, dan moneter.

Comments (0)

User