SELAT SUNDA — Tim SAR Gabungan meningkatkan intensitas operasi penyisiran terhadap 5 jurnalis dan 3 kru kapal yang dilaporkan hilang kontak di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau. Memasuki tahap krusial pencarian pada Jumat (11/9/2026), fokus penyisiran diperluas hingga mencakup gugusan pulau kecil di perairan Selat Sunda, termasuk Pulau Sebesi, Pulau Sebuku, dan Pulau Rakata.
Rombongan jurnalis tersebut dilaporkan tengah melakukan perjalanan jurnalistik untuk meliput perkembangan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau serta kondisi ekosistem maritim setempat. Kapal motor yang mereka tumpangi bertolak dari pesisir Banten pada Kamis pagi, sebelum akhirnya memancar sinyal bahaya (distress signal) dan kehilangan kontak secara mendadak saat cuaca buruk menghantam kawasan perairan tersebut.
Kronologi Hilangnya Rombongan Jurnalis
Berdasarkan data yang dihimpun oleh Pos SAR Banten dan kesaksian saksi kunci di dermaga keberangkatan, alur kejadian hilangnya kapal motor tersebut terbagi dalam beberapa tahapan penting:
- Kamis (10/9/2026) - 06.00 WIB: Kapal motor berkapasitas sedang bertolak dari Dermaga Cikoneng, Anyer, membawa 5 jurnalis dari berbagai media nasional serta 3 kru kapal berpengalaman.
- Kamis (10/9/2026) - 11.30 WIB: Tim jurnalis sempat mengirimkan laporan pandangan mata mengenai erupsi minor Anak Krakatau sebelum ombak tinggi mulai menghantam lambung kapal.
- Kamis (10/9/2026) - 14.15 WIB: Stasiun Radio Pantai menerima sinyal darurat singkat dari kapal. Komunikasi radio dan sistem GPS kapal terputus total beberapa menit setelahnya.
- Jumat (11/9/2026) - 06.00 WIB: Tim SAR Gabungan resmi memobilisasi armada laut dan udara untuk penyisiran berskala besar di 4 sektor pencarian.
Sebaran Armada dan Sektor Pencarian SAR
Operasi pencarian hari ini mengandalkan kalkulasi matematis arus laut dan arah angin dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) guna memetakan potensi pergeseran objek di permukaan air. Sebanyak 12 unit kapal penyelamat dan 1 helikopter dikerahkan penuh ke kawasan terdampak.
| Sektor Pencarian | Cakupan Wilayah | Armada yang Dikerahkan |
|---|---|---|
| Sektor A (Utara) | Perairan Pulau Sebesi dan Sebuku | 2 Unit Rigid Inflatable Boat (RIB) Basarnas, 3 Kapal Polairud |
| Sektor B (Pusat) | Radius 5 Mil Laut Gunung Anak Krakatau | KN SAR Kresna, 1 Helikopter AW-139 |
| Sektor C (Selatan) | Perairan Pulau Rakata & Legundi | KRI TNI AL, 4 Kapal Nelayan Lokal |
| Sektor D (Pesisir) | Garis Pantai Rajabasa & Pesisir Banten | Tim Patroli Darat & Drone Thermal Thermal |
Tantangan Cuaca dan Gelombang Tinggi
Kondisi medan penyisiran di Selat Sunda dikenal memiliki dinamika gelombang yang sangat ekstrem, terutama saat terjadi peralihan pola angin musiman. Tinggi gelombang di sekitar komplek Gunung Anak Krakatau dilaporkan mencapai 2.5 hingga 4.0 meter, disertai kecepatan angin menembus 25 knot.
"Faktor cuaca dan arus bawah laut yang sangat deras menjadi tantangan utama tim di lapangan. Namun, kami memaksimalkan seluruh alutsista sonar dan pencarian udara untuk mendeteksi keberadaan lambung kapal maupun survivor secepat mungkin," tegas Kepala Kantor SAR Banten selaku SAR Mission Coordinator (SMC).
Pihak berwenang mengimbau seluruh nelayan lokal dan kapal komersial yang melintasi jalur pelayaran Selat Sunda untuk segera melapor jika menemukan puing-puing kapal atau tanda keberadaan korban. Operasi pencarian dipastikan terus berjalan dengan memprioritaskan keselamatan seluruh personel penyelamat di tengah ancaman cuaca buruk.
Comments (0)