Terduga Pencuri Ayam di Buleleng Tewas Usai Serahkan Uang Sekolah
Singaraja, Bali – Seorang pria berinisial KD (45), warga Desa Sidatapa, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, ditemukan tidak bernyawa di kebun milik tetangga pada Kamis (23/7/2026), setelah sebel...
Singaraja, Bali – Seorang pria berinisial KD (45), warga Desa Sidatapa, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, ditemukan tidak bernyawa di kebun milik tetangga pada Kamis (23/7/2026), setelah sebelumnya dilaporkan menghilang selama tiga hari. Fakta mengejutkan terungkap: sebelum hilang, KD mendatangi sekolah dasar tempat anaknya belajar dan menyerahkan uang sebesar Rp2,7 juta untuk biaya pembangunan gedung sekolah. Uang tersebut diduga berasal dari hasil curian ayam yang dilakukan KD.
Kepolisian Resor Buleleng yang menangani perkara ini menyatakan telah mengevakuasi jenazah KD dan melakukan serangkaian penyelidikan. Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), ditemukan barang bukti berupa beberapa ekor ayam yang disembunyikan di semak-semak dekat titik tempat korban ditemukan. “Kami masih mendalami motif dan kronologi pasti. Yang jelas, korban adalah terduga pelaku pencurian ayam di beberapa rumah warga,” ujar Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Buleleng, AKP I Made Suardana, saat dihubungi, Jumat (24/7/2026).
Tiga Hari Tanpa Kabar
Menurut keterangan keluarga, KD meninggalkan rumah pada Senin sore (20/7/2026) dan tidak kunjung kembali. Sang istri, NS (40), awalnya menduga suaminya pergi mencari pekerjaan serabutan seperti biasa. Namun setelah satu hari tanpa kabar, keluarga mulai gelisah dan melaporkan kejadian itu ke aparat desa. Pencarian dilakukan oleh warga dan Bhabinkamtibmas setempat, namun belum membuahkan hasil hingga Rabu (22/7).
KD dikenal warga sebagai buruh tani harian yang kerap kesulitan ekonomi. Berdasarkan data Desa Sidatapa, keluarga KD termasuk dalam kategori penerima Program Keluarga Harapan (PKH). Meskipun demikian, kebutuhan mendesak seperti biaya pembangunan gedung sekolah anaknya sering kali tidak tercakup sepenuhnya oleh bantuan pemerintah.
Penyerahan di Sekolah
Kepala SD Negeri 3 Sidatapa, Ni Ketut Sariani, membenarkan bahwa KD datang ke sekolah pada Senin siang (20/7), beberapa jam sebelum dilaporkan hilang. “Beliau datang dan bilang mau melunasi iuran pembangunan gedung untuk anaknya yang kelas lima. Kami sempat terkejut karena biasanya pembayaran selalu tertunda,” ujarnya. Pihak sekolah tidak menaruh curiga dan menerima pembayaran tunai sebesar Rp2,7 juta tersebut sesuai pencatatan resmi.
Fakta bahwa KD mampu membayar iuran sekaligus dalam jumlah yang cukup besar menimbulkan tanda tanya setelah peristiwa kematiannya. Polisi menduga uang itu diperoleh dengan menjual ayam hasil curian ke pengepul di pasar desa. Beberapa saksi menyebutkan bahwa KD sempat menawarkan ayam dengan harga miring kepada sejumlah pengepul pada hari yang sama.
Ekshumasi dan Temuan Awal
Jenazah KD sempat dimakamkan secara adat oleh keluarga di Setra Desa Sidatapa pada Kamis (23/7) malam, setelah dinyatakan meninggal oleh bidan desa. Namun, pada Jumat (24/7), tim dokter forensik dari Rumah Sakit Bhayangkara Denpasar bersama penyidik Polres Buleleng melakukan ekshumasi terhadap makam tersebut. Langkah ini diambil menyusul kecurigaan bahwa kematian korban tidak wajar.
Dari hasil pemeriksaan luar, ditemukan luka lebam di bagian belakang kepala dan memar di lengan. “Kasus ini kami naikkan ke penyidikan. Kami masih menunggu hasil laboratorium forensik untuk memastikan sebab pasti kematian,” terang Kapolsek Tejakula AKP Gede Suarnata.
Cermin Keputusasaan
Kisah pilu KD membuka kembali diskusi tentang kemiskinan struktural di Bali utara yang kerap luput dari pemberitaan nasional. Data Badan Pusat Statistik Kabupaten Buleleng mencatat angka kemiskinan di Kecamatan Tejakula mencapai 12,7 persen pada 2025, tertinggi di Bali. Tekanan ekonomi mendorong sebagian warga melakukan tindakan nekat, termasuk kriminalitas skala kecil, demi memenuhi kebutuhan pokok dan kewajiban sosial seperti biaya pendidikan anak.
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Buleleng, Drs. Made Arnaya, menyatakan akan meninjau kembali sistem iuran pembangunan di sekolah-sekolah agar tidak menjadi beban bagi keluarga miskin. “Ini tragedi yang sangat disayangkan. Pemerintah terus mendorong agar setiap satuan pendidikan mengoptimalkan dana BOS dan BOSDA untuk membebaskan pungutan kepada warga kurang mampu,” tegasnya.
Solidaritas Warga
Peristiwa ini juga menggugah solidaritas warga Desa Sidatapa. Sejumlah tokoh masyarakat menginisiasi pengumpulan dana sukarela untuk membantu biaya pendidikan anak KD. Hingga Sabtu (25/7), dana yang terkumpul mencapai Rp5,2 juta. Dana itu rencananya diserahkan langsung ke pihak sekolah untuk membiayai kebutuhan sekolah anak KD hingga lulus SD.
“Kami sangat terpukul. KD mungkin salah langkah, tapi niatnya mulia. Sebagai tetangga, kami harus membantu anak-anaknya agar tidak putus sekolah,” ujar Ketua Adat Desa Sidatapa, Jero Mangku Sudiarta.
Hingga berita ini diturunkan, penyidik masih memeriksa sejumlah saksi, termasuk istri korban, kepala sekolah, dan pengepul ayam. Polisi belum menetapkan tersangka lain terkait kematian KD. Kasus ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat jaring pengaman sosial bagi keluarga-keluarga rentan di daerah-daerah terpencil.
Comments (0)