Tanker Pertamina Pride Lintasi Selat Hormuz Setelah Empat Bulan Tertahan
PT Pertamina (Persero) mengonfirmasi bahwa kapal tanker Pertamina Pride akhirnya berhasil melintasi Selat Hormuz pada Senin (21/7) sore waktu setempat, mengakhiri masa penundaan yang berlangsung hampi...
PT Pertamina (Persero) mengonfirmasi bahwa kapal tanker Pertamina Pride akhirnya berhasil melintasi Selat Hormuz pada Senin (21/7) sore waktu setempat, mengakhiri masa penundaan yang berlangsung hampir empat bulan di kawasan perairan strategis tersebut. Dalam keterangan resminya, manajemen menyatakan kapal yang mengangkut minyak mentah bagian negara itu kini melanjutkan pelayaran menuju salah satu kilang di Indonesia dan diperkirakan tiba dalam 12 hari ke depan, setelah seluruh dokumen dan inspeksi teknis dinyatakan lengkap oleh otoritas setempat.
"Kami bersyukur kapal Pertamina Pride dapat kembali berlayar setelah melalui proses koordinasi yang sangat ketat. Seluruh kendala yang menyebabkan penundaan telah diselesaikan sesuai prosedur internasional dan regulasi negara pantai," ujar Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati dalam pernyataan tertulis yang diterima di Jakarta. Nicke menambahkan, perusahaan menjamin pasokan bahan bakar minyak dan minyak mentah nasional tetap aman meski ada penundaan, berkat strategi pengalihan kargo dan optimalisasi armada lain.
Kronologi Penundaan di Jalur Vital Dunia
Berdasarkan catatan pelayaran, Pertamina Pride tiba di perairan dekat Selat Hormuz pada 3 Maret 2025. Kapal berbendera Indonesia dengan kapasitas angkut sekitar 300.000 ton itu seharusnya hanya transit normal sebelum melanjutkan rute ke Asia Tenggara. Namun, kendala prosedural yang muncul saat inspeksi keselamatan dan keamanan maritim membuat kapal harus menunggu di zona tunggu yang telah ditetapkan oleh otoritas negara sekitar. Selama masa menanti, kru kapal yang berjumlah 28 orang dalam kondisi sehat dan mendapat dukungan logistik penuh dari perusahaan.
Selat Hormuz merupakan titik sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab; hampir 20 persen perdagangan minyak dunia melintasi perairan ini setiap hari. Setiap gangguan, meski bersifat administratif, dapat memicu kekhawatiran pasar energi global. Namun, Pertamina memastikan penundaan Pertamina Pride murni bersifat teknis dan tidak terkait ketegangan geopolitik di kawasan.
Upaya Intensif dan Koordinasi Lintas Negara
Untuk membebaskan kapal, Pertamina mengerahkan tim hukum dan perwakilan di luar negeri yang bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri RI serta otoritas maritim negara-negara terkait. Serangkaian pertemuan teknis dan korespondensi diplomatik dilakukan sejak akhir Maret 2025. "Kami berterima kasih kepada pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Luar Negeri dan Kedutaan Besar RI di kawasan, yang telah memberikan dukungan penuh," lanjut Nicke. Selain itu, perusahaan juga berkoordinasi dengan asosiasi pemilik kapal internasional untuk memastikan pemenuhan standar keselamatan yang dipersyaratkan.
Puncaknya, pada 18 Juli 2025, otoritas pelabuhan setempat menerbitkan surat persetujuan berlayar setelah kapal lolos uji kelayakan dan melunasi biaya-biaya layanan yang timbul selama penundaan. Setelah dokumen selesai, kapal diizinkan memasuki jalur lintas Selat Hormuz di bawah pengawalan kapal pandu.
Dampak dan Jaminan Keberlanjutan Pasokan
Penundaan empat bulan ini memaksa manajemen rantai pasok Pertamina untuk melakukan penyesuaian. Direktur Logistik dan Infrastruktur Pertamina, Mulyono, mengatakan perusahaan telah mengalihkan sebagian kebutuhan minyak mentah ke pemasok alternatif serta memaksimalkan stok yang ada di terminal-terminal utama. "Tidak ada gangguan pada produksi kilang domestik. Ketahanan stok BBM nasional tetap terjaga di atas 20 hari sesuai ketentuan," tegasnya.
Pertamina Pride dijadwalkan tiba di perairan Indonesia sekitar awal Agustus 2025. Muatannya akan diproses di salah satu kilang milik perusahaan untuk kemudian diolah menjadi produk-produk BBM dan petrokimia. Keberhasilan kapal ini melintasi Selat Hormuz menjadi sinyal bahwa mekanisme diplomasi dan ketekunan prosedural mampu mengurai kendala pelayaran yang kompleks. Perusahaan pun berkomitmen untuk terus memperkuat kerja sama internasional guna melindungi setiap aset strategisnya di lintas global.
Comments (0)