Tahun Ajaran Baru Diburu, Sejumlah Daerah Krisis Air Bersih
Bandung, Apaberita.com – Suasana di berbagai pusat perlengkapan sekolah mendadak semarak. Para orang tua berbondong-bondong memborong buku, seragam, dan al
Bandung, Apaberita.com – Suasana di berbagai pusat perlengkapan sekolah mendadak semarak. Para orang tua berbondong-bondong memborong buku, seragam, dan alat tulis untuk putra-putri mereka yang akan memasuki tahun ajaran baru. Sementara di sisi lain negeri, jeriken dan ember antre berjajar menunggu giliran diisi air bersih dari truk tangki Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Dua potret kontras yang terjadi bersamaan di Tanah Air awal musim kemarau ini.
Perburuan Alat Tulis di Kota Kembang
Di kawasan Cibadak, Kota Bandung, salah satu sentra alat tulis legendaris, Teatrika Putri, tampak lebih ramai dari biasanya. Sejak pagi, gang sempit itu sudah dipadati pembeli yang mayoritas adalah emak-emak dan para bapak sambil membawa catatan daftar kebutuhan sekolah anak.
“Setiap tahun pasti begini. Begitu jadwal daftar ulang keluar, langsung kami serbu. Takut barang bagus keburu habis atau harganya naik,” ujar Rina, seorang ibu dua anak yang ditemui saat memilih buku tulis.
Barang yang paling laris diborong pekan ini adalah buku tulis isi 38 lembar, pensil 2B, penghapus, dan tas ransel karakter. Pemilik toko, Yanto, mengaku sudah menyiapkan stok sejak dua bulan lalu untuk mengantisipasi lonjakan permintaan.
“Tahun ini permintaan lebih tinggi dibanding tahun lalu, terutama untuk alat tulis merek lokal. Mungkin karena orang tua lebih berhemat, tapi tetap ingin anak-anak lengkap. Alhamdulillah rezeki,” katanya sambil menyusun bolpoin.
Para pedagang dadakan juga ikut meraup untung dengan menjual sampul buku dan label nama di trotoar sekitar. Seorang penjual sampul, Asep, mengaku bisa menjual 300 lembar sehari pada masa puncak seperti ini. “Lumayan buat tambah modal usaha,” cetusnya sumringah.
Kemarau Panjang Picu Krisis Air di Pelosok
Namun di beberapa kabupaten, cerita berbeda justru ditandai dengan derita akibat kekeringan. Di wilayah selatan Kabupaten Garut, misalnya, ratusan kepala keluarga hanya bisa pasrah menunggu bantuan air bersih tiba. Sudah hampir tiga pekan sumur-sumur warga mengering, dan sungai yang biasa menjadi andalan kini hanya menyisakan bebatuan.
“Kalau musim sekolah begini, anak-anak tetap kami usahakan berangkat. Tapi urusan mandi dan minum makin susah. Kadang kami terpaksa pakai air bekas cucian untuk menyiram tanaman,” tutur Darman, warga Desa Sukamahi, saat ditemui di posko bantuan air.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat ada empat kecamatan yang sudah berstatus siaga darurat kekeringan. Setiap hari, dua unit truk tangki dikerahkan untuk mendistribusikan sekitar 15.000 liter air bersih ke titik-titik pengungsian air.
“Kami terus berkoordinasi dengan PDAM dan instansi terkait untuk memastikan pasokan air mencukupi. Musim kemarau diprediksi masih berlangsung dua bulan ke depan, jadi masyarakat diminta waspada dan menghemat air,” kata Kepala Pelaksana BPBD Garut, Ahmad Faisal, saat dikonfirmasi via telepon.
Fenomena serupa juga terjadi di Nusa Tenggara Timur dan sebagian Jawa Tengah. Di Rembang, para relawan bahkan harus berjalan kaki menuju sumber mata air tersisa yang debitnya terus menyusut. Ironisnya, di saat yang sama, penjualan galon air minum isi ulang justru meningkat tajam di daerah perkotaan yang belum terdampak parah.
Antara Semangat Sekolah dan Daya Tahan Lingkungan
Dua peristiwa ini menjadi pengingat bahwa Indonesia sedang menghadapi dua agenda penting secara bersamaan: mempersiapkan generasi muda melalui pendidikan dan memastikan ketahanan sumber daya alam di tengah perubahan iklim. Bagi para orang tua di perkotaan, menyambut tahun ajaran baru adalah rutinitas tahunan yang penuh semangat, namun bagi warga terdampak kekeringan, mempertahankan kehidupan sehari-hari saja sudah menjadi perjuangan.
Pemerintah melalui dinas pendidikan dan dinas sosial diharapkan bisa mengakali situasi ini dengan program bantuan siswa dari keluarga kurang mampu di daerah rawan air bersih. Program seperti penyediaan tempat cuci tangan portabel dan tangki air di sekolah-sekolah menjadi solusi sementara yang bisa ditingkatkan.
Ahli hidrologi dari Institut Teknologi Bandung, Dr. Rina Wahyuni, mengingatkan bahwa krisis air bersih saat kemarau adalah siklus yang bisa diprediksi, sehingga antisipasi melalui pembangunan embung dan sumur resapan mutlak dilakukan. “Kita tidak bisa terus-menerus mengandalkan bantuan tangki air. Saatnya berinvestasi pada infrastruktur penampungan air hujan dan restorasi daerah tangkapan air,” tegasnya.
Sembari menunggu langkah besar itu, pemandangan antrean di toko alat tulis dan antrean di depan truk tangki air masih akan terus menghiasi wajah negeri. Dua realitas yang berkisah tentang harapan dan perjuangan hidup yang tak pernah henti.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa di balik keceriaan membeli kotak pensil baru, ada anak-anak seusia mereka yang justru harus berjalan jauh membawa ember air untuk sekadar minum.[SOCIAL_TWEET]: Sementara ortu di kota buru-buru beli buku dan pensil sambut tahun ajaran baru, di desa lain warga antre air bersih dari truk BPBD. Potret kontras Indonesia di musim kemarau. #TahunAjaranBaru #KrisisAir #IndonesiaKering[SOCIAL_TG]: ✏️ Di Bandung, ortu serbu toko buku. 🚛 Di Garut, truk tangki air jadi tumpuan. Dua kisah satu negeri saat kemarau tiba.
Comments (0)