SURABAYA — PT United Tractors Tbk (UT), anak usaha PT Astra International Tbk, menggelar Training of Trainers (ToT) Kampung Tangguh Bencana (KATANA) bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Program berlangsung selama
lima hari, tepatnya pada
22–26 Juni 2026, bertempat di UT School Surabaya, Jawa Timur. Pelatihan ini menjadi instrumen strategis Grup Astra dalam memperkuat kapasitas masyarakat desa agar tangguh, responsif, dan mandiri menghadapi ancaman bencana.
Sebanyak
delapan desa binaan UT mengirimkan kader Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) sebagai peserta, yakni Desa Sumbergondo, Tulungrejo, Giripurno, Mojorejo, Gumingsir, Tawangargo, Aribaya, dan Sumbermujur. Selain itu, perwakilan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dari
Kabupaten Malang, Kota Batu, Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Lumajang, serta BPBD Provinsi Jawa Timur turut dilibatkan sebagai mitra strategis. Kolaborasi multipihak ini dirancang untuk memperkuat sinergi pengurangan risiko bencana di tingkat tapak.
Direktur UT, Himawan, menyatakan bahwa pelatihan ini bertujuan membentuk fasilitator lokal yang mampu menggerakkan kesiapsiagaan di komunitas. “Kami percaya bahwa masyarakat yang memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam mitigasi bencana akan lebih siap menghadapi berbagai risiko, sehingga desa binaan dapat tumbuh menjadi wilayah yang lebih tangguh, mandiri, dan berdaya,” ujarnya. Materi yang disampaikan fasilitator BNPB mencakup pengurangan risiko bencana, mitigasi, kesiapsiagaan, dan respons tanggap darurat.
Metode pembelajaran menggabungkan
pre-test, penyampaian materi, role play, dan simulasi secara tatap muka penuh. Pendekatan ini memastikan peserta tidak sekadar menguasai teori, tetapi juga mampu menerapkan keterampilan dalam situasi nyata. Output yang diharapkan adalah terbentuknya kader pelatih yang siap mereplikasi pengetahuan kepada warga di desa masing-masing, sehingga budaya sadar bencana mengakar di level komunitas.
Analisis Program: Dari Pelatihan ke Ketangguhan Kolektif
Penyelenggaraan ToT KATANA mencerminkan pergeseran paradigma penanggulangan bencana dari respons reaktif menuju penguatan kapasitas proaktif. Dengan menempatkan kader desa sebagai ujung tombak, UT dan BNPB mendesain rantai distribusi pengetahuan yang berkelanjutan. Delapan desa yang dilibatkan memiliki karakteristik geografis beragam, sehingga replikasi modul pelatihan oleh kader lokal menjadi kunci efektivitas program. Keterlibatan BPBD multi-kabupaten juga memperluas jangkauan koordinasi kelembagaan, menciptakan ekosistem kesiapsiagaan yang tidak bergantung pada satu simpul komando.
Dari perspektif
community resilience, pelatihan ini membangun tiga pilar sekaligus: pengetahuan risiko, kapasitas respons, dan kepemimpinan lokal. Model role play dan simulasi yang diterapkan terbukti efektif dalam studi-studi pengurangan risiko bencana karena memadukan kognisi dan pengalaman psikomotorik. Namun, tantangan utama tetap terletak pada konsistensi pendampingan pasca-pelatihan. Tanpa monitoring dan penyegaran berkala, keterampilan yang diperoleh berisiko mengalami degradasi dalam waktu enam bulan.
| Aspek | ToT KATANA | Pendekatan Konvensional |
| Fasilitator | BNPB langsung | Relawan lokal tanpa standardisasi |
| Metode | Teori + role play + simulasi | Ceramah satu arah |
| Cakupan Peserta | 8 desa + 4 BPBD | Terbatas pada satu wilayah administrasi |
| Output | Kader fasilitator | Peserta pasif |
Program ini juga memperlihatkan komitmen Grup Astra dalam mengintegrasikan tanggung jawab sosial ke dalam kerangka pembangunan berkelanjutan. Dengan menjadikan UT School sebagai pusat pelatihan, UT tidak hanya menyediakan fasilitas fisik, tetapi juga membangun reputasi sebagai korporasi yang menjadikan keselamatan komunitas sebagai bagian dari rantai nilai bisnis. Kolaborasi dengan BNPB memberikan legitimasi teknis dan akses ke sumber daya pengetahuan nasional yang sulit ditandingi program CSR korporasi pada umumnya.
Comments (0)