Suasana di halaman Gedung Rektorat Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya mendadak riuh dan dipenuhi gelombang massa berjaket almamater, Rabu (16/9). Ribuan mahasiswa UINSA turun ke jalan menggelar aksi demonstrasi besar-besaran untuk menolak rencana pengangkatan kembali Prof. Akh. Muzakki sebagai Rektor UINSA untuk periode kedua. Sambil membentangkan belasan spanduk kritik, massa mengepung area rektorat sejak pagi hari.
Orasi demi orasi menyuarakan ketidakpuasan atas kepemimpinan di periode sebelumnya. Yel-yel perlawanan terus bergema diiringi kibaran bendera organisasi kemahasiswaan. Massa aksi menilai bahwa kepemimpinan dua periode tanpa evaluasi menyeluruh hanya akan memperburuk iklim akademik serta membatasi ruang demokrasi di lingkungan kampus keagamaan negeri tersebut.
Gelombang Penolakan di Kampus Hijau
Aksi penolakan ini merupakan puncak dari akumulasi kekecewaan para mahasiswa terhadap berbagai kebijakan internal kampus. Koordinator aksi dalam orasinya menegaskan bahwa penolakan terhadap rektor bertahan bukan semata-mata persoalan personal, melainkan keprihatinan mendalam atas kemunduran transparansi tata kelola perguruan tinggi.
"Kami datang bukan untuk menjatuhkan personal, tetapi menuntut keadilan akademik dan tata kelola yang demokratis. Kepemimpinan dua periode tanpa perbaikan signifikan hanya akan mencederai semangat reformasi di kampus hijau ini," tegas salah seorang koordinator lapangan saat menyampaikan aspirasi dari atas mobil komando.
Mahasiswa menilai selama masa jabatan periode pertama, komunikasi antara pihak rektorat dan lembaga kemahasiswaan cenderung tersumbat. Berbagai aspirasi mengenai perbaikan fasilitas pembelajaran, kebebasan berpendapat, hingga keterbukaan informasi anggaran dirasa tidak pernah mendapatkan respons yang memadai.
Tuntutan Evaluasi dan Transparansi Tata Kelola
Salah satu poin krusial yang diusung dalam aksi ini adalah desakan untuk melakukan evaluasi total terhadap kebijakan Uang Kuliah Tunggal (UKT) serta sistem pengelolaan keuangan kampus. Mahasiswa menyoroti masih banyaknya peserta didik dari kalangan kurang mampu yang kesulitan mengakses keringanan biaya studi di tengah klaim peningkatan mutu institusi.
Berikut adalah perbandingan poin tuntutan aliansi mahasiswa UINSA terhadap kondisi kepemimpinan kampus saat ini:
| Fokus Isu | Tuntutan Mahasiswa | Kritik Kondisi Saat Ini |
|---|---|---|
| Transparansi Kepemimpinan | Keterbukaan proses pemilihan rektor dan anggaran kampus | Proses penetapan dinilai tertutup dari partisipasi publik kampus |
| Kebijakan UKT | Evaluasi ulang skala UKT dan kemudahan skema keringanan | Beban ekonomi mahasiswa tinggi tanpa mekanisme asistensi yang fleksibel |
| Kebebasan Akademik | Jaminan kebebasan berpendapat bagi kelembagaan mahasiswa | Adanya kekhawatiran atas pengetatan dan pembatasan aktivitas kritis |
Desakan Kepada Kementerian Agama
Tak hanya menyasar pihak rektorat, massa aksi juga melayangkan desakan tegas kepada Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia selaku instansi pembina UINSA Surabaya. Mahasiswa meminta Menteri Agama untuk tidak terburu-buru melantik kembali Akh. Muzakki sebelum dilakukan audiensi terbuka dan evaluasi independen terkait kinerja kepemimpinannya.
Mahasiswa menegaskan jika aspirasi mereka diabaikan oleh kementerian, gelombang protes yang lebih besar akan kembali digelar di Surabaya maupun Jakarta. Penolakan ini menjadi sinyal kuat bahwa sivitas akademika UINSA mendesak hadirnya penyegaran kepemimpinan demi menjaga marwah perguruan tinggi Islam negeri tersebut. Hingga aksi berakhir pada sore hari, massa berikrar akan terus mengawal proses penentuan posisi rektor hingga tuntutan mereka dipenuhi.
Comments (0)