Di tengah deru mesin kereta api modern yang melintas di jalur Sumatera Utara, bangunan tua berarsitektur khas kolonial itu tetap berdiri kokoh. Stasiun Lidah Tanah, sebuah cagar budaya transportasi yang dibangun pertama kali pada tahun 1902, kini kembali memancarkan pesonanya. Bangunan bersejarah yang sempat sepi ini belakangan menyaksikan geliat kehidupan baru seiring meningkatnya animo masyarakat untuk memanfaatkan moda transportasi rel. Suasana peron yang hangat di pagi hari kembali diwarnai oleh lalu lalang warga lokal, pedagang, hingga pekerja yang menggantungkan mobilitas harian mereka pada keandalan ular besi.
Kembalinya kejayaan stasiun berusia lebih dari satu abad ini bukan sekadar cerita sentimental tentang masa lalu. Data operasional terbaru menunjukkan tren positif yang sangat signifikan dalam volume pengguna jasa transportasi kereta api di kawasan tersebut.
Catatan Tren Positif dan Lonjakan Penumpang 2026
Berdasarkan catatan kinerja operasional hingga bulan Agustus 2026, Stasiun Lidah Tanah telah melayani sebanyak 6.047 penumpang. Angka ini mencerminkan lonjakan impresif sebesar 20 persen jika dibandingkan dengan rata-rata bulanan pada periode tahun 2025. Peningkatan ini dipicu oleh perbaikan layanan, ketepatan waktu perjalanan, serta kemudahan aksesibilitas yang terus ditingkatkan oleh pihak pengelola.
| Indikator Kinerja | Tahun 2025 (Rata-rata Bulanan) | Tahun 2026 (Hingga Agustus) | Pertumbuhan |
|---|---|---|---|
| Volume Penumpang | ~5.039 penumpang | 6.047 penumpang | +20% |
| Ketepatan Waktu (OTP) | 94% | 98% | +4% |
Peningkatan drastis ini menandakan bahwa Stasiun Lidah Tanah tidak lagi sekadar menjadi saksi bisu sejarah perkeretaapian masa lalu, melainkan telah bertransformasi menjadi simpul transportasi yang sangat vital bagi mobilitas harian masyarakat di sekitarnya.
Merawat Jejak Sejarah Sejak 1902
Didirikan pada tahun 1902 oleh pemerintah kolonial melalui perusahaan rel Deli Spoorweg Maatschappij (DSM), Stasiun Lidah Tanah memiliki keunikan arsitektur yang dipertahankan hingga kini. Dinding kayu berpola klasik dan struktur atap yang khas memberikan nuansa nostalgia tersendiri bagi setiap penumpang yang menginjakkan kaki di peronnya.
"Kami berkomitmen untuk mempertahankan nilai sejarah Stasiun Lidah Tanah tanpa mengesampingkan aspek keselamatan dan kenyamanan penumpang modern. Lonjakan penumpang hingga 20 persen ini bukti bahwa warisan sejarah dan efisiensi transportasi publik bisa berjalan berdampingan secara harmonis," ujar perwakilan PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divre I Sumatera Utara.
Upaya konservasi yang dipadukan dengan digitalisasi sistem tiket telah membuat stasiun uzur ini tetap relevan di tengah pesatnya perkembangan zaman. Pengguna jasa kini dapat dengan mudah memesan tiket secara daring sebelum menikmati atmosfer sejarah di stasiun.
Solusi Bebas Macet dan Pilihan Utama Komuter
Selain faktor nostalgia dan kenyamanan, tingginya kepadatan lalu lintas di jalan raya antar-kota menjadi dorongan utama masyarakat beralih ke kereta api. Waktu tempuh yang terukur serta biaya perjalanan yang relatif lebih terjangkau menjadikan rel sebagai jalur nadi utama perekonomian lokal.
"Naik kereta dari Stasiun Lidah Tanah jauh lebih hemat waktu dan tenaga dibanding harus menembus kemacetan di jalan utama. Fasilitasnya sekarang jauh lebih bersih dan teratur, membuat kami para komuter harian merasa sangat terbantu," ungkap Rahmad (42), salah seorang penumpang setia.
Dengan tren peningkatan yang terus menunjukkan grafik positif hingga kuartal ketiga tahun 2026, pengelola optimis Stasiun Lidah Tanah akan terus menjadi salah satu pilar penopang konektivitas wilayah Sumatera Utara. Integrasi moda transportasi masa depan yang ramah lingkungan dan berbasis sejarah kini terbukti nyata di peron tua berusia 124 tahun ini.
Comments (0)