SMPIT Al-Quran Bina Insan Kragilan Lahirkan Generasi Qurani dari Saung Sederhana

Perjalanan panjang sebuah lembaga pendidikan Islam di pelosok Kragilan, Banten, menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan halangan untuk mencetak generasi Qur

Jul 12, 2026 - 16:25
0 0

Perjalanan panjang sebuah lembaga pendidikan Islam di pelosok Kragilan, Banten, menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan halangan untuk mencetak generasi Qurani. SMPIT Al-Quran Bina Insan Kragilan, yang berdiri sejak tahun 2018, memulai semuanya dari nol: tanpa gedung sendiri, tanpa izin operasional, dan hanya dengan enam guru yang mengajar 12 siswa. Namun, berkat keikhlasan dan visi kuat pendirinya, Ustad Sucipto, sekolah ini terus bertumbuh dan kini menjadi rujukan pendidikan berbasis Al-Quran di wilayahnya.

Berdiri di Tengah Keterbatasan (2018–2020)

Sekolah ini pertama kali digagas oleh Ustad Sucipto bersama jajaran pengurus Yayasan Bina Insan Kragilan. Tujuannya jelas: melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berakhlak mulia, cinta Al-Quran, dan siap menghadapi tantangan zaman. Karena minimnya dana dan SDM, pada dua tahun pertama kegiatan belajar mengajar (KBM) terpaksa bergabung dengan SDIT Bina Insan yang sudah lebih dulu ada.

Hingga tahun 2020, SMPIT Al-Quran Bina Insan Kragilan belum memiliki gedung sendiri. Enam orang guru—yang saat itu merangkap berbagai peran—mengajar 12 peserta didik di ruang-ruang kelas milik SDIT. Mereka mengajar dengan penuh pengabdian, tanpa banyak berharap imbalan besar. “Kami sadar ini adalah ladang amal. Kami ingin anak-anak ini dekat dengan Al-Quran, bukan sekadar bisa membaca,” ujar salah satu guru yang enggan disebutkan namanya, mengenang masa-masa awal.

“Kami tidak punya apa-apa saat itu, tapi kami punya niat dan semangat. Itu cukup untuk memulai.” – Ustad Sucipto, Pendiri SMPIT Al-Quran Bina Insan Kragilan.

Pindah ke Kampung Sadang Lor: Saung Jadi Saksi Perjuangan (2020–2022)

Tahun 2020 menjadi tonggak penting. Yayasan akhirnya mendapatkan lahan di Kampung Sadang Lor, Desa Pematang, sekitar 3 kilometer dari lokasi SDIT. Di tanah yang masih berupa kebun itu, para guru dan masyarakat bergotong royong membangun saung-saung bambu sederhana sebagai ruang belajar. Hanya dalam beberapa pekan, berdirilah tiga saung beratap rumbia yang menjadi tempat menuntut ilmu bagi para santri.

Proses pembelajaran di saung bambu bukan tanpa tantangan. Saat hujan deras, air kerap menetes dari atap, sementara angin kencang membuat suasana belajar kurang nyaman. Namun, hal itu justru menempa mental para siswa. “Anak-anak belajar arti kesederhanaan dan perjuangan. Mereka tidak mengeluh, justru semakin semangat menghafal Al-Quran,” ungkap Ustad Sucipto.

Di tengah fasilitas serba terbatas, program tahfiz Al-Quran menjadi unggulan. Setiap pagi, sebelum pelajaran umum dimulai, para siswa diwajibkan menyetorkan hafalan baru atau mengulang hafalan kepada guru pembimbing. Metode ini perlahan membuahkan hasil, terbukti dari meningkatnya jumlah santri yang mampu menghafal beberapa juz dalam waktu singkat.

Dari Saung ke Panggung Prestasi (2022–2024)

Memasuki tahun pelajaran 2022/2023, SMPIT Al-Quran Bina Insan Kragilan mulai menampakkan hasil kerja kerasnya. Beberapa siswa berhasil menjuarai lomba tahfiz tingkat kecamatan, dan puncaknya pada tahun 2023, seorang santri meraih peringkat kedua Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Kabupaten Serang. Prestasi ini sempat mengangkat nama sekolah ke level provinsi.

Tak hanya bidang keagamaan, siswa-siswi di sekolah ini juga unggul di bidang akademik. Tim sains sekolah berhasil menyabet juara 3 Olimpiade IPA tingkat Banten pada tahun 2024, sesuatu yang sulit dibayangkan mengingat minimnya laboratorium. “Kami memanfaatkan alam sebagai laboratorium. Anak-anak praktik langsung di kebun dan sawah sekitar,” kata salah seorang guru IPA.

Keberhasilan ini tak lepas dari model pendidikan karakter yang diterapkan. Sekolah menerapkan sistem pondok (boarding) secara terbatas, di mana siswa tinggal di asrama sederhana yang juga terbuat dari bambu. Di sana, mereka dididik untuk mandiri, disiplin, dan mengamalkan akhlak mulia sepanjang hari.

  • Program Unggulan: Tahfiz Al-Quran (target hafalan minimal 3 juz saat lulus), Bahasa Arab dan Inggris, serta keterampilan wirausaha berbasis potensi lokal.
  • Ekstrakurikuler: Marching band, pramuka, dan pencak silat sebagai sarana pembentukan karakter.

Menatap Masa Depan: Dari Saung Menuju Sekolah Percontohan

Saat ini, SMPIT Al-Quran Bina Insan Kragilan tengah merancang pembangunan gedung permanen di atas lahan wakaf seluas 1.500 meter persegi. Rencana induk mencakup ruang kelas berstandar, laboratorium mini, masjid, dan asrama yang lebih layak. Yayasan bersama orang tua siswa aktif menggalang dana melalui program “Satu Bata untuk Generasi Qurani”.

“Kami ingin menjadi sekolah percontohan di Banten yang melahirkan generasi penghafal Quran sekaligus pemimpin masa depan. Mimpi itu besar, tapi kami optimistis,” ujar Ustad Sucipto menutup perbincangan.

Dari saung bambu di sudut desa, kisah SMPIT Al-Quran Bina Insan Kragilan memberi pelajaran bahwa pendidikan berkualitas tidak selalu lahir dari gedung megah. Keterbatasan justru menjadi kawah candradimuka yang menempa semangat dan keikhlasan. Kini, sekolah itu terus menapaki jalan perjuangan, berharap kelak sanggup melahirkan generasi Qurani yang tidak hanya berakhlak mulia, tetapi juga mengukir prestasi di kancah nasional.

[SOCIAL_TWEET]: Dari saung bambu di kampung, SMPIT Al-Quran Bina Insan Kragilan lahirkan generasi Qurani berprestasi. Perjuangan sejak 2018, tanpa gedung dan fasilitas, tetap melahirkan juara MTQ dan Olimpiade IPA. #PendidikanIslam #SekolahSaung #GenerasiQurani[SOCIAL_TG]: 📚 Dari saung sederhana, SMPIT Al-Quran Bina Insan Kragilan mencetak generasi Qurani berprestasi. Baca perjalanannya di sini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User