Senne Lammens Tertunduk Lesu Usai Belgia Tersingkir dari Spanyol

Stadion MetLife di New Jersey masih bergemuruh, tapi sudut gawang Belgia sunyi. Di sanalah Senne Lammens, kiper berusia 24 tahun yang sempat jadi pahlawan

Senne Lammens Tertunduk Lesu Usai Belgia Tersingkir dari Spanyol

Stadion MetLife di New Jersey masih bergemuruh, tapi sudut gawang Belgia sunyi. Di sanalah Senne Lammens, kiper berusia 24 tahun yang sempat jadi pahlawan fase grup, tertunduk lesu. Belgia kalah tipis 1-2 dari Spanyol di perempat final Piala Dunia 2026, dan Lammens tahu satu momen kelengahan mengubur asa seluruh negeri.

Malam itu, wajah Lammens menjadi cermin ribuan pendukung Belgia di tribun: kosong, muram, dan penuh penyesalan. Ia berdiri di sisi gawangnya, menatap rumput yang baru saja menjadi saksi bisu terhentinya langkah “Setan Merah”.

Pertarungan Hingga Menit Akhir

Belgia tampil solid sejak peluit pertama. Formasi 3-4-3 arahan pelatih baru, Domenico Tedesco, mampu meredam agresivitas Spanyol yang dimotori Pedri dan Lamine Yamal. Hingga menit ke-63, Lammens beberapa kali melakukan penyelamatan krusial. Namun, sepak bola sering kali dihukum oleh detail terkecil.

Gol pembuka Spanyol lahir dari situasi bola mati yang kontroversial. Tendangan sudut Dani Olmo meluncur deras ke tiang dekat. Lammens berusaha meninju, tetapi pergerakan Nico Williams di depannya membuat pandangan terhalang. Bola justru mengenai punggung pemain Belgia dan bergulir ke gawang. Gol bunuh diri yang tragis.

Lammens memukul tanah, tapi ia segera bangkit.

“Saya pikir saya bisa menjangkau bola itu, tapi ada kontak kecil. Ini sepak bola. Kadang keberuntungan tidak berpihak,” ujarnya pasca laga dengan suara bergetar.

Momen yang Menghantui

Setelah menyamakan kedudukan lewat sundulan Romelu Lukaku di menit 77, Belgia justru kecolongan lima menit menjelang waktu normal usai. Serangan balik kilat Spanyol berujung umpan terobosan Pedri ke Yamal. Dengan dingin, Yamal melewati Lammens yang terpancing maju, lalu menceploskan bola ke gawang kosong. Kesalahan posisi yang mahal.

Di layar raksasa stadion, rekaman momen itu diputar ulang. Sorakan suporter Spanyol bercampur keheningan pendukung Belgia. Lammens menunduk, kedua tangannya bertumpu di lutut, seolah ingin menghilang. Ia menjadi simbol patah hati kolektif malam itu.

Perjalanan yang Tak Tergantikan

Piala Dunia 2026 menjadi turnamen pembuktian bagi Lammens. Mantan kiper tim muda Club Brugge itu baru menjadi pilihan utama setelah Thibaut Courtois mundur dari timnas karena perselisihan internal pada 2024. Di fase grup, Lammens mencatat dua clean sheet, termasuk saat menghadapi Brasil, dan langsung dielu-elukan sebagai masa depan Belgia.

Namun, tekanan perempat final berbeda. Ekspektasi publik melonjak setelah Belgia menyingkirkan juara bertahan Argentina di babak 16 besar. “Mimpi itu terasa begitu dekat, sehingga rasanya lebih sakit ketika ia direnggut,” tulis analis RTBF, Marc Wilmots, dalam kolom khusus.

Ruangan Ganti yang Bisu

Usai peluit panjang dibunyikan, rekan setim berusaha menghibur Lammens. Kevin De Bruyne, yang tampaknya memainkan laga terakhirnya di Piala Dunia, memeluknya lama.

“Tidak ada kata yang bisa menghapus rasa sakit ini. Tapi kami sudah berjuang bersama, dan saya bangga pada tim ini, terutama padanya,” kata De Bruyne.

Lammens sendiri mendapat limpahan dukungan dari netizen meski sebagian melontarkan kritik pedas. Tagar #StayStrongSenne dan #WorldCup2026 bergema di media sosial, menunjukkan simpati publik terhadap beban yang ia tanggung.

Masa Depan di Depan Mata

Meski terpukul, banyak yang yakin Lammens akan bangkit. Di usianya yang masih 24 tahun, ia punya setidaknya dua hingga tiga edisi Piala Dunia lagi. Klubnya, RB Leipzig, juga mengonfirmasi akan terus memberikan pendampingan psikologis baginya. “Ini bagian dari proses menjadi kiper kelas dunia,” tegas Direktur Olahraga Leipzig, Rouven Schröder.

Perempat final ini bukan akhir, melainkan awal dari cerita panjang Lammens yang belum selesai ditulis. Rasa lesu malam itu akan berubah menjadi api untuk kembali. Karena di pundaknya, gawang Belgia akan terus berjaga.

[SOCIAL_TWEET]: Hati Senne Lammens hancur di MetLife. Satu kesalahan posisi antar Belgia pulang dari #PialaDunia2026. “Mimpi terasa dekat, makanya lebih menyakitkan,” katanya. Dukungan untuk kiper muda ini terus mengalir. #SenneLammens #BelgiumRedDevils #WorldCup2026[SOCIAL_TG]: 💔 Hancurnya hati Senne Lammens usai Belgia kalah 1-2 dari Spanyol. Kesalahan kecil di menit akhir mengubur mimpi. Tapi ini bukan akhir—dukungan terus mengalir. Baca selengkapnya ⚽️🇧🇪

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User