DENPASAR — Pertumbuhan aktivitas perekonomian dan geliat sektor usaha di Provinsi Bali kian menunjukkan tren positif. Hal ini tercermin dari lonjakan konsumsi energi listrik yang didorong oleh tingginya aktivitas para pelaku usaha, khususnya pelanggan segmen Tegangan Menengah (TM) di berbagai wilayah Pulau Dewata.
Berdasarkan data terbaru dari PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Bali, tercatat sebanyak 884 pelanggan TM aktif dengan total kapasitas daya tersambung mencapai 822,33 Mega Volt Ampere (MVA). Dari jumlah tersebut, akumulasi konsumsi listrik telah melampaui angka 1.131 Giga Watt hour (GWh).
Pertumbuhan Ditopang Sektor Pariwisata dan Industri
Pelanggan Tegangan Menengah tersebut mencakup beragam sektor strategis yang menjadi motor penggerak ekonomi Bali. Sektor-sektor utama penyumbang konsumsi energi terbesar meliputi:
- Perhotelan dan Akomodasi: Meningkatnya okupansi wisatawan domestik maupun mancanegara memicu operasional hotel berkapasitas besar.
- Pusat Perbelanjaan dan Mal: Aktivitas ritel modern yang terus berekspansi seiring pulihnya daya beli masyarakat.
- Fasilitas Kesehatan: Rumah sakit modern dengan kebutuhan suplai listrik berkeandalan tinggi secara kontinu.
- Sektor Industri, Transportasi, dan Logistik: Kegiatan pengolahan serta rantai pasok logistik yang kian padat.
Sinergi Sejak Tahap Perencanaan Usaha
General Manager PLN UID Bali, Ajrun Karim, menegaskan bahwa peningkatan kebutuhan listrik berbanding lurus dengan ekspansi bisnis para pelanggan. Oleh sebab itu, PLN berinisiatif untuk terlibat sejak awal tahap perencanaan proyek guna memastikan kesiapan pasokan infrastruktur kelistrikan.
“Setiap pelanggan memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda. Ada yang membutuhkan tambahan daya untuk ekspansi, peningkatan kualitas dan keandalan, elektrifikasi, penyediaan infrastruktur kendaraan listrik (EV), efisiensi energi, digitalisasi, hingga pemenuhan target energi hijau,” ujar Ajrun.
Keterlibatan proaktif PLN bertujuan agar tantangan teknis maupun operasional dapat dimitigasi lebih dini. Dialog komprehensif bersama pelaku usaha mencakup aspek keandalan pasokan, efisiensi operasional, hingga pencapaian target keberlanjutan lingkungan (ESG).
Pemanfaatan EBT dan Fleksibilitas Suplemen Daya
Selain memastikan keandalan pasokan energi konvensional, Bali memiliki potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) yang melimpah untuk mendukung transisi energi hijau. Potensi tersebut antara lain:
- Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS): Potensi mencapai lebih dari 4.000 MW.
- Pembangkit Listrik Tenaga Bayu/Angin (PLTB): Potensi lebih dari 1.000 MW.
- Mikrohidro dan Biomassa/Biogas: Masing-masing memiliki potensi lebih dari 200 MW.
Sementara itu, Senior Manager Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN UID Bali, Damayanti Wahyuningrum, menambahkan bahwa pelaku usaha kini memiliki alternatif fleksibel dalam mengelola konsumsi daya. Peningkatan kebutuhan operasional tidak selalu harus disikapi dengan penambahan daya permanen.
PLN menghadirkan skema Layanan Suplemen Daya, yaitu solusi pasokan listrik tambahan temporer yang dirancang khusus untuk mengakomodasi lonjakan kebutuhan pada periode tertentu atau musim puncak usaha tanpa membebani biaya investasi jangka panjang pelanggan.
Comments (0)