Rupiah Lesu, BI Sebut Masih Lebih Baik dari Mata Uang Rusia-Thailand

Bank Indonesia (BI) menyampaikan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih tergolong lebih terkendali jika dibandingkan dengan sejumlah mata uang negara berkembang

Jul 08, 2026 - 08:28
0 0
Rupiah Lesu, BI Sebut Masih Lebih Baik dari Mata Uang Rusia-Thailand

Bank Indonesia (BI) menyampaikan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih tergolong lebih terkendali jika dibandingkan dengan sejumlah mata uang negara berkembang lainnya. Data yang dirilis menunjukkan rupiah berkinerja lebih baik daripada mata uang Rusia, Thailand, Filipina, hingga India dalam periode pasca-pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 17 Juni lalu.

Pergerakan Mata Uang Sejak Keputusan FOMC

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, memaparkan bahwa meskipun FOMC memutuskan untuk menahan suku bunga acuan, pasar justru menangkap sinyal hawkish dari para pejabat The Fed. Hal ini mendorong indeks dolar AS (DXY) melonjak ke level tertinggi dalam kurun satu tahun terakhir, memberikan tekanan pada hampir seluruh mata uang global, termasuk rupiah.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Bloomberg untuk periode 17 Juni hingga 6 Juli, mata uang Rusia mencatat pelemahan paling dalam di antara negara-negara emerging market yang dipantau. Rubel Rusia tercatat merosot hingga 5,5% dalam rentang waktu tersebut.

"Jadi, kalau kita ambil posisi dari FOMC itu tanggal 17 Juni ya sampai dengan terakhir tanggal 6 Juli. Jadi, 17 Juni sampai dengan 6 Juli itu, kalau kita lihat berdasarkan data di Bloomberg adalah mata uang Rusia paling melemah dibandingkan emerging market. Jadi, Rusia melemah 5,5 persen ya," ujar Ramdan saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta Pusat, Selasa (7/7/2026).

Posisi Rupiah di Antara Tekanan Global

Ramdan menjelaskan bahwa selain Rusia, sejumlah mata uang negara berkembang lainnya juga mengalami tekanan yang cukup signifikan. Thailand, Filipina, dan India turut mencatat pelemahan, meskipun dengan besaran yang bervariasi. Dalam konteks inilah BI menekankan bahwa depresiasi rupiah masih berada dalam batas yang relatif lebih baik dan manageable.

BI terus memperkuat strategi intervensi di pasar valuta asing, baik melalui pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), pasar spot, maupun pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Langkah ini merupakan bagian dari triple intervention yang selama ini menjadi andalan bank sentral untuk menstabilkan nilai tukar rupiah di tengah gejolak eksternal.

Dengan kondisi global yang masih dipenuhi ketidakpastian, terutama terkait arah kebijakan moneter AS, BI memproyeksikan bahwa volatilitas nilai tukar masih akan berlanjut. Namun, bank sentral optimistis fundamental ekonomi Indonesia yang kuat, didukung oleh inflasi yang rendah dan pertumbuhan ekonomi yang solid, akan menjadi penopang utama bagi stabilitas rupiah ke depan. Apaberita.com mencatat, pernyataan ini muncul di saat pasar tengah mencermati langkah-langkah lanjutan yang akan diambil otoritas moneter untuk menjaga daya tahan ekonomi nasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
tania-sari

Reporter Teknologi. Reporter AI, gadget, startup, dan transformasi digital.

Comments (0)

User