Profil Sanitiar Burhanuddin: Perjalanan Jaksa Karier dari Lampung ke Puncak Kejaksaan Agung
Mengenal lebih dekat sosok Sanitiar Burhanuddin, Jaksa Agung RI yang telah mengabdi lebih dari 35 tahun di Kejaksaan. Dari anak petani di Kalirejo hingga memimpin institusi penegak hukum tertinggi.
Sanitiar Burhanuddin bukanlah nama yang sering muncul di pemberitaan sensasional. Ia bukan tipe jaksa yang gemar tampil di depan kamera atau mengumbar pernyataan kontroversial. Namun di balik sikapnya yang tenang dan terukur, tersimpan rekam jejak panjang seorang jaksa karier sejati yang telah menghabiskan lebih dari tiga setengah dekade di institusi Kejaksaan. Lahir di Kalirejo, Lampung Tengah pada 15 Maret 1958, Sanitiar kecil tumbuh di lingkungan sederhana. Ayahnya adalah seorang petani penggarap yang penghasilannya tidak menentu. Namun satu hal yang selalu ditanamkan keluarganya: pendidikan adalah jalan keluar dari keterbatasan. Sanitiar muda menempuh pendidikan hukum di Universitas Lampung.
\\n\\nPilihannya masuk Fakultas Hukum bukan karena ambisi menjadi orang terkenal, melainkan karena keyakinan bahwa hukum adalah alat untuk menegakkan keadilan bagi rakyat kecil — keyakinan yang terus ia pegang hingga hari ini. Tahun 1983 menjadi titik awal karier panjangnya di Kejaksaan. Sebagai jaksa muda yang baru lulus, ia ditempatkan di Kejaksaan Negeri di Sumatera. Tugas-tugas awal ini membentuk pemahamannya tentang realitas hukum di akar rumput: bagaimana rakyat kecil berhadapan dengan sistem peradilan yang rumit, bagaimana oknum-oknum tertentu memanfaatkan celah hukum untuk kepentingan pribadi. Dari sini ia terus naik. Tahun 1990-an, Sanitiar mulai dipercaya menduduki posisi-posisi penting.
\\n\\nIa bertugas di berbagai Kejaksaan Negeri, mulai dari yang kecil hingga yang besar. Setiap penempatan memberinya pengalaman baru dan memperluas jaringannya di dunia hukum. Titik balik kariernya terjadi pada era 2000-an. Sanitiar diangkat sebagai Asisten Intelijen Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara. Posisi ini memberinya akses untuk memahami sisi lain penegakan hukum: intelijen, pencegahan, dan strategi penindakan. Di sinilah ia mulai dikenal sebagai jaksa yang cerdas, tenang, dan tidak mudah terpancing emosi. Kariernya terus menanjak. Ia menjabat sebagai Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, kemudian menjadi Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara.
\\n\\nSetiap posisi yang ia duduki memberinya pemahaman yang semakin komprehensif tentang sistem peradilan Indonesia. Puncaknya, ia diangkat menjadi Jaksa Agung Muda Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara. Di posisi ini, Sanitiar menangani kasus-kasus perdata yang melibatkan kepentingan negara — mulai dari sengketa tanah, kontrak internasional, hingga arbitrase. Kasus-kasus ini tidak kalah kompleks dari kasus pidana, dan seringkali melibatkan nilai yang sangat besar. Pada 23 Oktober 2019, Presiden Joko Widodo melantiknya sebagai Jaksa Agung Republik Indonesia. Seorang anak petani dari Lampung kini memimpin lebih dari 10.000 jaksa di seluruh Indonesia.
\\n\\nBukan karena koneksi politik atau kedekatan dengan kekuasaan, melainkan karena dedikasi, integritas, dan pengalaman yang telah teruji selama 35 tahun. Di bawah kepemimpinannya, Kejaksaan Agung menangani berbagai kasus besar yang menjadi sorotan nasional. Mulai dari mega korupsi Jiwasraya dan Asabri, kasus Djoko Tjandra yang melibatkan oknum internal, hingga penanganan kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu. Setiap langkahnya selalu diiringi oleh prinsip yang ia pegang teguh: bekerja dengan senyap, hasil yang bicara. Sanitiar juga mendorong reformasi internal. Ia menerapkan sistem manajemen perkara digital untuk meningkatkan transparansi dan mengurangi celah korupsi.
\\n\\nIa juga memperkenalkan pendekatan restorative justice untuk kasus-kasus ringan, memberikan kesempatan bagi pelaku untuk memperbaiki diri tanpa harus merasakan dinginnya jeruji besi. Kini, setelah lebih dari 35 tahun mengabdi, Sanitiar Burhanuddin masih terus bekerja. Tidak banyak bicara, tidak banyak pencitraan. Ia hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang jaksa: menegakkan hukum, membela keadilan, dan melayani rakyat. Sebuah kisah tentang ketekunan, kerja keras, dan integritas yang layak menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia.\n
Di luar urusan pekerjaan, Sanitiar dikenal sebagai pribadi yang sangat menjaga kehidupan keluarga. Ia menikah dengan seorang guru dan dikaruniai tiga orang anak. Dalam beberapa kesempatan langka saat berbicara di forum internal Kejaksaan, ia kerap menekankan pentingnya keseimbangan antara karier dan keluarga. "Jaksa yang baik dimulai dari rumah tangga yang baik," begitu prinsip yang sering ia sampaikan kepada jaksa-jaksa muda. Keluarganya sendiri mengaku jarang melihat Sanitiar di rumah pada jam kerja normal — ia dikenal sebagai pekerja keras yang sering pulang larut malam, terutama saat menangani kasus-kasus besar. Namun setiap akhir pekan, ia selalu menyempatkan waktu untuk makan bersama keluarga, sebuah ritual yang tidak pernah ia lewatkan kecuali benar-benar mendesak.
\n\nSanitiar juga dikenal sebagai mentor yang baik bagi generasi muda jaksa. Ia sering mengadakan sesi diskusi informal dengan jaksa-jaksa junior di kantornya, berbagi pengalaman tentang bagaimana menangani kasus dengan integritas tanpa harus kehilangan nyali. Salah satu nasihatnya yang paling diingat oleh para juniornya adalah: "Jangan pernah takut pada terdakwa yang punya uang banyak atau koneksi tinggi. Satu-satunya yang harus kita takuti adalah Tuhan dan hati nurani kita sendiri." Nasihat ini bukan sekadar retorika — ia membuktikannya sendiri ketika harus berhadapan dengan para tersangka kelas kakap dalam kasus Jiwasraya dan Asabri. Tidak sedikit yang mencoba menawarkan "jalan damai" melalui berbagai saluran, namun Sanitiar tetap pada pendiriannya. Integritas, baginya, bukan untuk dijual dengan harga berapa pun.
\nDi mata para kolega dan bawahannya, Sanitiar dikenal memiliki disiplin waktu yang luar biasa. Dalam rapat-rapat internal, ia hampir tidak pernah terlambat — sebuah kebiasaan yang ia bentuk sejak masih menjadi jaksa muda. "Kalau kita terlambat lima menit untuk sidang, hakim bisa menunda perkara. Itu bisa merugikan klien kita — dalam hal ini rakyat dan negara," begitu logikanya. Ketegasannya soal waktu ini juga ia terapkan dalam tenggat penyelesaian berkas perkara. Ia tidak segan-segan menegur jaksa yang terlambat menyerahkan tuntutan atau dakwaan. Namun di balik ketegasannya, ia juga dikenal sebagai atasan yang peduli. Beberapa jaksa di daerah mengaku pernah menerima telepon langsung dari Sanitiar yang menanyakan kondisi keluarga atau kendala yang mereka hadapi di lapangan. Sentuhan personal inilah yang membuat banyak jaksa loyal dan rela bekerja keras di bawah kepemimpinannya.
Comments (0)