Oct 13, 2026
Politik

Prabowo Terima Telepon di Tengah Rapat Kebakaran Hutan

JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto menerima panggilan telepon penting saat memimpin Rapat Koordinasi penanganan kebakaran hutan dan lahan di Istana Kepresidenan, Jakarta. Momen tersebut terekam dal...

Prabowo Terima Telepon di Tengah Rapat Kebakaran Hutan

JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto menerima panggilan telepon penting saat memimpin Rapat Koordinasi penanganan kebakaran hutan dan lahan di Istana Kepresidenan, Jakarta. Momen tersebut terekam dalam sesi rapat yang dihadiri sejumlah menteri Kabinet Merah Putih, kepala lembaga, serta jajaran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Berdasarkan keterangan yang dihimpun, panggilan tersebut masuk ketika Presiden tengah mendengarkan paparan mengenai perkembangan titik panas di sejumlah provinsi, terutama di wilayah Sumatra dan Kalimantan. Kepala Negara sempat menghentikan jalannya rapat selama beberapa menit untuk menerima laporan melalui sambungan telepon.

"Bapak Presiden menerima telepon terkait perkembangan situasi darurat kebakaran hutan yang memerlukan arahan langsung," ujar salah satu pejabat yang hadir dalam rapat, yang enggan disebutkan namanya karena belum berwenang memberikan keterangan resmi.

Setelah menerima panggilan tersebut, Presiden Prabowo kembali memimpin rapat dan menegaskan bahwa penanganan karhutla harus dilakukan secara terpadu lintas kementerian dan lembaga. Ia meminta seluruh jajaran untuk mengutamakan keselamatan masyarakat, sekaligus menjaga stabilitas ekosistem di wilayah terdampak.

Rapat Koordinasi Bahas Titik Panas

Dalam rapat tersebut, BMKG dilaporkan memaparkan data terkini mengenai sebaran titik panas di beberapa provinsi. Berdasarkan laporan itu, sejumlah wilayah masih berstatus siaga darurat karhutla karena curah hujan yang rendah dan suhu udara yang meningkat.

BNPB selaku koordinator penanganan bencana menyampaikan langkah-langkah yang telah dan akan dijalankan, termasuk pengerahan personel gabungan, operasi water bombing, serta modifikasi cuaca di daerah rawan. Presiden menekankan bahwa setiap keputusan harus berbasis data dan koordinasi yang rapi antarlembaga.

"Presiden meminta agar jangan ada ego sektoral. Semua harus bergerak dalam satu komando," kata pejabat tersebut.

Rapat itu juga membahas kesiapan pemerintah daerah dalam menetapkan status tanggap darurat. Pemerintah pusat meminta setiap kepala daerah menindaklanjuti laporan lapangan secara cepat agar penanganan tidak terlambat.

Presiden Minta Penegakan Hukum

Selain aspek operasional, Presiden Prabowo menegaskan pentingnya penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang diduga sengaja membuka lahan dengan cara membakar. Ia meminta aparat penegak hukum menindak tegas pelaku pembakaran hutan dan lahan, tanpa pandang bulu.

Menurutnya, kebakaran hutan tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mengganggu kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, dan hubungan diplomasi dengan negara tetangga akibat asap lintas batas.

"Presiden menekankan bahwa penegakan hukum harus menjadi efek jera. Tidak boleh ada pembiaran," ujar pejabat tersebut.

Pemerintah, lanjutnya, juga akan memperkuat pengawasan di wilayah konsesi dan kawasan hutan lindung. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan diminta berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memetakan area rawan dan mengawasi aktivitas perusahaan.

Instruksi Lanjutan dan Evaluasi

Di akhir rapat, Presiden Prabowo memberikan sejumlah instruksi lanjutan, termasuk percepatan bantuan bagi masyarakat terdampak serta penyiapan posko kesehatan dan distribusi masker di wilayah berkabut asap.

Ia juga meminta agar laporan perkembangan karhutla disampaikan secara berkala kepada Presiden, minimal setiap 24 jam. Evaluasi akan dilakukan secara berkala untuk memastikan seluruh kebijakan berjalan efektif.

Meski rapat sempat diwarnai momen panggilan telepon, sejumlah peserta menilai hal tersebut justru menunjukkan keseriusan Kepala Negara dalam mengawal penanganan bencana. Menurut mereka, Presiden ingin memastikan setiap laporan diterima dan ditindaklanjuti dengan cepat.

"Ini bukan sekadar rapat seremonial. Bapak Presiden ingin memastikan semua instrumen negara bergerak," pungkas pejabat tersebut.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS hendra-wijaya

Editor Politik. Mantan jurnalis cetak dengan spesialisasi politik elektoral. Menulis analisis kebijakan dan reportase parlemen.

Comments (0)

User