Prabowo Resmikan Lima Bendungan Strategis Senilai Rp9,79 Triliun
Presiden Prabowo Subianto meresmikan secara serentak lima bendungan strategis pada Kamis, 20 Maret 2025, dalam sebuah seremoni yang dipusatkan di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Total investasi pemban...
Presiden Prabowo Subianto meresmikan secara serentak lima bendungan strategis pada Kamis, 20 Maret 2025, dalam sebuah seremoni yang dipusatkan di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Total investasi pembangunan kelima infrastruktur pengelolaan sumber daya air tersebut mencapai Rp9,79 triliun, yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara serta skema pembiayaan kreatif.
Peresmian tersebut menandai rampungnya proyek Bendungan Cipanas di Sumedang, Bendungan Ciawi dan Sukamahi di Bogor, Bendungan Meninting di Lombok Barat, serta Bendungan Tiga Dihaji di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan. Presiden didampingi oleh Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo, Menteri Pertanian, dan sejumlah kepala daerah setempat.
Rincian Proyek Strategis
Bendungan Cipanas dibangun dengan investasi Rp2,5 triliun dan memiliki kapasitas tampung 108 juta meter kubik. Bendungan ini akan mengairi areal irigasi seluas 9.300 hektare di Kabupaten Sumedang dan Indramayu, sekaligus mereduksi risiko banjir di hilir Sungai Cipunagara. Sementara itu, Bendungan Ciawi menelan dana Rp1,8 triliun dan Bendungan Sukamahi Rp1,7 triliun. Keduanya merupakan bendungan kering (dry dam) yang dirancang sebagai bagian integral sistem pengendalian banjir Jakarta. Dengan kapasitas total menahan limpasan air dari hulu Sungai Ciliwung hingga 2,7 juta meter kubik, kedua bendungan ini menjadi komponen vital mitigasi bencana hidrometeorologi di kawasan Jabodetabek.
Di Nusa Tenggara Barat, Bendungan Meninting dibangun dengan nilai kontrak Rp1,2 triliun dan kapasitas tampung 11,5 juta meter kubik. Infrastruktur ini menyediakan air baku bagi 150.000 jiwa serta memperkuat ketahanan pangan melalui irigasi 1.100 hektare sawah. Adapun Bendungan Tiga Dihaji di Sumatera Selatan menjadi proyek dengan investasi terbesar, yakni Rp2,59 triliun. Bendungan multifungsi ini akan mengairi 16.000 hektare lahan pertanian dan dilengkapi pembangkit listrik tenaga air berkapasitas 2x3,2 megawatt yang akan memasok listrik bagi ribuan rumah tangga.
Manfaat Ekonomi dan Sosial
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa pembangunan bendungan bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan investasi jangka panjang untuk kedaulatan pangan dan air nasional. “Lima bendungan ini akan meningkatkan produktivitas pertanian secara signifikan. Dengan tambahan suplai air irigasi teknis, kita bisa menggenjot indeks pertanaman dari satu kali menjadi dua hingga tiga kali setahun di beberapa wilayah,” ujarnya. Presiden juga menyoroti potensi pengurangan impor beras hingga 15 persen dalam dua tahun ke depan berkat optimalisasi lahan irigasi baru yang dihasilkan dari proyek-proyek ini.
Data Kementerian Pekerjaan Umum menunjukkan bahwa kelima bendungan secara kumulatif akan menambah luas layanan irigasi sekitar 26.400 hektare dan menyediakan air baku bagi 1,2 juta penduduk. Manfaat tidak langsung meliputi penciptaan lapangan kerja selama fase konstruksi dan operasional, penggerakan ekonomi lokal, konservasi lingkungan melalui pengaturan tata air, serta pengurangan risiko banjir yang selama ini menjadi momok bagi permukiman di daerah hilir. Khusus untuk Bendungan Tiga Dihaji, komponen PLTA-nya akan menyumbang pasokan listrik bagi 12.000 rumah tangga di wilayah Sumatera Selatan, mendukung program elektrifikasi dan diversifikasi energi bersih.
Komitmen Infrastruktur Nasional
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menyatakan bahwa peresmian ini merupakan tonggak penting dalam peta jalan pengelolaan sumber daya air nasional. “Pemerintah telah mengidentifikasi 61 bendungan prioritas yang harus diselesaikan pada 2029. Hingga saat ini, 38 bendungan sudah beroperasi, sisanya dalam tahap konstruksi dan perencanaan,” jelasnya. Dody menambahkan bahwa total anggaran untuk seluruh bendungan tersebut mencapai Rp95 triliun, mencerminkan skala komitmen pemerintah terhadap sektor sumber daya air.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dan antarlembaga. Bendungan Ciawi dan Sukamahi, misalnya, merupakan hasil kolaborasi Kementerian PU, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dan Badan Pengelolaan DAS Citarum-Ciliwung. Pendekatan terintegrasi ini dinilai efektif menekan biaya pemeliharaan dan mempercepat realisasi proyek. Sementara itu, Bendungan Meninting melibatkan PT Indonesia Power sebagai offtaker listrik dari komponen PLTA yang akan dibangun pada tahap selanjutnya, menunjukkan skema pembiayaan yang inovatif dengan melibatkan badan usaha milik negara.
Di akhir acara, Presiden Prabowo mengingatkan agar seluruh infrastruktur yang telah rampung dirawat secara berkelanjutan. “Saya minta Komisi Keamanan Bendungan yang baru dibentuk segera melakukan audit teknis berkala. Jangan sampai aset negara senilai puluhan triliun ini mangkrak atau rusak karena kelalaian,” tegasnya. Presiden juga menginstruksikan percepatan pengisian air waduk agar masyarakat dapat segera merasakan manfaat langsung dari kehadiran kelima bendungan tersebut.
Dengan rampungnya proyek-proyek ini, Indonesia semakin mendekati target swasembada pangan dan air yang dicanangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029. Para pengamat menilai langkah ini tidak hanya memperkuat fondasi ekonomi kerakyatan, tetapi juga menjadi respons konkret terhadap tantangan perubahan iklim melalui pengelolaan sumber daya air yang lebih andal dan berkelanjutan.
Baca juga:
Comments (0)