Suasana megah gedung Bharat Mandapam di New Delhi, India, menjadi saksi bisu dorongan diplomasi strategis Indonesia di panggung dunia. Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara tegas menyerukan pentingnya konsolidasi antarnegara berkembang dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026. Menghadiri sesi terbatas bertema 'Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism', Presiden menegaskan bahwa tatanan dunia masa depan harus lebih adil, inklusif, dan tidak memihak pada kepentingan segelintir kekuatan ekonomi semata.
Langkah diplomasi ini menegaskan komitmen Indonesia untuk terus mengambil peran aktif dalam menjaga kestabilan ekonomi global di tengah meningkatnya fragmentasi geopolitik. Dalam forum tertutup tersebut, kepala negara menekankan pentingnya penguatan fondasi domestik setiap negara anggota agar mampu menghadapi krisis multidimensi.
Reformasi Tata Kelola Global dan Suara Global South
Dalam pidato intervensinya di hadapan para pemimpin dunia, Presiden Prabowo menyuarakan urgensi reformasi arsitektur keuangan global serta perbaikan lembaga-lembaga multilateral agar lebih representatif. Menurutnya, ketidakpastian ekonomi dunia dan konflik regional yang berkepanjangan menuntut hadirnya alternatif solusi yang fleksibel serta berpihak pada kesejahteraan rakyat di kawasan Global South.
"Kita tidak dapat terus bergantung pada sistem lama yang sering kali menciptakan ketimpangan. BRICS memiliki kapasitas moral dan ekonomi untuk menjadi motor penggerak ketahanan pangan, energi, dan kemandirian ekonomi bagi negara-negara berkembang," tegas Presiden Prabowo di New Delhi.
Kebijakan luar negeri Indonesia yang *bebas aktif* di bawah kepemimpinan Prabowo kembali dibuktikan dengan keberanian menyuarakan isu-isu krusial. Indonesia mendorong agar kerja sama dalam kerangka BRICS difokuskan pada skema perdagangan yang lebih adil, transfer teknologi yang merata, serta pengurangan ketergantungan pada mata uang tunggal dalam transaksi internasional.
Fokus Strategis Ketahanan Pangan dan Energi
Isu ketahanan pangan dan energi menjadi pilar utama yang digarisbawahi oleh delegasi Indonesia. Presiden mengaitkan agenda nasional—seperti target swasembada pangan dan percepatan transisi energi hijau—dengan visi kolektif blok BRICS. Indonesia menilai bahwa kemandirian nasional tidak dapat dilepaskan dari kolaborasi antarnegara berkembang yang saling menguntungkan.
| Pilar Utama Proposal Indonesia | Target Strategis Global |
|---|---|
| Ketahanan Pangan Kolektif | Penyediaan rantai pasok pangan yang stabil bagi negara berkembang |
| Kemandirian Energi | Investasi bersama pada teknologi energi terbarukan dan ramah lingkungan |
| Reformasi Multilateralisme | Penguatan peran lembaga global yang lebih inklusif dan transparan |
Di tengah dinamika ekonomi abad ke-21, fakta menunjukkan bahwa kombinasi kekuatan ekonomi anggota BRICS kini menyumbang lebih dari 35 persen PDB global dan mencakup lebih dari 40 persen populasi dunia. Angka signifikan ini, menurut Presiden Prabowo, harus dikonversi menjadi daya tawar konkrit untuk membendung gejolak ekonomi eksternal.
Menjaga Keseimbangan Diplomasi Internasional
Keikutsertaan Indonesia pada KTT BRICS 2026 di Bharat Mandapam mempertegas posisi Jakarta sebagai jembatan (*bridge builder*) diplomasi antara kawasan berkembang dan negara-negara maju. Para pengamat menilai bahwa imbauan Presiden Prabowo mengenai kemandirian bukanlah bentuk isolasi, melainkan strategi memperkuat ketahanan nasional di tengah persaingan sengit kekuatan besar.
Melalui kontribusi aktif dalam sesi terbatas tersebut, Indonesia tidak hanya hadir sebagai penonton, melainkan tampil sebagai salah satu arsitek utama yang mendorong arah baru tata kelola dunia yang lebih berkeadilan dan mandiri.
Comments (0)