Jakarta — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto bersama Presiden Republik Arab Mesir Abdel Fattah El-Sisi menyatakan penolakan tegas terhadap perluasan permukiman ilegal Israel di wilayah Palestina. Sikap bersama tersebut disampaikan kedua kepala negara dalam pertemuan bilateral yang berlangsung di Kairo, dan menjadi bagian dari komitmen kuat kedua negara dalam memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina berdasarkan hukum internasional dan resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin menegaskan bahwa pembangunan permukiman di wilayah pendudukan merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum humaniter internasional, termasuk Konvensi Jenewa Keempat. Menurut keduanya, kebijakan tersebut tidak hanya merampas hak-hak dasar warga Palestina, tetapi juga menutup ruang bagi terwujudnya solusi dua negara yang adil dan berkelanjutan.
Sikap Tegas terhadap Pelanggaran HAM
Presiden Prabowo menyatakan bahwa Indonesia secara konsisten mendukung perjuangan rakyat Palestina, dan tidak akan pernah mundur dari posisi tersebut. Ia menegaskan bahwa kekejaman yang terjadi di Palestina merupakan pelanggaran hak asasi manusia yang tidak dapat ditoleransi oleh masyarakat internasional.
"Indonesia bersama Mesir sepakat untuk terus menyuarakan keadilan bagi Palestina. Permukiman ilegal Israel adalah bentuk pelanggaran hukum internasional yang harus dihentikan," tegas Prabowo dalam keterangan resminya.
Senada dengan itu, Presiden El-Sisi menekankan bahwa Mesir sebagai negara tetangga Palestina merasakan langsung dampak dari ketidakstabilan di kawasan. Ia menyatakan bahwa Kairo dan Jakarta akan terus menjalin kerja sama diplomatik untuk mendorong gencatan senjata permanen serta memastikan masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Kerja Sama Diplomatik Indonesia-Mesir
Kedua kepala negara juga membahas langkah-langkah strategis dalam kerangka organisasi internasional, termasuk upaya mendorong negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk mengambil sikap kolektif. Prabowo dan El-Sisi sepakat bahwa solidaritas dunia Islam menjadi kunci dalam menekan pihak-pihak yang terus mengabaikan resolusi PBB.
Dalam pertemuan itu, kedua pemimpin menyoroti pentingnya penguatan peran lembaga multilateral seperti Majelis Umum PBB dan Dewan Keamanan PBB untuk mengambil tindakan konkret. Mereka menilai bahwa veto yang berulang kali menghambat resolusi terkait Palestina merupakan persoalan serius yang harus diatasi melalui reformasi tata kelola global.
Komitmen Kemanusiaan dan Bantuan Nyata
Selain aspek politik, pertemuan tersebut juga membahas percepatan distribusi bantuan kemanusiaan. Indonesia melalui Badan Amil Zakat Nasional dan lembaga kemanusiaan lainnya berkomitmen menyalurkan bantuan tambahan, sementara Mesir berperan sebagai pintu masuk utama logistik ke Gaza melalui perbatasan Rafah.
Prabowo menegaskan bahwa bantuan Indonesia akan terus mengalir, dan pemerintah akan memastikan penyalurannya berjalan efektif serta tepat sasaran. Ia juga mengapresiasi peran Mesir dalam memfasilitasi evakuasi warga sipil yang membutuhkan perawatan medis.
Pengamat hubungan internasional menilai pertemuan Prabowo dan El-Sisi mencerminkan poros diplomatik baru di kawasan yang menempatkan isu Palestina sebagai prioritas utama. Langkah ini dinilai sejalan dengan amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang menolak segala bentuk penjajahan di atas dunia.
Dengan pertemuan ini, Indonesia dan Mesir menegaskan posisi mereka sebagai dua kekuatan utama dunia Muslim yang berkomitmen menegakkan keadilan, perdamaian, dan penghormatan terhadap hukum internasional di Palestina.
Comments (0)