PKB Siap Usung Marzuki Mustamar di Pilkada Jatim
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tengah mematangkan strategi politiknya menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jawa Timur yang dijadwalkan berlangsung pada 27 November 2024. Dalam perkembangan ter...
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tengah mematangkan strategi politiknya menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jawa Timur yang dijadwalkan berlangsung pada 27 November 2024. Dalam perkembangan terbaru, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PKB secara resmi membidik nama KH Marzuki Mustamar, mantan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, untuk diusung sebagai calon gubernur. Keputusan ini mencuat dalam Rapat Koordinasi internal yang digelar di Jakarta pada Selasa (21/5/2024), dan menjadi sinyal kuat bahwa PKB serius memenangkan kontestasi politik di provinsi dengan basis massa Nahdliyin terbesar di Indonesia.
Wakil Ketua Umum DPP PKB, Jazilul Fawaid, membenarkan bahwa partainya tengah melakukan penjajakan serius terhadap tokoh kharismatik asal Madiun tersebut. "Kami melihat KH Marzuki Mustamar memiliki kapasitas kepemimpinan yang mumpuni dan diterima luas oleh masyarakat Jawa Timur. Beliau bukan hanya tokoh agama, tetapi juga memiliki rekam jejak dalam mengelola organisasi besar," ujarnya dalam keterangan pers usai rapat. Jazilul menambahkan bahwa PKB tidak ingin terburu-buru dalam menentukan calon, namun nama Marzuki terus menguat dalam berbagai survei internal partai.
Elektabilitas dan Penerimaan Publik
Langkah PKB ini bukan tanpa dasar. Sejumlah lembaga survei independen mencatat bahwa nama KH Marzuki Mustamar memiliki tingkat elektabilitas yang signifikan di kalangan pemilih Jawa Timur. Berdasarkan hasil survei yang dirilis pada April 2024, popularitas Marzuki mencapai 78 persen di kalangan responden yang mengenal sosoknya, dengan tingkat akseptabilitas di atas 60 persen. Angka ini dinilai kompetitif dibandingkan kandidat potensial lainnya seperti Khofifah Indar Parawansa yang saat ini menjabat Gubernur Jawa Timur.
Direktur Eksekutif Lembaga Survei Nasional (LSN), Ahmad Fauzi, menilai bahwa faktor kedekatan Marzuki dengan basis Nahdliyin menjadi nilai jual utama. "Jawa Timur adalah lumbung suara Nahdlatul Ulama. Sebagai mantan ketua PWNU, Marzuki Mustamar memiliki jaringan struktural yang kuat hingga tingkat ranting. Ini aset politik yang tidak dimiliki semua kandidat," jelas Fauzi saat dihubungi Apaberita pada Rabu (22/5/2024). Ia menambahkan bahwa PKB tampaknya ingin mengulang strategi sukses pada Pilkada 2018 ketika mengusung tokoh religius untuk merebut hati pemilih tradisional.
Respons Marzuki Mustamar
Menanggapi isyarat dari PKB, KH Marzuki Mustamar memberikan respons yang hati-hati namun terbuka. Dalam pernyataannya di sela-sela kegiatan silaturahmi di Surabaya, ia mengaku belum memutuskan untuk maju, tetapi tidak menutup kemungkinan. "Saya adalah kader NU, dan jika dipanggil untuk mengabdi kepada masyarakat, tentu saya akan mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh. Namun, semua keputusan harus melalui proses musyawarah yang matang," kata Marzuki kepada wartawan. Pernyataan ini ditafsirkan oleh pengamat politik sebagai sinyal positif bahwa ia bersedia diusung jika ada dukungan penuh dari partai.
Marzuki Mustamar dikenal sebagai sosok yang tegas dalam menyuarakan kepentingan umat, terutama dalam isu-isu keagamaan dan sosial. Selama memimpin PWNU Jawa Timur periode 2018-2023, ia berhasil memperkuat program pemberdayaan ekonomi pesantren dan pendidikan diniyah. Prestasi ini menjadi modal penting untuk membangun citra sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat kecil.
Koalisi dan Peta Politik Jatim
Meski PKB menunjukkan keseriusan, partai berlambang bola dunia ini tidak bisa bergerak sendiri. Untuk mengusung pasangan calon gubernur dan wakil gubernur, sebuah partai atau gabungan partai harus memenuhi syarat minimal 20 persen kursi DPRD. Saat ini PKB memiliki 27 kursi dari total 120 kursi DPRD Jawa Timur, sehingga masih membutuhkan tambahan dukungan dari partai lain. Ketua DPW PKB Jawa Timur, Abdul Halim Iskandar, menyatakan bahwa pihaknya telah menjalin komunikasi intensif dengan sejumlah partai, termasuk Partai NasDem dan Partai Kebangkitan Nusantara (PKN). "Kami optimistis koalisi akan terbentuk dalam waktu dekat. Target kami adalah mengusung pasangan yang solid dan memiliki elektabilitas tinggi," ujar Halim dalam wawancara eksklusif dengan Apaberita.
Pengamat politik Universitas Airlangga, Siti Aminah, menilai bahwa langkah PKB ini merupakan upaya untuk memecah dominasi koalisi partai penguasa di Jatim. "Dengan mengusung tokoh NU, PKB ingin menunjukkan bahwa mereka adalah representasi sejati kepentingan Nahdliyin, sekaligus menantang petahana yang juga berasal dari latar belakang NU," jelas Siti. Ia menambahkan bahwa pertarungan di Pilkada Jatim diprediksi akan sangat ketat, terutama jika Khofifah kembali maju dengan dukungan koalisi besar.
Jadwal dan Tahapan Pilkada
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Timur telah menetapkan jadwal pendaftaran pasangan calon pada 27-29 Agustus 2024. Sebelumnya, partai politik diwajibkan untuk mengumumkan calonnya paling lambat 24 Agustus 2024. Dengan demikian, PKB masih memiliki waktu sekitar tiga bulan untuk mematangkan koalisi dan melakukan penjaringan internal. Dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) yang digelar pekan lalu, DPP PKB menegaskan bahwa keputusan final mengenai calon gubernur akan diumumkan setelah melalui mekanisme pleno dan survei elektabilitas terakhir.
Jazilul Fawaid menegaskan bahwa PKB tidak akan tergesa-gesa. "Kami akan memilih calon yang paling kuat dan mampu memenangkan Pilkada. Nama KH Marzuki Mustamar adalah salah satu yang kami pertimbangkan serius, tetapi keputusan akhir tetap di tangan DPP setelah berkoordinasi dengan DPW," tegasnya. PKB juga berkomitmen untuk menjaga silaturahmi dengan semua pihak, termasuk ulama dan tokoh masyarakat, demi memastikan pilihan yang diambil benar-benar mewakili aspirasi rakyat Jawa Timur.
Dengan dinamika politik yang terus berkembang, publik Jawa Timur kini menantikan langkah konkret PKB. Apakah Marzuki Mustamar akan resmi diusung atau muncul nama lain, keputusan partai akan menentukan arah pertarungan menuju kursi Gubernur Jawa Timur periode 2024-2029. Apaberita akan terus memantau perkembangan ini.
Comments (0)