Sep 16, 2026
Hukum

Pilar Sordo Analogikan Kehidupan Manusia Seperti Menginap di Hotel

Dalam riuh perjalanan hidup yang sering kali dipenuhi ketidakpastian, psikolog sekaligus penulis ternama asal Chile, Pilar Sordo, kembali membagikan pemiki

Pilar Sordo Analogikan Kehidupan Manusia Seperti Menginap di Hotel

Dalam riuh perjalanan hidup yang sering kali dipenuhi ketidakpastian, psikolog sekaligus penulis ternama asal Chile, Pilar Sordo, kembali membagikan pemikiran mendalam mengenai cara manusia memandang realitas. Melalui sebuah refleksi yang diunggah di media sosial pribadinya, pakar kesehatan mental ini mengingatkan bahwa manusia sejatinya tidak melihat dunia sebagaimana adanya, melainkan melihat dunia sesuai dengan gambaran diri mereka sendiri. Persepsi dan mentalitas batin inilah yang pada akhirnya menentukan bagaimana seseorang merespons kebahagiaan maupun kesulitan hidup.

Pandangan tersebut disampaikan Sordo setelah ia menghabiskan waktu bersama putri, menantu, dan cucunya di sebuah tempat yang pernah menginspirasi tulisan lamanya bertajuk "La vida es un hotel" (Hidup adalah Sebuah Hotel). Reuni keluarga di lokasi bersejarah bagi karier kepenulisannya itu makin menegaskan bahwa analogi yang ia cetuskan bertahun-tahun lalu masih sangat relevan dengan dinamika kehidupan modern saat ini.

Analogi Hotel dan Kesadaran akan Batas Waktu

Dalam penjelasannya, Pilar Sordo menyamakan keberadaan manusia di bumi seperti seorang tamu yang sedang menginap di sebuah hotel. Setiap pengunjung melangkah masuk ke dalam lobi dengan satu kepastian mutlak: mereka tidak akan tinggal di sana selamanya. Ada masa ketika kunci harus dikembalikan dan pintu kamar harus ditutup rapat untuk terakhir kalinya.

"Kita memasuki hotel dengan kesadaran penuh bahwa kita harus pergi. Kita semua memiliki kesadaran akan waktu kepulangan," ujar Pilar Sordo saat menjelaskan intisari pemikirannya.

Namun, Sordo menambahkan bahwa terdapat satu perbedaan mendasar antara menginap di hotel fisik dan menjalani kehidupan nyata. Di hotel, tanggal dan jam check-out sudah tercantum jelas di lembar pemesanan. Sementara dalam hidup, meskipun waktu kepulangan itu pasti terjadi, tak seorang pun mengetahui secara persis kapan momen itu akan tiba.

Pilihan Sikap di Tengah Ketidakpastian

Menurut Sordo, kunci utama kesejahteraan emosional seseorang bukan terletak pada kamar seperti apa yang didapatkannya, melainkan pada sikap mental yang ia pilih selama menempati kamar tersebut. Sering kali, manusia menghabiskan terlalu banyak energi untuk mengeluhkan fasilitas kehidupan yang dianggap kurang ideal, sehingga lupa menikmati momen berharga yang sedang berlangsung.

Berikut adalah perbandingan analogi antara pengalaman menginap di hotel dan dinamika perjalanan hidup menurut analisis filosofis Pilar Sordo:

Aspek Perbandingan Menginap di Hotel Perjalanan Kehidupan
Waktu Tinggal Pasti dan terukur sesuai reservasi. Pasti berakhir, namun waktunya misteri.
Kondisi Fasilitas Tergantung tipe kamar yang dipesan. Bervariasi, penuh kejutan dan dinamika.
Fokus Utama Menikmati masa inap sebelum check-out. Memilih respons positif atas setiap peristiwa.

Lebih lanjut, Sordo menekankan bahwa rasa takut atau ketidakpuasan seharusnya tidak menjadi penghambat bagi seseorang untuk melangkah. Jika seseorang merasa takut terhadap suatu perubahan atau keputusan besar, rasa takut itu tidak boleh dijadikan alasan untuk berhenti. Sebaliknya, rasa takut tersebut harus dikelola menjadi energi pendorong untuk tetap bergerak maju.

Menyikapi Takdir dengan Perspektif Baru

Dalam konteks hubungan antarmanusia dan pencarian makna diri, tulisan Sordo memberikan ajakan bagi publik yang sering terjebak dalam rutinitas tanpa arah. Pemikiran bahwa "kita melihat dunia sebagaimana diri kita" menuntut setiap individu untuk terlebih dahulu membenahi kualitas batin mereka sebelum menuntut perubahan dari lingkungan sekitar.

"Perbedaan cara pandang inilah yang membedakan mereka yang bisa menikmati perjalanan dengan mereka yang terus-menerus merasa tertekan oleh keadaan," ungkap Sordo dalam catatan refleksinya.

Pada akhirnya, pesan moral yang diusung oleh penulis asal Chile ini sangat jelas: kehidupan adalah kesempatan singkat yang tak terulang. Daripada meratapi hal-hal yang berada di luar kendali, setiap manusia memiliki wewenang penuh untuk menentukan sikap, mempererat kasih sayang keluarga, dan mengukir kenangan berharga sebelum kesadaran kepulangan itu benar-benar menjadi kenyataan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS tania-sari

Reporter Hukum. Meliput Mahkamah Konstitusi, judicial review, dan dinamika legislasi.

Comments (0)

User