Penumpang Ojol Jadi Korban Kabel Menjuntai di Kawasan Elite Widya Chandra

JAKARTA SELATAN — Seorang penumpang ojek online (ojol) mengalami insiden nahas saat kabel menjuntai yang melintang rendah di Jalan Widya Chandra, kawasan P

Penumpang Ojol Jadi Korban Kabel Menjuntai di Kawasan Elite Widya Chandra

JAKARTA SELATAN — Seorang penumpang ojek online (ojol) mengalami insiden nahas saat kabel menjuntai yang melintang rendah di Jalan Widya Chandra, kawasan Perumahan Pejabat Negara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tiba-tiba menjerat bagian leher dan tubuhnya. Peristiwa yang terjadi pada Jumat sore (14/3) itu semakin menegaskan darurat tata kelola kabel udara di Ibu Kota, yang sudah berulang kali memakan korban.

Korban, seorang perempuan berinisial NA (28) warga Cilandak, saat itu sedang dalam perjalanan pulang dari kantornya di kawasan Sudirman. Ia memesan ojol untuk menghindari kemacetan. Tidak pernah terbayangkan bahwa perjalanan singkat itu berubah menjadi pengalaman traumatis akibat kabel fiber optik dan kabel listrik yang bergelantungan tanpa pengaman memadai.

Kronologi Kejadian

Berdasarkan keterangan saksi dan pengemudi ojol, RA (35), insiden terjadi sekitar pukul 16.30 WIB. Motor yang mereka tumpangi melaju dengan kecepatan rendah—sekitar 30 km/jam—karena kondisi lalu lintas padat di sekitar Jalan Widya Chandra V menuju Jalan Asia Afrika. Tiba-tiba, dari arah berlawanan, sebuah kabel berwarna hitam yang menggantung rendah tersangkut di bagian setang motor, lalu melilit leher NA yang duduk di belakang.

“Saya kira ranting pohon, ternyata kabel tebal. Saya langsung rem mendadak, tetapi kabel sudah melingkar di leher penumpang. Dia menjerit kesakitan dan langsung memegangi lehernya,” ujar RA saat ditemui di lokasi kejadian.

Akibat tarikan kabel, korban sempat terseret mundur dan hampir terjatuh dari motor. Beruntung pengemudi sigap menahan motor dan warga sekitar segera membantu melepaskan lilitan kabel yang cukup kuat. Korban mengalami luka lecet serius di bagian leher depan, memar di bahu kanan, serta trauma psikis yang membuatnya tidak dapat melanjutkan perjalanan.

Petugas keamanan Perumahan Pejabat Negara Widya Chandra yang berjaga di pos terdekat langsung menghubungkan korban dengan layanan gawat darurat. NA kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) untuk mendapatkan perawatan intensif. Hingga berita ini diturunkan, korban dalam kondisi stabil namun diminta menjalani observasi selama 24 jam mengingat adanya risiko cedera saluran pernapasan.

Lokasi Rawan: Kabel Menjuntai di Jantung Perumahan Pejabat

Sangat ironis bahwa insiden tersebut terjadi di Widya Chandra, kawasan perumahan resmi para pejabat tinggi negara yang seharusnya menjadi contoh tata kelola lingkungan terbaik di Indonesia. Hasil pantauan di lapangan menunjukkan, di sepanjang Jalan Widya Chandra V hingga persimpangan Jalan Wijaya, terdapat sedikitnya belasan titik kabel menjuntai dengan ketinggian bervariasi, mulai dari 1,5 meter hingga 2 meter di atas permukaan jalan. Kabel-kabel itu diduga milik sejumlah penyedia jasa telekomunikasi dan sebagian kabel listrik yang tidak dirapikan setelah proses instalasi atau pemeliharaan.

  • Rendahnya ketinggian kabel: beberapa titik hanya berjarak 1,5 meter dari aspal, jauh di bawah standar minimum keselamatan 5 meter untuk jalan raya.
  • Campur aduk kabel: kabel fiber optik berbaur dengan kabel listrik, mempersulit identifikasi pemilik dan meningkatkan risiko sengatan listrik.
  • Minim penanda: tidak ada rambu peringatan atau pengaman seperti pelapis kabel warna cerah, sehingga pengendara tidak menyadari bahaya hingga terlambat.
  • Sering terlewat inspeksi: warga menyebut perbaikan kabel hanya dilakukan jika ada insiden viral atau laporan resmi yang berlarut-larut.

Kabel Semrawut: Ancaman Berulang di Jakarta

Insiden yang dialami NA bukanlah kasus pertama. Sepanjang tahun 2025, Dinas Bina Marga DKI Jakarta mencatat sedikitnya 17 kecelakaan lalu lintas yang dipicu oleh kabel menjuntai, termasuk kabel putus yang menjerat pengendara motor, pejalan kaki, hingga merusak kendaraan. Kasus paling fatal terjadi di Cilandak pada Agustus lalu ketika seorang pelajar SMP tersangkut kabel hingga jatuh dan mengalami patah tulang lengan. Tren ini menunjukkan bahwa persoalan bukan hanya teknis, melainkan menyangkut penegakan aturan dan koordinasi antar pemangku kepentingan.

Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti, Dr. Erwin Fahmi, menilai masalah ini sebagai kegagalan bersama antara Pemerintah Provinsi DKI, penyedia utilitas, dan operator telekomunikasi.

“Utilitas udara sudah seharusnya dipindahkan ke bawah tanah, terutama di jalan-jalan protokol dan di sekitar fasilitas vital seperti Widya Chandra. Tetapi karena tidak ada komitmen investasi dan sanksi tegas, kabel-kabel itu terus menjadi ‘ranjau’ bagi warga,” tegasnya dalam wawancara terpisah.

Ia menambahkan, Peraturan Gubernur Nomor 48 Tahun 2020 tentang Penataan Jaringan Utilitas sebenarnya sudah memberikan kerangka yang jelas—termasuk ketinggian minimal 5 meter, pengelompokan kabel berdasarkan jenis, dan kewajiban pemilik jaringan untuk merapikan kabel dalam waktu 1x24 jam setelah teridentifikasi membahayakan. Namun implementasi di lapangan sangat lemah karena pengawasan tidak berjalan dan sanksi administratif tidak memberikan efek jera.

Respons Pemerintah dan Langkah Lanjutan

Menanggapi insiden di Widya Chandra, Kepala Suku Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi Jakarta Selatan, Abdul Malik, menyatakan akan segera berkoordinasi dengan operator utilitas untuk melakukan inspeksi menyeluruh di sepanjang Jalan Widya Chandra dan jalan-jalan protokol lain di Jakarta Selatan. “Kami akan panggil pemilik kabel, termasuk PLN, Telkom, dan penyedia FO lain. Jika mereka lalai, kami tidak ragu menerapkan sanksi pencabutan izin penggunaan ruang udara,” ujarnya melalui sambungan telepon.

Warga sekitar dan korban sendiri berharap agar pemerintah tidak sekadar bereaksi sesaat. NA, melalui kuasa hukumnya, berencana mengajukan gugatan class action terhadap para pemilik jaringan utilitas yang dinilai terbukti lalai dan membahayakan keselamatan publik. Langkah ini diharapkan menjadi momentum untuk memaksa perubahan sistemik, bukan hanya penambalan kasuistik.

Sementara itu, komunitas pengemudi ojol di Jakarta Selatan mengimbau rekan-rekannya untuk lebih waspada dan segera melaporkan setiap kabel menjuntai melalui kanal resmi seperti aplikasi JAKI atau call center PLN 123. Mereka juga mendorong agar operator aplikasi ojol memasukkan fitur “pelaporan bahaya jalan” yang terintegrasi dengan sistem pengaduan pemerintah kota. Hingga kini, kabel di TKP telah diamankan sementara oleh petugas dengan ikatan darurat, namun belum ada perbaikan permanen. Masyarakat pun bertanya-tanya, berapa banyak lagi korban yang harus jatuh sebelum aturan benar-benar ditegakkan.

[TAGS]: ojol, kabel menjuntai, Widya Chandra, Jakarta Selatan, keselamatan jalan

[SOCIAL_TWEET]: Penumpang ojol terluka parah akibat kabel menjuntai di kawasan elite Widya Chandra, Jaksel. Ironi di jantung perumahan pejabat negara. Mengapa kabel semrawut terus menjadi ranjau bagi pengendara? Simak selengkapnya di Apaberita.com #KabelMaut #Ojol #JakartaDarurat

[SOCIAL_FB]: “Saya pikir ranting pohon, ternyata kabel tebal yang melilit leher penumpang saya…” Seorang penumpang ojol nyaris tewas setelah kabel menjuntai di Jalan Widya Chandra, Jakarta Selatan, tersangkut motor dan menjerat lehernya. Ironi benar: di kawasan perumahan pejabat negara justru nyawa warga terancam oleh kabel semrawut yang sudah berulang kali dikeluhkan. Sudah 17 kecelakaan akibat kabel menjuntai di Jakarta sepanjang 2025. Berapa lagi korban yang harus jatuh sebelum aturan ditegakkan? Baca liputan lengkap kami dan temukan cara melaporkan kabel berbahaya di sekitar Anda. #KabelMaut #WidyaChandra #KeselamatanJalan

[SOCIAL_TG]: 🛑 DARURAT KABEL DI WIDYA CHANDRA Seorang penumpang ojol terluka serius akibat kabel menjuntai di Jalan Widya Chandra V, kawasan perumahan pejabat tinggi negara. Kabel setinggi 1,5 meter menjerat leher korban hingga ia harus dilarikan ke RSPP. 🔍 Data DKI: 17 kecelakaan akibat kabel semrawut sepanjang 2025 ⚡ Warga rencanakan gugatan class action 📞 Laporkan kabel berbahaya lewat JAKI atau PLN 123 Apakah pemerintah akan bertindak sebelum korban jiwa berikutnya? Baca selengkapnya di Apaberita.com

[SOCIAL_THREADS]: 1/ Baru saja seorang penumpang ojol nyaris meregang nyawa di Widya Chandra, kawasan perumahan pejabat negara di Jakarta Selatan. Penyebabnya bukan kecelakaan biasa, melainkan kabel menjuntai yang tiba-tiba melilit lehernya saat motor melaju. 2/ Korban, perempuan 28 tahun, kini dirawat di RSPP dengan luka lecet serius di leher dan trauma mendalam. Saksi mata: “Kabel itu rendah banget, mungkin cuma setinggi dada orang dewasa. Motor tersangkut, penumpang langsung terjerat.” 3/ Ironisnya, titik kejadian berada di Widya Chandra—kompleks tempat para menteri dan pejabat tinggi tinggal. Tapi puluhan kabel menjuntai dibiarkan berbulan-bulan tanpa perbaikan. Standar ketinggian minimal 5 meter? Di Jakarta, sering kali cuma angan. 4/ Data Dinas Bina Marga: sudah 17 kecelakaan akibat kabel semrawut di Jakarta sepanjang 2025. Korbannya mulai anak sekolah hingga pengendara dewasa. Pertanyaannya: sampai kapan tata kelola utilitas begini-begini saja? 5/ Korban berencana menggugat operator utilitas. Masyarakat bisa turut mendorong perubahan dengan rajin melapor via JAKI atau PLN 123 setiap melihat kabel bahaya. Jangan tunggu viral dulu baru bertindak. 6/ Link berita lengkap di bio Apaberita.com. Mari jadikan insiden ini titik balik untuk memaksa pemilik kabel bertanggung jawab. #KabelMaut #WidyaChandra #JakartaRawanKabel

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User