Penetrasi 5G di Bawah 10 Persen, Mastel Dorong Indonesia Siapkan 6G

Indonesia masih tertatih-tatih dalam mengadopsi jaringan 5G dengan tingkat penetrasi yang tercatat di bawah 10 persen pada tahun 2025. Menyadari ketertingg

Penetrasi 5G di Bawah 10 Persen, Mastel Dorong Indonesia Siapkan 6G

Indonesia masih tertatih-tatih dalam mengadopsi jaringan 5G dengan tingkat penetrasi yang tercatat di bawah 10 persen pada tahun 2025. Menyadari ketertinggalan ini, Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) mendorong agar Indonesia segera menyusun strategi dan peta jalan menuju 6G agar tidak kembali terjebak dalam siklus keterlambatan yang sama.

Realita Adopsi 5G di Indonesia

Data terbaru menunjukkan bahwa penetrasi 5G di Indonesia masih sangat rendah dibandingkan negara-negara tetangga. Berikut perbandingan penetrasi 5G di kawasan Asia Tenggara per kuartal pertama 2025:

  • Singapura: Lebih dari 65% wilayah tercakup 5G
  • Thailand: Penetrasi mencapai 35%
  • Malaysia: Sekitar 28% pengguna telah mengakses 5G
  • Vietnam: Mencapai 20% penetrasi
  • Indonesia: Masih di bawah 10%

Rendahnya angka ini disebabkan oleh kombinasi faktor, termasuk keterbatasan spektrum frekuensi, mahalnya investasi infrastruktur di negara kepulauan, serta belum meratanya ekosistem perangkat yang mendukung 5G di kalangan masyarakat.

Penyebab Keterlambatan Indonesia

Ketua Umum Mastel menyoroti beberapa faktor kunci yang membuat Indonesia tertinggal dalam perlombaan 5G. Regulasi spektrum yang lambat menjadi hambatan utama, di mana proses lelang frekuensi seringkali memakan waktu bertahun-tahun. Selain itu, operator seluler menghadapi tantangan besar dalam menggelar infrastruktur 5G di lebih dari 17.000 pulau yang tersebar di seluruh nusantara.

"Kita tidak boleh terus-menerus menjadi pengikut. Dunia sudah mulai bergerak ke 6G, sementara kita masih berkutat dengan 5G. Sudah saatnya Indonesia menyusun strategi lompatan teknologi agar tidak terus tertinggal," tegas perwakilan Mastel dalam seminar TIK terbaru.

Strategi Mastel Menyongsong 6G

Dalam seminar Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang digelar untuk membahas masa depan telekomunikasi Indonesia, Mastel memaparkan sejumlah rekomendasi strategis. Organisasi ini mendorong pemerintah untuk segera membentuk konsorsium riset 6G yang melibatkan perguruan tinggi, operator seluler, dan pelaku industri teknologi. Langkah ini dinilai krusial agar Indonesia memiliki fondasi riset yang kuat ketika standar 6G mulai difinalisasi secara global sekitar tahun 2028.

  1. Pembentukan tim riset 6G nasional paling lambat tahun 2026
  2. Alokasi anggaran riset dari pemerintah untuk pengembangan teknologi telekomunikasi masa depan
  3. Kolaborasi internasional dengan negara-negara yang sudah memulai riset 6G seperti Jepang, Korea Selatan, dan Finlandia
  4. Penyelarasan regulasi agar tidak menghambat adopsi teknologi baru
  5. Program edukasi dan sosialisasi kepada industri dan masyarakat tentang manfaat 6G

Mengapa 6G Penting bagi Indonesia

Teknologi 6G diproyeksikan menghadirkan kecepatan hingga 100 kali lipat lebih cepat dari 5G dengan latensi mendekati nol. Ini akan membuka peluang revolusioner di berbagai sektor, mulai dari kesehatan jarak jauh dengan operasi robotik real-time, kendaraan otonom, hingga kota pintar yang sepenuhnya terintegrasi. Bagi Indonesia, 6G dapat menjadi katalisator transformasi digital yang mempercepat pemerataan akses dan mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis teknologi.

Seminar TIK dan Peta Jalan Digital Indonesia

Seminar TIK yang digelar Mastel menghadirkan pemangku kepentingan dari Kementerian Komunikasi dan Digital, operator seluler, akademisi, dan pelaku startup teknologi. Diskusi berfokus pada penyusunan peta jalan digital Indonesia hingga tahun 2045. Salah satu poin krusial yang mengemuka adalah perlunya political will yang kuat dari pemerintah untuk mempercepat pembangunan infrastruktur digital, termasuk kemungkinan menerapkan kebijakan yang memungkinkan sharing infrastruktur pasif antar operator guna menekan biaya.

Mastel menekankan bahwa waktu persiapan menuju 6G semakin sempit. Jika Indonesia tidak mulai bergerak sekarang, bukan tidak mungkin negara ini akan kembali menjadi pasar konsumen teknologi tanpa memiliki kapasitas produksi dan inovasi yang memadai. "Ini tentang kedaulatan digital kita," pungkas perwakilan Mastel menutup seminar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User