Sep 16, 2026
Hukum

Pencipta PISA — Andreas Schleicher Peringatkan Penurunan Literasi Siswa Global

Kemajuan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI) seharusnya mendorong peningkatan kualitas pendidikan, namun kenyataan di lapangan justru menunjukkan arah s

Pencipta PISA — Andreas Schleicher Peringatkan Penurunan Literasi Siswa Global

Kemajuan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI) seharusnya mendorong peningkatan kualitas pendidikan, namun kenyataan di lapangan justru menunjukkan arah sebaliknya. Andreas Schleicher, Direktur Pendidikan dan Keterampilan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) sekaligus pencipta tes PISA (Programme for International Student Assessment), menyampaikan peringatan keras mengenai kemunduran kemampuan literasi dan berpikir kritis anak-anak di seluruh dunia. Dalam kolom opini terbaru yang dipublikasikan di media terkemuka The Economist, Schleicher menegaskan bahwa sistem pendidikan global saat ini sedang mengalami regresi pada keterampilan paling vital yang sangat dibutuhkan dalam era digital.

Fokus publik saat ini dinilai terlalu banyak tertuju pada masa depan dunia kerja, otomatisasi mesin, dan risiko keamanan teknologi. Padahal, menurut Schleicher, krisis mendasar yang lebih mendesak sedang terjadi di dalam ruang-ruang kelas. Data evaluasi PISA paling gres mencatat penurunan drastis pada kemampuan siswa dalam membaca, memahami informasi kompleks, serta berpikir secara analitis. Kondisi ini dinilai amat ironis mengingat akses terhadap teknologi informasi justru semakin melimpah.

Penurunan Drastis Kemampuan Membaca Periode 2018–2025

Schleicher memaparkan bahwa tren penurunan kemampuan membaca ini terjadi secara masif di berbagai belahan dunia. Berdasarkan analisis data evaluasi PISA, kronologi penurunan kinerja akademis anak-anak dunia dapat dirangkum sebagai berikut:

  1. Periode 2018–2022: Tanda-tanda awal kemerosotan literasi mulai terlihat di sejumlah negara anggota OECD akibat pergeseran pola interaksi sosial dan masuknya gawai secara masif ke ranah personal anak.
  2. Periode 2022–2025: Fase di mana kejatuhan nilai literasi terjadi paling tajam dan signifikan. Sebagian besar sistem pendidikan dunia gagal mempertahankan standar kompetensi dasar membaca.
  3. Dampak Akumulatif: Sebanyak 75 persen atau tiga perempat dari seluruh negara yang dievaluasi mengalami penurunan performa membaca secara berkelanjutan.

Rata-rata skor membaca di negara-negara anggota OECD merosot setara dengan hilangnya lebih dari satu tahun masa pembelajaran. Hal ini menandakan bahwa seorang siswa berusia 15 tahun saat ini memiliki pemahaman membaca yang jauh lebih rendah dibandingkan generasi seusianya pada satu dekade lalu.

Indikator Evaluasi Capaian Historis Kondisi Terkini (2025)
Negara Mengalami Penurunan Stabil / Variatif 75% dari Total Negara Evaluasi
Rata-rata Penurunan OECD Baseline PISA Setara >1 Tahun Pembelajaran Hilang
Fase Penurunan Terparah - Rentang Tahun 2022–2025

Dampak Penggunaan Layar dan Berkurangnya Interaksi Verbal

Mengapa fenomena kemunduran ini bisa terjadi di tengah maraknya teknologi edukasi? Schleicher menyoroti fenomena sosial di mana "kita semakin sedikit berbicara secara langsung". Ketergantungan anak-anak pada layar gawai (screens) dan media sosial telah mengikis ruang interaksi verbal yang mendalam, baik di rumah maupun di lingkungan sekolah.

Kebiasaan membaca teks panjang yang membutuhkan konsentrasi tinggi kini tergeser oleh konsumsi konten digital berdurasi singkat secara pasif. "Sistem pendidikan kita seolah mengubah anak-anak sekolah menjadi boneka uji coba bagi eksperimen teknologi tanpa mempersiapkan fondasi berpikir kritis yang memadai," ungkap Schleicher dalam tulisannya.

Ia menambahkan bahwa kecerdasan buatan seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti proses bernalar manusia. Ketika anak-anak kehilangan kemampuan menganalisis narasi yang rumit, mereka menjadi sangat rentan terhadap paparan disinformasi, manipulasi algoritma, dan ketidakmampuan membedakan fakta dari opini.

Urgensi Reformasi Pendidikan di Era Kecerdasan Buatan

Di masa depan, kemampuan bernalar tingkat tinggi (higher-order thinking skills) adalah satu-satunya keunggulan absolut manusia di hadapan mesin. Sistem AI dapat menghasilkan teks, analisis, dan kode program dalam hitungan detik, tetapi manusia tetap membutuhkan kapasitas literasi mendalam untuk mengevaluasi, memvalidasi, serta mempertanyakan kebenaran dari luaran AI tersebut.

Oleh karena itu, Schleicher mengimbau para pembuat kebijakan dan praktisi pendidikan global untuk segera mengevaluasi penggunaan gawai yang tidak terstruktur di sekolah. Sekolah diimbau untuk mengembalikan fokus utama pada pembelajaran berbasis literasi mendalam, diskusi interaktif antarsiswa, dan kebiasaan membaca literatur secara intensif guna menyongsong era AI secara bijak.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS putri-anggraini

Fact Checker Politik. Memverifikasi klaim publik, pidato pejabat, dan informasi viral. Anggota jaringan cek fakta Indonesia.

Comments (0)

User