Panen Rumput Laut di Teluk Bogam, Budidaya Pesisir Tumbuh di Kotawaringin Barat
Petani rumput laut di kawasan pesisir Desa Teluk Bogam, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, kembali melakukan panen pada pekan ini setelah memasuki masa budidaya sekitar ...
Petani rumput laut di kawasan pesisir Desa Teluk Bogam, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, kembali melakukan panen pada pekan ini setelah memasuki masa budidaya sekitar 40 hari. Aktivitas panen berlangsung di hamparan keramba apung yang membentang tidak jauh dari garis pantai desa tersebut, dengan hasil berupa rumput laut jenis Eucheuma cottonii yang selama ini menjadi komoditas unggulan warga setempat.
Berdasarkan pantauan di lokasi, para petani menarik bentang tali atau longline sejak pagi hari, kemudian memisahkan tanaman dari tali dan mengikat hasil panen ke dalam karung sebelum dibawa ke daratan untuk dijemur. Proses penjemuran umumnya memakan waktu dua hingga tiga hari, bergantung pada intensitas sinar matahari, sebelum rumput laut kering siap dijual kepada pengepul yang beroperasi di wilayah Kecamatan Kumai.
Budidaya Rumput Laut Jadi Mata Pencaharian Alternatif Warga Pesisir
Seorang petani rumput laut di Desa Teluk Bogam menuturkan, budidaya komoditas tersebut menjadi sumber penghasilan tambahan di sela-sela aktivitas melaut. Menurutnya, satu bentang tali dengan panjang sekitar 25 meter dapat menghasilkan puluhan kilogram rumput laut basah dalam satu siklus tanam.
"Kalau cuaca bagus dan air laut stabil, hasilnya lumayan. Satu kali panen bisa menambah penghasilan keluarga, apalagi kalau harga kering sedang tinggi," ujarnya di sela-sela aktivitas panen.
Ia menyatakan, perawatan tanaman rumput laut relatif sederhana karena tidak memerlukan pakan tambahan. Petani cukup membersihkan tanaman dari kotoran dan sampah laut secara berkala serta memastikan tali bentang tidak putus akibat arus atau gelombang yang datang sewaktu-waktu.
Pemerintah Dorong Pengembangan Sektor Kelautan dan Perikanan
Pemerintah daerah melalui Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kotawaringin Barat menyatakan terus mendorong pengembangan budidaya rumput laut sebagai bagian dari penguatan ekonomi masyarakat pesisir. Kawasan perairan Kecamatan Kumai, termasuk Desa Teluk Bogam, dinilai memiliki karakteristik perairan yang relatif tenang dan sesuai untuk pengembangan komoditas tersebut.
"Budidaya rumput laut merupakan salah satu program yang kami dorong karena modalnya relatif terjangkau, perawatannya mudah, dan pasarnya terbuka luas. Kami terus melakukan pendampingan kepada kelompok pembudidaya di kawasan pesisir," kata seorang pejabat Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kotawaringin Barat.
Di tingkat nasional, Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menetapkan rumput laut sebagai salah satu komoditas unggulan dalam pengembangan ekonomi biru. Indonesia tercatat sebagai salah satu produsen rumput laut terbesar di dunia, dengan produksi nasional mencapai sekitar 9 juta ton berat basah per tahun, yang sebagian besar diserap oleh industri pengolahan dalam negeri maupun pasar ekspor.
Permintaan pasar ekspor terhadap rumput laut kering, antara lain dari Tiongkok, Vietnam, dan Filipina, menjadi faktor yang menjaga keberlanjutan usaha budidaya di tingkat petani. Komoditas ini diolah menjadi berbagai produk turunan, mulai dari karaginan untuk industri makanan, farmasi, dan kosmetik hingga bahan baku pupuk organik.
Tantangan Cuaca, Bibit, dan Fluktuasi Harga
Meski prospeknya menjanjikan, para pembudidaya di Teluk Bogam menghadapi sejumlah kendala. Perubahan cuaca ekstrem dan tingginya sedimentasi saat musim hujan kerap memicu serangan penyakit ice-ice yang menyebabkan tanaman memutih dan rontok sebelum masa panen tiba.
Selain faktor alam, ketersediaan bibit berkualitas juga menjadi persoalan. Sebagian petani masih mengandalkan bibit hasil seleksi sendiri dari tanaman periode sebelumnya, yang kualitasnya cenderung menurun setelah beberapa kali siklus tanam.
Fluktuasi harga di tingkat pengepul turut memengaruhi pendapatan petani. Harga rumput laut kering jenis cottonii di sejumlah daerah sentra produksi bergerak pada kisaran Rp10.000 hingga Rp20.000 per kilogram, bergantung pada kadar air, kebersihan, serta permintaan dari pabrikan pengolah.
"Kami berharap ada kestabilan harga dan bantuan bibit unggul, supaya hasil panen lebih maksimal dan petani tidak terus-menerus bergantung pada harga dari pengepul," ujar petani tersebut.
Pemerintah daerah menyatakan akan menindaklanjuti aspirasi para pembudidaya melalui program pendampingan teknis, penyediaan bibit unggul, serta perluasan akses pasar. Upaya tersebut diharapkan menjadikan budidaya rumput laut sebagai tulang punggung ekonomi masyarakat pesisir Kotawaringin Barat secara berkelanjutan.
Comments (0)