PANDEGLANG, Apaberita.com – Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas Banten, Ditpolairud Polda Banten, TNI AL, dan relawan kebencanaan terus berpacu dengan waktu guna menyisir perairan Selat Sunda. Operasi pencarian intensif ini difokuskan untuk menemukan lima orang jurnalis yang dilaporkan hilang kontak saat bertugas meliput aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di sekitar kawasan Pulau Sertung, Kabupaten Pandeglang.
Hingga memasuki pencarian intensif pada hari ini, pemantauan visual jarak jauh menggunakan teropong berkekuatan tinggi dari posko aju belum menunjukkan tanda-tanda keberadaan para awak media tersebut. Tim penyelamat kini berupaya menembus areal rawan demi memperluas radius penyisiran di titik koordinat terakhir korban terdeteksi.
Kronologi Hilangnya Rombongan Jurnalis
Berdasarkan data yang dihimpun dari posko SAR terpadu, kronologis peristiwa hilangnya rombongan pewarta ini bermula ketika mereka bergerak menuju kawasan kepulauan vulkanik:
- Keberangkatan Menuju Lokasi: Rombongan jurnalis bertolak menggunakan perahu motor carteran dari pesisir Pandeglang menuju Pulau Sertung untuk mendokumentasikan peningkatan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
- Kontak Terakhir Terputus: Komunikasi terakhir antara tim peliput dan kantor redaksi masing-masing terputus saat cuaca di sekitar Selat Sunda memburuk bersamaan dengan lontaran material abu vulkanik.
- Laporan Resmi Diterima: Pihak keluarga dan asosiasi jurnalis melaporkan keterlambatan kepulangan kapal, yang segera direspons Basarnas dengan penetapan status operasi pencarian dan pertolongan.
Tantangan Cuaca Ekstrem dan Zona Rawan Bahaya
Operasi penyelamatan menghadapi rintangan geografis dan geologis yang sangat berisiko. Status aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih fluktuatif membatasi ruang gerak kapal penyelamat untuk mendekati bibir pantai Pulau Sertung dalam jarak aman tertentu.
"Kondisi di lapangan cukup menantang karena selain gelombang laut yang mencapai dua meter, hembusan abu vulkanik dan gas berbahaya dari kawah masih cukup pekat. Kami harus memastikan keselamatan personel sambil terus berupaya merangsek masuk ke zona koordinat dugaan perahu bersandar," ungkap perwakilan Tim SAR Gabungan di Pandeglang.
Untuk mengoptimalkan misi evakuasi, tim mengerahkan berbagai armada taktis dan perlengkapan modern, antara lain:
- Rigid Inflatable Boat (RIB): Unit perahu cepat Basarnas untuk bermanuver di perairan dangkal dan berkarang.
- Kapal Patroli Polairud: Kapal berkemampuan jelajah tinggi sebagai pusat komando bergerak di laut lepas.
- Drone Thermal Pemantau Udara: Pesawat nirawak berkamera pendeteksi panas tubuh guna memindai daratan Pulau Sertung dari udara.
- Peralatan Komunikasi Satelit: Menunjang koordinasi antar-regu di area blank spot sinyal seluler.
Penyisiran Darat dan Koordinasi Lintas Instansi
Selain penyisiran perairan, regu penyelamat darat juga bersiap diterjunkan apabila kondisi visual dan konsentrasi gas vulkanik dinyatakan aman oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Prioritas utama adalah memeriksa pesisir Pulau Sertung, pulau tak berpenghuni yang kerap menjadi tempat berlindung darurat bagi nelayan maupun kapal motor yang mengalami kendala mesin saat melintas di Selat Sunda.
Polda Banten mengimbau kepada masyarakat pesisir, kelompok nelayan, dan operator kapal penyeberangan untuk segera memberikan informasi kepada posko terdekat apabila menemukan puing perahu, perlengkapan liputan, atau tanda-tanda keberadaan korban di tengah laut.
Comments (0)