Pameran Foto Prahara Pulau Emas Digelar di Museum Tsunami Aceh
BANDA ACEH — Pameran foto jurnalistik bertajuk "Prahara Pulau Emas" resmi dibuka untuk umum di Museum Tsunami Aceh, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh, pada Sabtu, 8 Agustus 2026. Pameran tersebut mengh...
BANDA ACEH — Pameran foto jurnalistik bertajuk "Prahara Pulau Emas" resmi dibuka untuk umum di Museum Tsunami Aceh, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh, pada Sabtu, 8 Agustus 2026. Pameran tersebut menghadirkan puluhan karya fotografi yang merekam jejak berbagai peristiwa bencana alam di Pulau Sumatera, mulai dari gempa bumi, tsunami, erupsi gunung api, hingga banjir bandang dan tanah longsor. Sejak pagi, para pengunjung terlihat menyusuri ruang galeri dan mengamati satu per satu karya yang dipajang pada dinding pameran.
Penyelenggara menyatakan pameran ini disusun sebagai ruang refleksi publik atas kerentanan Sumatera terhadap bencana sekaligus bentuk penghormatan terhadap kerja para pewarta foto yang bertugas di lokasi kejadian. Judul pameran merujuk pada sebutan kuno Sumatera, yakni Suvarnadvipa atau pulau emas, wilayah subur yang sepanjang sejarahnya juga berulang kali dilanda bencana besar.
Puluhan Karya Mendokumentasikan Ragam Peristiwa Bencana
Berdasarkan keterangan panitia penyelenggara, pameran menampilkan sekitar 60 karya fotografi hasil liputan jurnalis foto dari berbagai daerah di Sumatera dalam kurun dua dekade terakhir. Materi yang dipamerkan mencakup dokumentasi gempa bumi dan tsunami Aceh pada 26 Desember 2004, gempa besar yang mengguncang Kota Padang dan sekitarnya pada 30 September 2009, rangkaian erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, letusan Gunung Marapi di Sumatera Barat pada Desember 2023, serta banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah kabupaten di Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Kurator pameran menyatakan setiap karya dilengkapi keterangan waktu, lokasi, dan konteks peristiwa agar pengunjung memperoleh pemahaman yang utuh atas setiap dokumentasi yang disaksikan.
"Setiap bingkai yang ditampilkan bukan sekadar gambar, melainkan dokumen sejarah. Karya-karya ini menegaskan bahwa kesiapsiagaan masyarakat merupakan harga mati dalam menghadapi ancaman bencana," ujar kurator pameran dalam sambutan pembukaan di Museum Tsunami Aceh, Sabtu.
Kepala Museum Tsunami Aceh menyatakan penyelenggaraan pameran merupakan bagian dari program edukasi kebencanaan yang ditetapkan pihaknya sepanjang tahun 2026. Ia menegaskan museum tidak hanya berfungsi sebagai monumen peringatan, melainkan juga sebagai lembaga pembelajaran bagi masyarakat luas.
"Museum Tsunami Aceh menegaskan komitmennya sebagai pusat edukasi kebencanaan. Pameran foto ini merupakan upaya menindaklanjuti amanat tersebut, agar generasi muda memahami risiko bencana di wilayah tempat tinggalnya dan mengambil pelajaran dari peristiwa masa lalu," katanya.
Museum Tsunami Aceh sebagai Pusat Edukasi Kebencanaan
Museum Tsunami Aceh berdiri di Jalan Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh, dan diresmikan pada 2009. Bangunan empat lantai itu dirancang oleh arsitek Ridwan Kamil sebagai monumen peringatan bagi lebih dari 170 ribu jiwa yang meninggal dunia di Aceh akibat gempa berkekuatan magnitudo 9,1 serta tsunami Samudra Hindia pada akhir 2004. Hingga kini, museum tersebut menjalankan fungsi dokumentasi, penelitian, dan pendidikan mitigasi bencana.
Pengelola mencatat jumlah kunjungan ke Museum Tsunami Aceh mengalami peningkatan pada akhir pekan dan masa liburan sekolah. Selain pameran tetap berupa diorama, artefak, dan dokumentasi tsunami 2004, museum secara berkala menyelenggarakan pameran temporer, diskusi publik, serta simulasi evakuasi bencana bagi pelajar.
Pemerintah Daerah Dorong Literasi Mitigasi Bencana
Pemerintah Aceh melalui Badan Penanggulangan Bencana Aceh menyambut baik penyelenggaraan pameran tersebut. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh menyatakan kegiatan pameran foto sejalan dengan upaya pemerintah daerah memperkuat literasi mitigasi bencana di kalangan masyarakat.
"Provinsi Aceh merupakan daerah dengan tingkat risiko bencana yang tinggi. Karena itu, setiap kegiatan yang memperkuat kesadaran masyarakat terhadap risiko bencana patut didukung. Dokumentasi visual memiliki daya ingat yang kuat bagi publik," ujarnya dalam keterangan tertulis.
Secara geografis, Pulau Sumatera berada pada kawasan rawan bencana karena dilintasi pertemuan Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia serta dibelah Sesar Sumatera dari ujung utara hingga selatan. Pulau ini juga memiliki belasan gunung api aktif yang tersebar dari Aceh hingga Lampung. Kondisi tersebut menyebabkan gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, banjir, dan tanah longsor tercatat berulang kali terjadi di wilayah Sumatera.
Pameran Prahara Pulau Emas dijadwalkan berlangsung hingga 8 September 2026 dan dibuka setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB. Panitia menyatakan masyarakat dapat menyaksikan seluruh karya tanpa dipungut biaya tambahan di luar tiket masuk museum. Penyelenggara menargetkan ribuan pengunjung, termasuk pelajar dan mahasiswa, hadir selama masa pameran berlangsung.
Comments (0)