Pameran Canvas of Dreams 2026, Mensos Puji Karya Inklusif Siswa Disabilitas

Jakarta – Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, memberikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan pameran seni Canvas of Dreams 2026 di Galeri Seni Nasional, Jakart...

Pameran Canvas of Dreams 2026, Mensos Puji Karya Inklusif Siswa Disabilitas

Jakarta – Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, memberikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan pameran seni Canvas of Dreams 2026 di Galeri Seni Nasional, Jakarta Pusat, pada Minggu (27/7/2026). Pameran yang melibatkan 150 siswa dari 45 sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP) se-DKI Jakarta ini secara khusus menampilkan 80 karya seni buatan peserta penyandang disabilitas, menegaskan komitmen inklusi tanpa batas.

Dalam sambutan pembukaannya, Gus Ipul menekankan bahwa pameran ini bukan sekadar ajang unjuk bakat, melainkan wujud nyata kesetaraan. “Saya sangat bangga melihat bagaimana anak-anak dengan berbagai keterbatasan justru mampu menciptakan karya yang luar biasa. Ini adalah bukti bahwa potensi tidak mengenal perbedaan fisik. Pemerintah akan terus mendukung ruang-ruang ekspresi seperti ini,” ujarnya di hadapan peserta, guru pendamping, dan orang tua.

Kolaborasi Multi Pihak dan Data Peserta

Pameran yang berlangsung selama tiga hari, sejak 26 hingga 28 Juli 2026, merupakan hasil kerja sama Kementerian Sosial, Dinas Pendidikan DKI Jakarta, dan Yayasan Kreativitas Nusantara. Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Budi Santoso, menjelaskan bahwa kegiatan ini adalah puncak dari program pelatihan seni inklusif yang telah menjangkau 500 siswa di 45 sekolah selama enam bulan terakhir. “Kami mencatat ada 30 SD dan 15 SMP yang berpartisipasi. Dari 200 karya yang dipamerkan, sebanyak 40 persen berasal dari siswa penyandang disabilitas. Ini menunjukkan bahwa ketika akses diberikan, hasilnya melampaui ekspektasi,” kata Budi.

Ketua Yayasan Kreativitas Nusantara, Andi Wijaya, menambahkan bahwa program tersebut dirancang untuk membangun ekosistem di mana anak-anak disabilitas tidak hanya sebagai peserta, tetapi juga agen perubahan. “Kami memberikan pelatihan intensif selama enam bulan, mulai dari teknik dasar hingga pendampingan psikososial. Ternyata banyak anak yang awalnya pendiam kini menjadi lebih percaya diri dan mampu berkomunikasi melalui karyanya,” jelasnya.

Karya Inspiratif dan Cerita Peserta

Lukisan berjudul “Mimpi di Atas Awan” karya Dafa (12), siswa tunarungu dari SDN Menteng 01, menjadi salah satu pusat perhatian. Dafa yang hadir didampingi ibunya, Sari, melukiskan cita-citanya menjadi astronot dengan sapuan warna berani. Mensos bahkan menyempatkan diri berinteraksi dengan bahasa isyarat sederhana dan memuji keberanian Dafa. “Anak saya sejak kecil selalu ingin bisa terbang. Melalui pameran ini, dia merasa mimpinya diakui. Ini hadiah terbesar untuk kami,” ujar Sari sambil menyeka air mata.

Selain lukisan, pameran juga menampilkan patung mini dan kolase hasil kreasi siswa tunadaksa dan tunagrahita. Koordinator pameran, Rina Puspita, menyebut bahwa seluruh karya dibuat menggunakan alat bantu khusus yang disediakan panitia, seperti kuas modifikasi dan meja lukis yang dapat disesuaikan. “Kami ingin tidak ada alasan bagi anak untuk tidak berkarya karena keterbatasan alat,” tegasnya.

Dukungan Regulasi dan Anggaran

Pada kesempatan itu, Gus Ipul menegaskan bahwa pameran ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas yang menjamin hak atas pendidikan dan kebudayaan. Ia mengungkapkan bahwa Kementerian Sosial telah mengalokasikan Rp85 miliar untuk program perlindungan anak pada tahun anggaran 2026, termasuk di dalamnya pendanaan kegiatan seni inklusif di seluruh Indonesia. “Kami tidak ingin hanya Jakarta yang melakukannya. Saya sudah menginstruksikan seluruh Kepala Dinas Sosial provinsi untuk mereplikasi model ini. Tahun depan, kita targetkan minimal 20 provinsi menggelar pameran serupa,” katanya dalam sesi jumpa pers.

Pakar psikologi anak dari Universitas Indonesia, Dr. Rina Mulyani, yang menjadi pembicara dalam seminar pendamping, menekankan bahwa seni adalah terapi efektif untuk membangun kecerdasan emosional anak berkebutuhan khusus. “Ketika anak diberi apresiasi nyata, bukan hanya retorika, proses penyembuhan psikologis berjalan lebih cepat. Pameran ini memberikan validasi luar biasa bagi mereka,” ujarnya.

Penutup dan Harapan

Sebagai penutup, Mensos bersama seluruh peserta menandatangani sebuah kanvas besar sebagai simbol persatuan tanpa batas. Kementerian Sosial juga menyerahkan bantuan 20 paket alat lukis inklusif kepada sekolah-sekolah yang memiliki siswa disabilitas. Pameran ini juga akan diabadikan dalam katalog digital yang akan disebarluaskan ke lembaga internasional sebagai bentuk diplomasi sosial. Gus Ipul menutup dengan optimisme, “Mimpi anak-anak ini harus kita jaga bersama. Mereka adalah masa depan Indonesia yang sesungguhnya.”

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User