Sep 18, 2026
Hukum

Pakar Ungkap Mayoritas Penderita Buta Warna Tidak Menyadari Kondisinya

JAKARTA — Banyak orang menjalani kehidupan sehari-hari selama bertaruh-tahun tanpa pernah menyadari bahwa mereka memiliki gangguan persepsi warna atau yang

Pakar Ungkap Mayoritas Penderita Buta Warna Tidak Menyadari Kondisinya

JAKARTA — Banyak orang menjalani kehidupan sehari-hari selama bertaruh-tahun tanpa pernah menyadari bahwa mereka memiliki gangguan persepsi warna atau yang populer dikenal sebagai buta warna. Kondisi ini sering kali baru terdeteksi secara tidak sengaja ketika seseorang mengalami kesulitan membaca grafik warna, memilih pakaian, atau saat menjalani pemeriksaan kesehatan fisik untuk keperluan sekolah maupun pekerjaan.

Bagi individu yang terlahir dengan defisiensi penglihatan warna, dunia yang mereka lihat adalah satu-satunya realitas visual yang mereka kenal sejak kecil. Oleh karena itu, tidak ada rasa atau sensasi bahwa cara pandang mereka terhadap warna sebenarnya berbeda dari persepsi orang normal pada umumnya. Kondisi gangguan visual ini pun jauh dari kata langka di tengah masyarakat global.

Berdasarkan data medis dari National Eye Institute (NEI) Amerika Serikat, diperkirakan sekitar satu dari 12 pria (sekitar 8 persen) mengalami beberapa tingkat gangguan penglihatan warna. Sebaliknya, angka ini jauh lebih rendah pada populasi wanita, yaitu hanya memengaruhi kurang dari satu persen wanita di seluruh dunia.

Mitos Populer: Buta Warna Tidak Selalu Hitam-Putih

Salah satu kekeliruan paling umum di tengah masyarakat adalah menganggap penderita buta warna melihat lingkungan sekitarnya secara monokromatik atau serba hitam, putih, dan abu-abu. Pada kenyataannya, kasus buta warna total atau akromatopsia sangat jarang terjadi pada manusia.

Sebagian besar penderita masih dapat melihat warna dengan jelas, namun sel retina mata mereka mengalami kesulitan dalam mendiskriminasi gradasi atau kombinasi warna tertentu. Gangguan ini paling sering melibatkan spektrum warna merah dan hijau.

Secara umum, tim medis membagi gangguan persepsi warna menjadi beberapa kategori utama:

  • Defisiensi Merah-Hijau: Tipe paling dominan di mana penderita kesulitan membedakan nuansa warna merah, hijau, cokelat, dan oranye.
  • Defisiensi Biru-Kuning: Tipe yang lebih jarang terjadi, memengaruhi kemampuan membedakan warna biru dengan hijau, atau warna kuning dengan merah muda.
  • Monokromasi (Buta Warna Total): Kondisi sangat langka di mana seseorang sama sekali tidak mampu mempersepsikan warna selain skala hitam, putih, dan abu-abu.

Penyebab Genetik dan Dominasi pada Pria

Mengapa pria jauh lebih banyak terdampak ketimbang wanita? Jawabannya terletak pada pola pewarisan genetik kromosom manusia. Gen yang bertanggung jawab atas pembuatan sel fotosensitif atau sel kerucut penerima warna pada retina terletak pada kromosom X.

Pria memiliki pasangan kromosom seks XY (satu kromosom X dari ibu dan satu kromosom Y dari ayah). Jika kromosom X tunggal milik pria membawa mutasi genetik buta warna, maka pria tersebut dipastikan langsung mengalami gangguan penglihatan warna.

Di sisi lain, wanita memiliki dua kromosom X (XX). Supaya seorang wanita menderita buta warna bawaan, kedua kromosom X miliknya harus membawa gen mutasi tersebut secara bersamaan. Jika hanya satu kromosom X yang terpengaruh, wanita tersebut hanya bertindak sebagai carrier (pembawa sifat) tanpa pernah mengalami kelainan penglihatan visual.

Perbedaan Kondisi Bawaan dan Faktor Penyakit

Selain faktor kelainan bawaan sejak lahir, para ahli spesialis mata membedakan buta warna genetik dengan gangguan penglihatan warna yang didapat di kemudian hari (*acquired color vision deficiency*).

Perubahan persepsi warna pada orang dewasa bisa muncul seiring bertambahnya usia atau dipicu oleh kelainan medis tertentu, seperti penyakit glaukoma, katarak, degenerasi makula, kerusakan saraf optik, serta efek samping penggunaan obat-obatan medis jangka panjang.

"Banyak pasien baru menyadari adanya perubahan persepsi warna saat penyakit mata atau efek pengobatan mulai merusak sel fotoreseptor retina. Pemeriksaan dini sangat penting untuk mengidentifikasi penyebabnya,"

Para tenaga medis mengimbau masyarakat untuk melakukan pemeriksaan mata secara berkala, terutama jika mulai merasakan adanya penurunan kemampuan mendeteksi perbedaan warna dalam kehidupan sehari-hari.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS hendra-wijaya

Editor Politik. Mantan jurnalis cetak dengan spesialisasi politik elektoral. Menulis analisis kebijakan dan reportase parlemen.

Comments (0)

User