SEMARANG — Potensi energi panas bumi atau geothermal di kawasan Gunung Ungaran, Jawa Tengah, dinilai memiliki manfaat besar bagi penyediaan energi nasional sekaligus ramah terhadap kelestarian lingkungan. Hal tersebut disampaikan pakar energi dalam sebuah forum kajian yang digelar di Semarang, Senin (10/2/2025), dengan menegaskan bahwa pemanfaatan panas bumi menjadi salah satu opsi strategis dalam transisi energi menuju sumber daya terbarukan.
Dalam paparannya, pakar menyatakan bahwa karakteristik geothermal berbeda dengan sumber energi fosil karena memanfaatkan panas yang berasal dari aktivitas vulkanik di perut bumi. "Panas bumi merupakan energi terbarukan yang pasokannya relatif stabil dan tidak bergantung pada cuaca, sehingga cocok menjadi penopang beban dasar kelistrikan," ujar pakar tersebut di hadapan peserta forum.
Menurut kajian yang dipaparkan, keberadaan Gunung Ungaran sebagai salah satu gunung api muda di Jawa Tengah menyimpan cadangan panas bumi yang layak dikembangkan. Potensi tersebut dinilai dapat dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga panas bumi, pemanfaatan langsung untuk sektor pertanian, hingga pengembangan kawasan wisata edukasi energi.
Ramah Lingkungan dan Rendah Emisi
Pakar menegaskan bahwa teknologi panas bumi modern menghasilkan emisi karbon yang jauh lebih rendah dibandingkan pembangkit berbahan bakar batu bara. "Pemanfaatan uap panas bumi untuk pembangkit listrik hanya menghasilkan emisi dalam jumlah kecil, sehingga sejalan dengan komitmen pengurangan karbon nasional," tuturnya.
Selain itu, lanjutnya, proses pengembangan panas bumi dilakukan dengan memperhatikan aspek konservasi dan tata ruang. Ia menyatakan bahwa eksplorasi dan eksploitasi harus mengikuti kaidah perlindungan lingkungan agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap kawasan hutan dan sumber air di sekitar Gunung Ungaran.
Berpotensi Beri Manfaat Ekonomi
Dari sisi ekonomi, pakar menyebut pengembangan panas bumi dapat membuka lapangan kerja lokal, meningkatkan pendapatan daerah, serta mendorong tumbuhnya industri pendukung. "Kehadiran proyek panas bumi di suatu daerah biasanya diikuti dengan pembangunan infrastruktur dan peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat sekitar," ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, badan usaha, dan perguruan tinggi dalam melakukan pemetaan potensi serta kajian kelayakan. Menurutnya, data yang akurat menjadi dasar pengambilan keputusan agar investasi panas bumi berjalan efektif dan berkelanjutan.
Perlu Dukungan Regulasi dan Investasi
Dalam forum tersebut, pakar menekankan bahwa pengembangan panas bumi membutuhkan kepastian regulasi dan iklim investasi yang kondusif. Ia menyatakan bahwa tahapan eksplorasi panas bumi tergolong berisiko tinggi dan memerlukan biaya besar, sehingga insentif pemerintah menjadi faktor penting.
"Dibutuhkan dukungan kebijakan yang konsisten, termasuk kemudahan perizinan dan skema pembiayaan yang menarik bagi investor," tegasnya. Ia menambahkan bahwa hilirisasi energi terbarukan harus ditempatkan sebagai agenda prioritas dalam perencanaan pembangunan jangka panjang.
Pakar juga mengingatkan bahwa pemanfaatan panas bumi perlu disertai dengan sosialisasi kepada masyarakat sekitar agar timbul pemahaman bersama. Pendekatan partisipatif dinilai mampu meminimalkan potensi penolakan dan memastikan manfaat proyek dirasakan langsung oleh warga.
Dengan potensi yang dimiliki, kawasan Gunung Ungaran disebut berpeluang menjadi salah satu penopang bauran energi terbarukan di Jawa Tengah. Pakar berharap pengembangan panas bumi tidak hanya berorientasi pada pasokan listrik, tetapi juga pada konservasi lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
"Panas bumi adalah warisan alam yang harus dikelola secara bijak. Jika dikembangkan dengan tata kelola yang baik, ia dapat menjadi tulang punggung energi bersih sekaligus menjaga kelestarian Gunung Ungaran untuk generasi mendatang," pungkasnya.
Comments (0)