Petenis putra andalan Jerman, Alexander Zverev, sukses mengukir sejarah baru dalam kariernya setelah merebut gelar juara tunggal putra US Open di Flushing Meadows, New York. Bertanding di hadapan puluhan ribu penonton di Arthur Ashe Stadium, petenis peringkat atas dunia tersebut berhasil meredam perlawanan sengit wakil tuan rumah, Ben Shelton, melalui duel empat set dengan skor akhir 6-3, 7-6 (7/2), 5-7, dan 6-2.
Kemenangan prestisius ini menjadi gelar Grand Slam kedua bagi Zverev sekaligus menghapus memori kelam enam tahun silam. Pada final US Open 2020 lalu, Zverev harus menelan kekalahan pahit yang sangat dramatis dari Dominic Thiem meski sempat unggul dua set terlebih dahulu.
Dominasi Awal dan Keunggulan Mental Zverev
Sejak gim pembuka, Zverev langsung mengambil inisiatif serangan dengan mengandalkan servis pertama yang tajam dan akurat. Mengontrol tempo permainan dari baseline, petenis Jerman ini membatasi ruang tembak Shelton yang dikenal memiliki pukulan forehand keras dan servis bertenaga.
- Set Pertama (6-3): Zverev langsung mematahkan servis Shelton pada gim keempat berkat pengembalian bola yang presisi, mengamankan keunggulan dan menutup set pembuka dalam waktu 38 menit.
- Set Kedua (7-6 [7/2]): Shelton memberikan perlawanan ketat dan memaksakan babak tie-break. Namun, ketenangan Zverev membuatnya mendominasi poin-poin krusial hingga menang telak 7-2 di babak penentuan ini.
- Set Ketiga (5-7): Mendapat dukungan penuh dari publik tuan rumah, Shelton bangkit. Memanfaatkan penurunan konsentrasi sesaat dari Zverev, petenis muda AS itu mencuri break point di akhir set untuk memperpanjang napas pertandingan.
- Set Keempat (6-2): Menolak momentum lawan berlanjut, Zverev tampil tanpa celah di set penentu. Ia melancarkan rentetan pukulan backhand down-the-line yang mematikan dan mengunci gelar juara dengan servis as gemilang.
"Enam tahun lalu saya berdiri di lapangan ini dengan trofi runner-up dan hati yang hancur. Meraih gelar ini sekarang di hadapan atmosfer yang luar biasa adalah pencapaian terbesar dalam hidup saya," ujar Zverev dalam pidato kemenangannya.
Penebusan Penantian Panjang di Flushing Meadows
Kemenangan Zverev di New York mempertegas statusnya sebagai salah satu petenis paling konsisten di level tertinggi. Sepanjang turnamen, pemain berusia 29 tahun ini membukukan statistik impresif, termasuk persentase kemenangan poin servis pertama yang mencapai lebih dari 82 persen di laga final.
Di sisi lain, Ben Shelton tetap menuai banyak pujian atas perjuangannya hingga menembus partai puncak Grand Slam pertamanya. Meski harus puas menjadi runner-up, performa impresif petenis muda Amerika Serikat ini dinilai menjadi sinyal kuat kebangkitan generasi baru tenis dunia.
Petenis Jerman, Alexander Zverev, menuntaskan misi balas dendamnya di Flushing Meadows usai mengalahkan wakil tuan rumah Ben Shelton 6-3, 7-6 (7/2), 5-7, 6-2 di laga final. Ini merupakan gelar Grand Slam kedua bagi Zverev.
Comments (0)