Mubasyier Fatah Ajak Kader NU Perkuat Literasi Keamanan Siber
Jakarta — Praktisi keamanan siber sekaligus Bendahara Umum Pimpinan Pusat Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU), Mubasyier Fatah, menyerukan penguatan literasi
Jakarta — Praktisi keamanan siber sekaligus Bendahara Umum Pimpinan Pusat Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU), Mubasyier Fatah, menyerukan penguatan literasi keamanan digital di kalangan warga Nahdliyin. Dalam Seminar Nasional bertajuk “Menjaga Umat di Ruang Digital” yang digelar secara hibrida dari Jakarta, ia menegaskan bahwa organisasi keagamaan tak luput dari gempuran serangan siber yang kian canggih dan massif.
Acara yang berlangsung pada Sabtu (12/6/2026) itu dihadiri oleh ratusan kader ISNU dari berbagai daerah, baik secara luring maupun daring. Mubasyier yang juga dikenal sebagai pendiri firma konsultan keamanan digital, menyoroti bahwa ekosistem digital warga NU—mulai dari media sosial, aplikasi donasi, hingga basis data keanggotaan—masih rentan dibobol.
Kronologi Acara dan Poin Penting
- Pukul 08.30 WIB — Pembukaan oleh Ketua Umum PP ISNU. Dalam sambutannya, ia menyinggung insiden peretasan situs web milik salah satu cabang ISNU di Jawa Timur yang sempat viral bulan lalu.
- Pukul 09.15 WIB — Mubasyier Fatah naik panggung sebagai pembicara utama. Ia langsung memaparkan data terbaru: “Sepanjang kuartal pertama 2026, BSSN mencatat 98,7 juta serangan siber di Indonesia, dengan sektor pendidikan dan keagamaan mengalami kenaikan eksploitasi sebesar 34 persen dibanding tahun lalu,” ujarnya.
- Pukul 10.30 WIB — Sesi demo langsung: Mubasyier menunjukkan betapa mudahnya akun WhatsApp pengurus organisasi diambil alih hanya lewat teknik social engineering sederhana. Para peserta yang menyaksikan demo itu tampak terkejut.
- Pukul 11.15 WIB — Diskusi panel yang juga diisi oleh perwakilan Kementerian Kominfo dan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Panelis menyoroti perlunya regulasi internal organisasi soal perlindungan data pribadi jemaah.
- Pukul 12.30 WIB — Penutupan dan penandatanganan komitmen bersama “ISNU Siber Aman” oleh seluruh pengurus wilayah yang hadir.
Ancaman Nyata di Balik Data Jemaah
Mubasyier Fatah menyatakan bahwa data keanggotaan organisasi keagamaan rawan disalahgunakan untuk penipuan dan pencucian uang. “Banyak yang menganggap warga NU hanya pengajian dan zikir. Padahal, basis data kita sangat besar, dengan lebih dari 50 juta anggota yang datanya bisa menjadi komoditas empuk,” tegasnya. Ia juga menyoroti maraknya akun palsu mengatasnamakan tokoh NU untuk meminta sumbangan fiktif.
“Literasi keamanan digital bukan sekadar tahu password kuat. Ini soal membangun kesadaran kolektif bahwa setiap unggahan, setiap klik, bisa menjadi pintu masuk musuh,” ucap Mubasyier di hadapan peserta.
Langkah Konkret ke Depan
Sebagai tindak lanjut seminar, PP ISNU berencana membentuk Satuan Tugas Keamanan Siber di setiap pengurus wilayah. Satgas ini akan bertugas melakukan audit berkala terhadap aset digital organisasi, serta memberikan pelatihan dasar keamanan siber kepada pengurus cabang. Mubasyier sendiri akan memimpin penyusunan modul pelatihan yang rencananya rampung pada Agustus 2026.
Selain itu, ISNU juga akan menggandeng platform media sosial untuk melakukan verifikasi akun resmi seluruh kepengurusan, guna mencegah penipuan yang merugikan umat. “Kita sudah berdiskusi dengan Meta dan Google. Mereka siap memberikan dukungan teknis, termasuk akses ke alat deteksi phishing secara gratis,” jelas Mubasyier.
Dengan gerakan ini, Mubasyier Fatah berharap ISNU dapat menjadi pelopor kesadaran keamanan siber di lingkungan ormas Islam, sekaligus melindungi ruang digital dari ancaman yang terus berevolusi.
[SOCIAL_TWEET]: "Datamu adalah amanah," tegas Mubasyier Fatah di seminar ISNU. Seruan penguatan literasi keamanan siber untuk 50 juta warga NU kini digaungkan lewat Satgas Siber & modul pelatihan. #KeamananSiber #ISNUSiberAman #NahdliyinMelekDigital[SOCIAL_TG]: 🔐 Mubasyier Fatah: 98,7 juta serangan siber landa RI di Q1 2026. ISNU bentuk Satgas Keamanan Siber demi lindungi data 50 juta anggota NU. Simak kronologi seminarnya!
Comments (0)