Mesir Protes Perlakuan Khusus Messi Usai Tersingkir Dramatis

East Rutherford, 9 Juli 2026 – Federasi Sepak Bola Mesir (EFA) secara resmi melayangkan nota protes kepada FIFA tidak lebih dari tiga jam setelah tim nasional mereka disingkirkan Argentina dalam bab...

Mesir Protes Perlakuan Khusus Messi Usai Tersingkir Dramatis

East Rutherford, 9 Juli 2026 – Federasi Sepak Bola Mesir (EFA) secara resmi melayangkan nota protes kepada FIFA tidak lebih dari tiga jam setelah tim nasional mereka disingkirkan Argentina dalam babak 16 besar Piala Dunia 2026. Kekalahan 2-3 yang dramatis di MetLife Stadium, Senin (8/7) malam waktu setempat, diwarnai keputusan wasit yang dinilai sangat merugikan Mesir. Presiden EFA, Dr. Amr El-Ganainy, dalam keterangan pers dini hari tadi, secara eksplisit menuding adanya perlakuan istimewa terhadap kapten Argentina, Lionel Messi, yang memengaruhi hasil akhir pertandingan.

Malam yang Berubah dalam 25 Menit Terakhir

Mesir mengawali laga dengan disiplin tinggi. Strategi pelatih Rui Vitória terbukti ampuh membungkam kreativitas lini tengah Argentina. Kapten Mohamed Salah membuka keunggulan pada menit ke-23 lewat serangan balik cepat yang diakhiri dengan tembakan terukur ke sudut kiri gawang Emiliano Martínez. Keunggulan Mesir berlipat pada menit ke-54 ketika Mahmoud “Trezeguet” Hassan menyambar bola muntah hasil sepakan jarak jauh Salah yang tak mampu diantisipasi secara sempurna oleh Martínez. Publik tuan rumah yang memadati MetLife Stadium seketika hening.

Argentina, juara bertahan, tampak frustrasi. Namun, situasi berbalik drastis seusai pelatih Lionel Scaloni memasukkan Lautaro Martínez pada menit ke-65. Hanya dua menit berselang, Julian Álvarez memperkecil ketertinggalan melalui sundulan menyambut umpan silang Nahuel Molina. Momentum telah bergeser. Pada menit ke-76, wasit asal Polandia, Szymon Marciniak, menunjuk titik putih setelah Messi terjatuh di kotak terlarang Mesir pasca bersentuhan ringan dengan bek Ahmed Hegazi. Tayangan ulang di berbagai sudut kamera memperlihatkan kontak fisik yang minimal, namun Marciniak tetap pada keputusannya tanpa meninjau monitor VAR. Messi mengeksekusi penalti itu dengan tenang pada menit ke-78, menyamakan kedudukan menjadi 2-2.

Puncaknya terjadi pada masa injury time babak kedua. Pada menit ke-85, Mesir mengklaim layak mendapat penalti ketika Salah dijatuhkan oleh Lisandro Martínez di dalam kotak penalti. Marciniak menganggap insiden tersebut bukan pelanggaran dan menolak meninjaunya. Lima menit berselang, tepatnya pada menit ke-90+2, Lautaro Martínez mencetak gol kemenangan setelah memanfaatkan kemelut di lini pertahanan Mesir. Argentina membalikkan skor menjadi 3-2 tanpa memerlukan perpanjangan waktu.

“Ketidakadilan Sistemik”: Protes Resmi dan Tuduhan Berlapis

Tak sampai satu jam setelah peluit akhir, EFA mengeluarkan pernyataan tertulis yang disampaikan langsung oleh Presiden Amr El-Ganainy kepada media. Nada pernyataan itu keras dan tak lazim dalam diplomasi sepak bola. El-Ganainy secara terbuka menuding perangkat pertandingan memberikan proteksi berlebih kepada Messi dan mengabaikan hak Mesir atas dua tendangan penalti.

“Ini bukan sekadar kekalahan di lapangan, tetapi sebuah ketidakadilan sistemik yang sudah kami khawatirkan sebelum laga dimulai. Kami mencatat setidaknya empat keputusan krusial yang merugikan tim kami: penalti untuk Argentina yang sangat lunak, penalti untuk Mesir yang diabaikan, serta dua kartu kuning yang tidak diberikan kepada pemain Argentina atas pelanggaran keras terhadap pemain kami. Kami melihat pola di mana Messi terus menerus dilindungi, sementara Mohamed Salah dan rekan-rekannya diperlakukan seperti tim kelas dua,” tegas El-Ganainy di Hotel Westin Jersey City, Selasa (9/7) dini hari.

Manajer timnas Mesir, Rui Vitória, turut melontarkan kritik pedas. Dalam konferensi pers pasca-pertandingan, pelatih asal Portugal itu mempertanyakan integritas protokol VAR. “Mengapa VAR bisa merekomendasikan penalti untuk Messi dalam situasi sangat meragukan, tetapi menutup mata saat Salah dilanggar secara jelas? Standar ganda ini merusak marwah sepak bola sebagai olahraga yang adil,” ujarnya.

Federasi Sepak Bola Mesir secara resmi meminta FIFA membentuk komite investigasi independen untuk memeriksa kinerja Szymon Marciniak serta tim VAR yang dipimpin oleh Tomasz Kwiatkowski. Surat protes tersebut mencakup permintaan agar rekaman komunikasi antara wasit lapangan dan ruang VAR dibuka ke publik.

Argentina dan FIFA Merespons

Dari kubu Argentina, protes Mesir ditanggapi dengan skeptis. Pelatih Scaloni menolak anggapan adanya keberpihakan. “Penalti untuk Leo adalah keputusan sah. Dia dijegal, wasit melihatnya, dan VAR mengonfirmasi. Kami juga mendapat perlakuan keras, banyak pelanggaran terhadap pemain kami yang luput dari kartu. Ini hanya bagian dari tekanan pertandingan besar,” kata Scaloni dalam konferensi pers yang sama.

Kapten Lionel Messi sendiri memilih tidak berkomentar banyak. “Saya hanya fokus ke pertandingan berikutnya. Keputusan wasit adalah bagian dari sepak bola, kadang menguntungkan, kadang merugikan,” ujarnya singkat saat dicegat wartawan di area mixed zone.

FIFA melalui juru bicara Christian Karembeu menyatakan bahwa badan sepak bola dunia itu menerima protokol resmi Mesir dan akan meninjaunya sesuai prosedur. “FIFA menghormati setiap keluhan dari asosiasi anggota. Komite Wasit akan memeriksa laporan pertandingan dan semua insiden yang disengketakan. Namun, kami tidak akan berkomentar lebih lanjut sebelum tinjauan selesai,” kata Karembeu di Doha melalui pernyataan tertulis.

Analisis: Dampak Politik dan Hubungan Bilateral

Protes keras Mesir ini berpotensi melampaui ranah olahraga. Pengamat politik Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Dr. Andi Widjajanto, menilai insiden ini dapat memicu ketegangan diplomatik antara Kairo dan Buenos Aires. “Kedua negara memiliki hubungan bilateral yang hangat selama ini, terutama di sektor pertanian dan perdagangan. Namun, jika retorika resmi Mesir terus mengarah pada tuduhan konspirasi, ini bisa mempersulit komunikasi di tingkat pemerintahan,” ujarnya.

Di dalam negeri Mesir, kekalahan ini langsung menjadi isu nasional. Dewan Perwakilan Rakyat Mesir dijadwalkan menggelar rapat darurat Komisi Pemuda dan Olahraga pada Rabu (10/7) untuk meminta penjelasan resmi dari EFA. Sejumlah anggota parlemen dari Partai Masa Depan telah menyuarakan seruan boikot terhadap produk-produk Argentina jika FIFA tidak merespons secara memadai.

Kekalahan dramatis ini juga membawa kenangan getir bagi publik Mesir. Pada Piala Dunia 2018, Mesir juga tersingkir di fase grup setelah kalah 0-1 dari Arab Saudi dalam laga yang diwarnai kontroversi penalti. Bedanya, kali ini mereka merasa telah bermain cukup baik untuk menang, tetapi dikhianati oleh keputusan di luar kendali mereka.

Hingga berita ini diturunkan, FIFA belum mengumumkan jadwal pasti untuk meninjau protes Mesir. Sementara itu, Argentina akan melanjutkan perjalanan di Piala Dunia 2026 dengan menghadapi pemenang laga Belanda melawan Senegal di perempat final. Bagi Mesir, pulang ke Kairo bukan hanya dengan membawa kekecewaan, tetapi juga dengan misi diplomatik baru: mengoreksi apa yang mereka sebut sebagai “standar ganda” dalam sepak bola global.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User