Aug 30, 2026
Nasional

Mendag Budi Santoso Panggil Pengusaha Bahas Dampak Perang Iran-AS

Jakarta, Apaberita.com – Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso akan segera memanggil sejumlah pengusaha dari berbagai sektor untuk membahas dampak eska

Mendag Budi Santoso Panggil Pengusaha Bahas Dampak Perang Iran-AS

Jakarta, Apaberita.com – Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso akan segera memanggil sejumlah pengusaha dari berbagai sektor untuk membahas dampak eskalasi konflik bersenjata antara Iran dan Amerika Serikat terhadap perdagangan nasional. Langkah ini diambil menyusul meningkatnya kekhawatiran pelaku usaha terhadap rantai pasok global dan volatilitas harga komoditas setelah kedua negara terlibat perang terbuka sejak awal Maret 2026.

Latar Waktu dan Tempat

Rencana pemanggilan tersebut disampaikan Budi Santoso di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis (5/3/2026). “Kami akan mengundang para pengusaha dari sektor yang paling terdampak untuk mendengarkan langsung kondisi lapangan dan mencari solusi bersama,” ujar Mendag kepada wartawan. Meskipun tanggal pasti belum ditetapkan, ia memastikan pertemuan akan digelar dalam waktu dekat.

Kronologi dan Konteks Geopolitik

Perang Iran-AS pecah setelah serangan udara besar-besaran di Selat Hormuz yang menewaskan ratusan personel militer Amerika. Iran membalas dengan memblokade sebagian rute pelayaran minyak mentah, memicu lonjakan harga minyak dunia hingga 30% dalam 48 jam. Kondisi ini langsung memukul negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia yang mencatat volume impor minyak mentah dan BBM sekitar 1,2 juta barel per hari.

“Situasi ini tidak bisa dianggap remeh. Bagi Indonesia, dampaknya multidimensional, mulai dari harga energi hingga akses pasar ekspor ke Timur Tengah dan Eropa yang terganggu karena logistik pelayaran,” tegas Budi Santoso.

Sektor Paling Rentan

Budi mengatakan pertemuan akan difokuskan pada tiga sektor yang paling rentan:

  • Tekstil dan alas kaki: Iran selama ini menjadi pasar penting bagi produk tekstil Indonesia. Ekspor ke Iran pada 2025 mencapai US$ 520 juta, namun kini terancam terhenti akibat sanksi sekunder AS dan gangguan pengiriman.
  • Otomotif dan komponen: Gangguan pasokan material dari kawasan Teluk, seperti aluminium dan petrokimia, dapat menghambat produksi kendaraan dan suku cadang di dalam negeri.
  • Komoditas pertanian: Minyak sawit mentah (CPO) dan karet alam Indonesia menghadapi ketidakpastian harga karena spekulasi pasar berjangka global. Sebagian rute ekspor ke Afrika dan Eropa selatan juga terimbas biaya logistik yang meroket.

Dampak Harga dan Inflasi Domestik

Data sementara Kementerian Perdagangan menunjukkan harga rata-rata minyak mentah Indonesia (ICP) pada pekan pertama Maret 2026 melonjak ke US$ 95 per barel dari sebelumnya US$ 73. Hal ini dikhawatirkan akan menaikkan biaya produksi listrik, transportasi, dan pupuk yang ujungnya mengerek inflasi pangan. Tim pemantau harga di Kemendag sudah mengidentifikasi potensi kenaikan harga minyak goreng kemasan, daging ayam, dan tepung terigu sebagai efek tidak langsung dari perang tersebut.

Respons Pelaku Usaha

Pihak pengusaha menyambut rencana dialog tersebut. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyatakan perlunya jaring pengaman bagi eksportir, termasuk penjaminan kredit dan relaksasi perizinan. “Kami berharap Mendag bisa mengusulkan skema pembebasan bea masuk sementara untuk bahan baku impor yang sulit diperoleh,” ujar sumber Apindo yang enggan disebutkan namanya.

Langkah Antisipatif Pemerintah

Selain pertemuan dengan pengusaha, Kementerian Perdagangan tengah menyusun sejumlah langkah:

  • Diversifikasi sumber impor minyak ke negara-negara Afrika dan Amerika Latin yang relatif aman dari pusaran konflik.
  • Mendorong negosiasi dengan perusahaan pelayaran internasional untuk menjamin keamanan rute alternatif, termasuk melalui pelabuhan di India dan Sri Lanka.
  • Mempercepat perjanjian kerja sama perdagangan dengan negara-negara Asia Tengah guna menyerap produk ekspor yang biasanya ditujukan ke pasar Timur Tengah.

Harapan ke Depan

Meskipun situasi masih labil, Mendag Budi Santoso optimistis bahwa dialog intensif dengan pelaku usaha dapat meminimalkan kerugian. “Kami tidak tinggal diam. Stabilitas perdagangan harus dijaga demi jutaan lapangan kerja yang bergantung pada sektor ekspor,” pungkasnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User