JAKARTA — Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa peringatan 400 tahun kelahiran Syekh Yusuf Al-Makassari menjadi momentum strategis bagi Indonesia untuk memperkuat diplomasi budaya di kancah internasional. Penegasan tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Peringatan Empat Abad Syekh Yusuf yang digelar di Jakarta, dengan menyoroti warisan intelektual dan spiritual ulama asal Gowa tersebut sebagai bagian dari kekayaan peradaban dunia.
"Syekh Yusuf adalah bukti bahwa Indonesia sejak lama melahirkan pemikir besar yang pengaruhnya melampaui batas wilayah Nusantara," ujar Fadli Zon dalam forum tersebut, seraya menyatakan bahwa pemerintah menetapkan peringatan ini sebagai agenda kebudayaan nasional yang bersifat lintas kementerian dan lintas negara.
Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makassari lahir pada 1626 di Gowa, Sulawesi Selatan. Berdasarkan catatan sejarah, ia merupakan ulama, mursyid tarekat Khalwatiyah, sekaligus pejuang yang menentang kolonialisme Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Karena perlawanannya, ia diasingkan ke Sri Lanka, lalu ke Cape Town, Afrika Selatan, hingga akhirnya wafat di Belanda pada 1699.
Warisan Intelektual yang Mendunia
Dalam paparannya, Fadli Zon menyatakan bahwa kontribusi Syekh Yusuf tidak terbatas pada bidang keagamaan, melainkan juga mencakup pemikiran hukum, tasawuf, dan pendidikan. Sejumlah karyanya, antara lain Zubdat al-Asrar dan Taj al-Asrar, disebut masih dikaji oleh para peneliti di berbagai negara hingga kini.
"Warisan beliau diakui bukan hanya oleh umat Islam di Indonesia, tetapi juga oleh komunitas di Afrika Selatan, Sri Lanka, dan Belanda. Ini adalah bentuk diplomasi budaya yang sudah berjalan sejak abad ke-17," tuturnya.
Pemerintah, lanjut Menbud, menindaklanjuti peringatan ini melalui sejumlah agenda, termasuk pameran manuskrip, seminar internasional, serta kerja sama dengan pemerintah Belanda dan Afrika Selatan. Rencana tersebut disebut telah dibahas dalam rapat pleno bersama perwakilan Kementerian Luar Negeri, Kementerian Agama, dan pemerintah daerah Sulawesi Selatan.
"Syekh Yusuf adalah jembatan peradaban antara Nusantara, Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika. Menghidupkan kembali narasi ini berarti menegaskan posisi Indonesia sebagai pusat peradaban maritim dunia," kata Fadli Zon.
Diplomasi Budaya di Belanda dan Afrika Selatan
Berdasarkan keterangan yang dihimpun, rangkaian peringatan 400 tahun Syekh Yusuf akan dipusatkan di Makassar sebagai tempat kelahiran, serta di Cape Town dan Den Haag sebagai lokasi pengasingan dan tempat wafatnya. Pemerintah disebut tengah berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Pretoria dan Den Haag untuk menyiapkan acara budaya, termasuk pertunjukan seni tradisional Sulawesi Selatan serta peluncuran buku terjemahan karya Syekh Yusuf.
Menbud menekankan bahwa peringatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan bagian dari upaya sistematis memperkenalkan tokoh-tokoh Nusantara sebagai bagian dari sejarah global. "Kita ingin dunia mengenal Syekh Yusuf bukan hanya sebagai ulama yang diasingkan, tetapi sebagai intelektual yang membentuk jaringan keilmuan lintas benua," ujarnya.
Ia juga menyatakan bahwa Kementerian Kebudayaan akan mendorong pengusulan situs-situs terkait Syekh Yusuf sebagai warisan budaya, serta mendukung penelitian akademik di perguruan tinggi. Langkah tersebut dinilai sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yang menempatkan pelindungan dan pengembangan warisan budaya sebagai kewajiban negara.
Relevansi bagi Generasi Muda
Dalam forum yang sama, Fadli Zon menyampaikan harapan agar generasi muda menjadikan Syekh Yusuf sebagai teladan dalam hal keteguhan sikap, kecintaan pada ilmu, dan keterbukaan terhadap peradaban lain. Menurutnya, nilai-nilai tersebut relevan dengan tantangan kebangsaan masa kini.
"Keteladanan Syekh Yusuf mengajarkan bahwa keberanian dan keilmuan dapat berjalan seiring. Ini pesan yang perlu dirawat dalam pendidikan karakter bangsa," ucapnya.
Pemerintah menargetkan rangkaian kegiatan peringatan berlangsung sepanjang tahun dan melibatkan kementerian, pemerintah daerah, lembaga adat, serta komunitas diaspora. Keputusan akhir mengenai jadwal dan bentuk kegiatan akan ditetapkan dalam rapat koordinasi lanjutan yang melibatkan perwakilan lintas sektor.
Dengan penetapan agenda ini, Fadli Zon menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen menjadikan warisan Syekh Yusuf sebagai instrumen diplomasi budaya yang memperkuat posisi Indonesia di dunia internasional, sekaligus menegaskan bahwa sejarah Nusantara adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah peradaban dunia.
Comments (0)