Maybank Marathon & PBMI Ungkap Inisiatif Olahraga Ramah Lingkungan
Di tengah gedung pencakar langit Jakarta, sebuah percakapan tentang masa depan bumi justru berdenyut dari lintasan lari dan tebing-tebing terjal. PT Bank M
Di tengah gedung pencakar langit Jakarta, sebuah percakapan tentang masa depan bumi justru berdenyut dari lintasan lari dan tebing-tebing terjal. PT Bank Maybank Indonesia Tbk, bersama Pengurus Besar Federasi Panjat Tebing Indonesia (PBMI), secara terpisah namun seirama, mengumumkan langkah konkret mereka dalam mengintegrasikan olahraga dengan tanggung jawab ekologis. Inisiatif ini menjadi napas segar di tengah kegelisahan global akan krisis iklim yang kian mendesak.
Maybank Indonesia, dalam gelaran Sustainabili-Tea Session di Maybank Tower, Senayan, membuka tabir transparansi dengan mempublikasikan hasil pengukuran jejak karbon dari salah satu flagship event mereka. Sementara itu, di ranah olahraga prestasi, PBMI meneguhkan komitmennya untuk tidak hanya mencetak atlet berprestasi dunia, tetapi juga duta lingkungan yang tangguh. Kedua entitas ini membuktikan bahwa adrenalin kompetisi dan kelestarian alam bukanlah dua kutub yang berseberangan, melainkan sebuah simbiosis yang harmonis.
Realitas Karbon di Balik Kemegahan Maybank Marathon 2025
Penyelenggaraan ajang lari internasional bukan sekadar euforia dan capaian personal best. Di baliknya, terdapat jejak emisi gas rumah kaca yang tak kasat mata, mulai dari transportasi peserta, konsumsi energi, hingga pengelolaan limbah. Menyadari hal tersebut, Maybank Indonesia berani mengambil langkah proaktif yang jarang dilakukan event organizer di Tanah Air: melakukan kalkulasi menyeluruh. Hasil audit lingkungan itu dipresentasikan langsung dalam sesi diskusi santai nan berbobot pada Selasa (14/7/2026).
Meskipun tidak merinci angka absolut secara penuh di muka publik, pengungkapan ini menandai babak baru tata kelola sport tourism yang bertanggung jawab. Fokus utama dari pengukuran ini adalah mengkategorisasi emisi berdasarkan Scope 1, Scope 2, dan Scope 3 — standar internasional yang mencakup emisi langsung, emisi dari energi yang dibeli, serta emisi tidak langsung dari rantai pasok, termasuk mobilitas para pelari dari mancanegara. Langkah ini bukan tanpa tantangan. Mengukur jejak ribuan pelari yang datang dari berbagai penjuru membutuhkan metodologi yang presisi dan asumsi yang terukur.
"Transparansi adalah kunci. Kami tidak ingin sekadar menggelar acara megah, tetapi abai terhadap dampaknya. Dengan mengetahui di mana titik kritis emisi, kami bisa mendesain strategi dekarbonisasi yang tepat sasaran untuk Maybank Marathon edisi mendatang," jelas seorang perwakilan manajemen Maybank Indonesia dalam sesi tersebut.
Dari Lintasan ke Lingkungan: Strategi Offset dan Reduksi
Setelah mengetahui peta emisi, pertanyaan besarnya adalah: apa selanjutnya? Tim sustainability Maybank memaparkan peta jalan yang ambisius. Tidak hanya berhenti pada pengukuran, mereka menginisiasi program carbon offsetting yang melibatkan langsung komunitas pelari. Salah satu pilot project yang disinggung adalah penanaman pohon mangrove di pesisir utara Jawa yang dikelola secara digital, di mana setiap pelari dapat melihat kontribusi nyata penyerapan karbon dari bibit yang mereka tanam secara simbolis.
Selain itu, operasional teknis perlombaan juga menjadi sasaran restrukturisasi. Penggunaan generator set berbahan bakar diesel secara bertahap akan digantikan oleh sumber energi terbarukan, sembari memperbanyak water station bebas plastik sekali pakai. Targetnya adalah mengurangi intensitas emisi per peserta hingga 30% dalam tiga tahun ke depan. Sebuah angka signifikan yang jika tercapai bisa menjadi benchmark baru bagi ajang lari di Asia Tenggara. Inisiatif ini juga sejalan dengan ambisi induk usaha menuju Net Zero Carbon.
Atlet Panjat Tebing: Bukan Sekadar Otot, Tapi Juga Otak Hijau
Bergeser dari aspal panas ke vertikalitas tebing, isu keberlanjutan juga bergema kencang di tubuh PBMI. Wakil Ketua Umum PBMI Bidang Prestasi, Rahyang Mandalajati Evi Silviadi Sangga Buana, menekankan transformasi paradigma di tubuh federasi. Jika dulu orientasi hanya berkutat pada medali, kini ada tanggung jawab moral untuk melestarikan alam yang menjadi "arena bertanding" para atlet. Tebing adalah rumah kedua bagi pemanjat. Jika rumah itu rusak, olahraga ini pun kehilangan jati dirinya.
PBMI menginisiasi program "Sport Climbing for Climate Action" yang mensinergikan kampanye lingkungan dengan latihan atlet. Para atlet pelatnas tidak hanya digenjot fisiknya, tetapi juga diberikan literasi ekologis untuk memahami bahwa krisis iklim mengancam eksistensi destinasi panjat outdoor, akibat erosi dan perubahan cuaca ekstrem. Mereka didorong menjadi influencer hijau yang menyuarakan gaya hidup rendah emisi kepada basis penggemar muda yang masif, terutama di media sosial.
"Atlet adalah role model. Ketika Veddriq Leonardo atau atlet top lainnya berbicara tentang pentingnya menjaga hutan, dampaknya akan jauh lebih dahsyat daripada sekadar spanduk. Kami sedang menyusun modul eco-athlete agar prestasi juara dunia bisa paralel dengan prestasi menjaga Bumi," tegas Rahyang.
Sinergi Tersirat: Pelajaran dari Sepatu Lari dan Sepatu Panjat
Kendati bergerak di cabang olahraga berbeda, Maybank Indonesia dan PBMI sesungguhnya sedang menganyam benang merah yang sama: pengarusutamaan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam ekosistem olahraga. Keduanya menyadari bahwa sponsor, penggemar, dan investor global kini semakin kritis. Mereka tidak lagi sekadar melihat logo di jersey, tetapi menuntut akuntabilitas lingkungan dari setiap pihak yang terlibat.
Pendekatan Maybank yang kuantitatif melalui kalkulasi jejak karbon, dikombinasikan dengan pendekatan PBMI yang berbasis komunitas dan narasi figuratif, adalah dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Ini menunjukkan bahwa transisi hijau di dunia sport tidak melulu soal teknologi mahal, melainkan soal kemauan politik organisasi dan edukasi basis massa yang fanatik. Jika dua entitas besar lainnya mengikuti jejak ini, bukan tidak mungkin Indonesia menjadi pusat green sports tourism dunia.
Menanti Aksi Nyata di Tengah Euforia
Kini bola panas berada di tangan kita sebagai masyarakat. Transparansi seperti yang dilakukan Maybank membuka peluang bagi publik untuk ikut mengawasi. Jangan sampai pengukuran jejak karbon hanya menjadi alat marketing sesaat atau greenwashing yang meredam kritik tanpa perubahan struktural. Diperlukan pihak ketiga yang independen untuk memverifikasi klaim-klaim tersebut agar kepercayaan publik terbangun.
Di sisi lain, para pemanjat harus membuktikan bahwa alam yang mereka pijak benar-benar dijaga, bukan hanya menjadi latar foto estetik. Langkah yang diinisiasi oleh Maybank Marathon 2025 dan PBMI ini ibarat pistol start untuk lomba lari estafet penyelamatan iklim. Semua pihak, mulai dari penonton, atlet, hingga pengelola venue, harus berlari dalam satu ritme yang sama. Jika tidak, kita hanya akan menjadi penonton pasif di tengah panggung krisis yang semakin panas dan tak terkendali.
[SOCIAL_TWEET]: Maybank Marathon 2025 hitung jejak karbon, PBMI cetak atlet jadi 'eco-warrior'! Dua langkah berani ini sinyal kuat bahwa dunia olahraga Indonesia siap bertarung melawan krisis iklim. Bukan cuma otot, tapi juga otak hijau! 🌿🏃🏔️ #OlahragaHijau #ClimateAction[SOCIAL_TG]: 🔥 Breaking: Olahraga Indonesia Mulai Serius Hitung Emisi Karbon! Maybank Marathon ungkap jejak karbon mereka, sementara PBMI gandeng atlet panjat tebing untuk aksi konservasi. Ini bukan sekadar tren, tapi standar baru tata kelola event. Apakah event olahraga lain berani ikut transparan?
Comments (0)