Masjid Istiqlal Layani Zakat Fitrah, Umat Diajak Perdalam Ilmu Agama

Minggu pagi, 15 Maret 2026, suasana di teras Masjid Istiqlal, Jakarta, tampak berbeda dari hari-hari biasa. Ratusan jamaah berbaris tertib di depan meja la

Aug 24, 2026 - 14:13
0 0
Masjid Istiqlal Layani Zakat Fitrah, Umat Diajak Perdalam Ilmu Agama

Minggu pagi, 15 Maret 2026, suasana di teras Masjid Istiqlal, Jakarta, tampak berbeda dari hari-hari biasa. Ratusan jamaah berbaris tertib di depan meja layanan Unit Pengelola Zakat (UPZ) yang sengaja disiapkan menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Para petugas dengan ramah melayani pembayaran zakat fitrah, fidyah, kafarat, infaq, hingga shadaqah dari umat yang ingin menyempurnakan ibadahnya di bulan penuh berkah ini. Senyum dan ketenangan tampak di wajah para jamaah, seakan beban spiritual mereka perlahan gugur bersama setiap nilai yang diserahkan untuk berbagi kepada sesama.

Zakat fitrah menjadi salah satu rukun ibadah yang wajib ditunaikan setiap muslim yang mampu, baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda. Dalam layanan di Masjid Istiqlal ini, petugas UPZ tidak hanya menerima zakat dalam bentuk beras, tetapi juga menerima pembayaran zakat fitrah menggunakan uang yang nilainya disetarakan dengan harga beras atau makanan pokok seberat 2,5 kilogram atau 3,5 liter — takaran yang biasa dikonsumsi sehari-hari oleh masyarakat. Kemudahan ini diharapkan mendorong lebih banyak umat menunaikan kewajibannya sebelum salat Idulfitri tiba.

Zakat Fitrah: Antara Beras dan Uang

Perdebatan mengenai bentuk penunaian zakat fitrah — apakah dengan beras atau dengan uang — sebenarnya telah lama menjadi diskursus di kalangan ulama. Namun, mayoritas lembaga amil zakat di Indonesia, termasuk UPZ Masjid Istiqlal, memberikan opsi keduanya demi memudahkan umat. Ketentuan pokok yang tidak bisa ditawar adalah besaran takarannya, yakni satu sha' atau setara dengan 2,5 kilogram makanan pokok yang lazim dikonsumsi masyarakat setempat.

"Kami ingin memastikan tidak ada umat yang tertinggal. Baik membayar dengan beras maupun uang, keduanya sah selama nilainya setara dengan 2,5 kilogram makanan pokok yang dikonsumsi sehari-hari. Fasilitas ini kami buka setiap hari selama Ramadan agar jamaah leluasa menunaikan kewajibannya," ujar salah seorang petugas UPZ Masjid Istiqlal kepada awak media.

Pilihan membayar dengan uang dinilai lebih praktis, terutama bagi warga yang sibuk bekerja atau tinggal jauh dari pasar. Sementara itu, pembayaran dengan beras tetap dipertahankan karena dianggap lebih tepat sasaran, khususnya di daerah-daerah yang warganya masih sangat bergantung pada bahan pangan pokok. Berikut perbandingan singkat kedua cara penunaian zakat fitrah:

AspekZakat dengan BerasZakat dengan Uang
Besaran2,5 kg / 3,5 liter makanan pokokSetara harga beras 2,5 kg
KelebihanTepat sasaran untuk konsumsi langsungPraktis, cepat, dan fleksibel
PelaksanaanMembutuhkan persiapan fisikBisa dilakukan via transfer

Lebih dari Sekadar Harta: Kesucian Jiwa

Di balik dimensi sosialnya yang besar, zakat fitrah menyimpan makna spiritual yang dalam. "Zakat fitrah bukan sekadar kewajiban finansial, melainkan proses penyucian jiwa dari sifat kikir dan cinta dunia," demikian pesan yang kerap disampaikan para khatib menjelang akhir Ramadan. Dengan menunaikan zakat, seorang muslim melatih keikhlasan, menumbuhkan empati terhadap kaum dhuafa, dan menutup Ramadan dengan hati yang bersih. Inilah esensi kata fitrah itu sendiri — kembali suci sebagaimana manusia dilahirkan.

Menghidupkan Ramadan dengan Ilmu

Kesucian jiwa yang menjadi tujuan zakat fitrah sesungguhnya tidak bisa dipisahkan dari upaya memperdalam pemahaman agama. Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur'an, dan umat Islam dianjurkan mengisinya dengan belajar — membaca dalil, mempelajari hadis, serta merenungkan ayat-ayat Al-Qur'an. Ilustrasi seorang muslim yang tekun belajar dalil, hadis, dan ayat Al-Qur'an menjadi pengingat bahwa ibadah yang berkualitas selalu lahir dari ilmu yang benar. Tanpa ilmu, amalan bisa kehilangan arah; tanpa amal, ilmu menjadi kosong tanpa makna.

"Ibadah tanpa ilmu ibarat berjalan di kegelapan. Karena itu, di bulan Ramadan ini, perbanyaklah membaca Al-Qur'an, pelajari hadis-hadis Rasulullah, dan pahami dalil-dalil tentang zakat, puasa, serta amalan lainnya agar setiap ibadah kita tertuntun dengan benar," pesan yang kerap digaungkan dalam kajian-kajian Ramadan di berbagai masjid.

Ramadan sebagai Momentum Transformasi Diri

Kombinasi antara menunaikan zakat fitrah dan memperdalam ilmu agama menjadikan Ramadan momentum transformasi diri yang utuh. Dari sisi sosial, zakat fitrah memastikan kaum miskin dapat merayakan Idulfitri dengan layak — mereka tidak perlu meminta-minta di hari kemenangan. Dari sisi spiritual, belajar ilmu agama menjaga kualitas ibadah agar tidak sekadar rutinitas kosong tanpa penghayatan. Keduanya saling melengkapi dalam membentuk pribadi muslim yang paripurna.

  • Zakat fitrah wajib ditunaikan sebelum salat Idulfitri dimulai.
  • Besaran zakat fitrah adalah 2,5 kg atau 3,5 liter makanan pokok per jiwa.
  • Pembayaran dapat dilakukan dengan beras maupun uang yang nilainya disetarakan.
  • Perdalam ilmu agama dengan membaca Al-Qur'an, hadis, dan dalil-dalil syariat.

Dengan semangat berbagi dan haus akan ilmu, Ramadan tahun ini diharapkan melahirkan pribadi-pribadi yang lebih bertakwa, lebih peduli kepada sesama, dan lebih dekat kepada Allah SWT. Masjid Istiqlal, sebagai masjid negara, membuka pintunya lebar-lebar bagi umat yang ingin menunaikan zakat sekaligus menimba ilmu sepanjang bulan suci. Selamat menunaikan ibadah Ramadan, semoga setiap amal diterima dan membawa keberkahan bagi kita semua.

[SOCIAL_TWEET]: Masjid Istiqlal buka layanan zakat fitrah 2,5 kg beras atau uang setara, mulai 15 Maret 2026. Jangan lupa tunaikan sebelum Idulfitri! #ZakatFitrah #Ramadan[SOCIAL_TG]: 📿 Zakat fitrah: 2,5 kg/3,5 liter makanan pokok per jiwa, boleh bayar dengan uang. Masjid Istiqlal layani sepanjang Ramadan. Bagikan informasi ini ke keluarga!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
hendra-wijaya

Editor Politik. Mantan jurnalis cetak dengan spesialisasi politik elektoral. Menulis analisis kebijakan dan reportase parlemen.

Comments (0)

User