Martin Brundle Usulkan Perbaikan Aturan Safety Car di F1
Mantan pembalap Formula 1 sekaligus komentator Sky Sports, Martin Brundle, secara terbuka mengusulkan serangkaian perbaikan regulasi untuk mencegah balapan
Mantan pembalap Formula 1 sekaligus komentator Sky Sports, Martin Brundle, secara terbuka mengusulkan serangkaian perbaikan regulasi untuk mencegah balapan kehilangan tensi di lap-lap pamungkas akibat kemunculan safety car. Pernyataan itu disampaikan Brundle menanggapi kontroversi yang mewarnai Grand Prix Inggris di Silverstone akhir pekan lalu, di mana penonton kecewa karena lomba tidak berakhir dalam kondisi balap penuh. Insiden terjadi setelah Max Verstappen kehilangan kendali dan melintir ke gravel pada putaran ke-51 dari 52 lap yang dijadwalkan, memaksa Race Control mengerahkan safety car di fase paling kritis perlombaan.
Kronologi kejadian memperlihatkan serangkaian keputusan prosedural yang memicu debat. Begitu safety car masuk lintasan, deretan mobil segera tersusun rapi di belakangnya. Pada lap yang sama—lap penultimate—petugas lomba mengirimkan pesan bahwa safety car akan berakhir, tetapi instruksi tersebut muncul hanya beberapa saat setelah perintah bagi mobil-mobil yang tertinggal untuk menyalip rombongan dan kembali ke posisi semula. Akibat proses menyalip (unlapping) yang memakan waktu berharga, restart tidak kunjung terjadi sebelum cekered finis dikibarkan. Alhasil, para pembalap melintasi garis akhir di bawah kecepatan terkontrol, tanpa kesempatan bersaing memperebutkan posisi pada putaran terakhir. Situasi ini memicu kekecewaan di paddock dan di antara jutaan penggemar yang berharap melihat duel tanpa gangguan.
Analisis: Mengapa Safety Car di Akhir Balapan Menjadi Masalah Struktural
Kejadian di Silverstone bukanlah yang pertama. Dalam tiga musim terakhir, setidaknya empat grand prix berakhir di bawah safety car atau virtual safety car, termasuk balapan di Sirkuit Yas Marina dan Imola. Tren ini memperlihatkan ketegangan antara aspek keselamatan dan kebutuhan akan tontonan kompetitif. Regulasi FIA saat ini mewajibkan mobil yang tertinggal untuk menyalip pemimpin lomba sebelum restart, guna memastikan urutan start kembali mencerminkan posisi kompetitif yang sebenarnya. Sayangnya, prosedur itu kerap memakan waktu lebih dari satu lap, terutama di sirkuit panjang seperti Silverstone. Ketika insiden terjadi di putaran-putaran akhir, selisih waktu tersebut praktis mengunci hasil balapan tanpa restart.
Martin Brundle, yang memiliki pengalaman lebih dari 150 start Grand Prix sebagai pembalap, menilai situasi ini bisa dihindari lewat dua opsi konkret. Pertama, FIA dapat menerapkan aturan red flag langsung apabila safety car dibutuhkan pada lima putaran terakhir. Pendekatan ini akan menghentikan balapan sementara, lalu me-restart dari grid dalam format standing start, sehingga sisa jarak tetap dijalani dalam kondisi balap. Kedua, Brundle menyarankan penghapusan kewajiban unlapping di fase akhir, atau minimal mempercepat prosesnya dengan perintah digital instan yang tidak memerlukan mobil menyalip secara fisik di lintasan. "Kita sudah memiliki teknologi dan preseden; balapan tidak boleh dikunci hanya karena prosedur yang terlalu lambat merespons situasi," ujar Brundle dalam kolom analisisnya.
| Aspek | Regulasi FIA Saat Ini | Usulan Perbaikan Brundle |
|---|---|---|
| Waktu pengerahan | Safety car kapan pun sesuai kebutuhan keselamatan | Safety car tetap, namun red flag otomatis di < 5 lap tersisa |
| Prosedur mobil tertinggal | Wajib menyalip (unlap) sebelum restart | Hapus unlap di lap akhir atau gunakan instruksi digital |
| Durasi restart | Minimal satu lap setelah perintah unlap | Maksimal setengah lap dengan sistem cepat |
| Hasil balapan | Berpotensi finis di belakang SC | Wajib restart balapan untuk sisa lap penuh |
Pendekatan ini mendapat beragam reaksi. Tim-tim papan atas umumnya mendukung perspektif bahwa balapan harus dimenangkan di trek, bukan di bawah kondisi kuning. Sementara itu, bagian keselamatan FIA mengingatkan bahwa red flag di lap akhir memiliki risiko tersendiri—suhu ban dan rem turun drastis, yang bisa memicu insiden baru saat restart. Meski demikian, diskursus yang dibuka Brundle kini menjadi sorotan Komisi F1 dan berpotensi mempercepat penyesuaian regulasi olahraga otomotif paling bergengsi itu.
Perdebatan mengenai tata cara safety car diyakini akan terus bergulir seiring seruan agar F1 mempertahankan integritas kompetitif tanpa mengorbankan prinsip keselamatan. Apapun hasilnya, usulan Brundle menyediakan landasan teknis untuk mencegah terulangnya adegan antiklimaks di Silverstone.
Comments (0)