Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan keyakinannya bahwa target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan pemerintahan Prabowo Subianto bukan sekadar mimpi. Menurutnya, ada sejumlah kunci utama yang harus dijalankan secara konsisten agar angka ambisius tersebut bisa terwujud dalam beberapa tahun ke depan.
Pernyataan ini disampaikan Luhut di tengah meningkatnya ekspektasi publik terhadap arah kebijakan ekonomi nasional. Pemerintah memang menargetkan pertumbuhan yang jauh melampaui rata-rata historis Indonesia dalam dua dekade terakhir yang berkisar 5 persen per tahun. Lompatan menuju 8 persen disebut membutuhkan terobosan struktural, bukan sekadar stimulus jangka pendek.
Hilirisasi Jadi Motor Utama
Luhut menegaskan bahwa hilirisasi sumber daya alam masih menjadi tulang punggung strategi pertumbuhan. Pengolahan nikel, bauksit, hingga tembaga di dalam negeri dinilai mampu menciptakan nilai tambah besar sekaligus membuka lapangan kerja baru.
"Kunci pertama adalah hilirisasi. Kita tidak boleh lagi menjual bahan mentah. Nilai tambah harus dinikmati di dalam negeri," ujar Luhut.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya pengembangan industri turunan seperti baterai kendaraan listrik, petrokimia, dan produk hilir lainnya. Menurut Luhut, rantai pasok global yang sedang bergeser menjadi peluang emas bagi Indonesia untuk menarik investasi manufaktur.
Investasi dan Reformasi Birokrasi
Faktor kedua yang ditekankan Luhut adalah percepatan investasi, baik dari dalam maupun luar negeri. Ia menyebut penyederhanaan perizinan, kepastian hukum, serta pemberantasan korupsi sebagai prasyarat mutlak agar investor mau menanam modal jangka panjang.
Data yang dihimpun DEN menunjukkan sektor-sektor prioritas yang perlu didorong untuk mengejar target 8 persen:
| Sektor Prioritas | Peran Strategis |
|---|---|
| Hilirisasi Mineral | Nilai tambah & ekspor |
| Manufaktur Lanjutan | Lapangan kerja & teknologi |
| Digital & Ekonomi Kreatif | Pertumbuhan cepat |
| Energi Terbarukan | Keberlanjutan jangka panjang |
Tantangan yang Tak Bisa Diabaikan
Meski optimistis, Luhut mengakui jalan menuju 8 persen tidak mulus. Tekanan global, ketidakpastian geopolitik, serta perlambatan ekonomi Tiongkok menjadi risiko nyata. Karena itu, konsistensi kebijakan dan eksekusi cepat di lapangan menjadi penentu utama.
Ekonom menilai target ini realistis hanya jika produktivitas tenaga kerja meningkat dan kualitas SDM diperbaiki melalui pendidikan serta pelatihan vokasi. Tanpa itu, pertumbuhan tinggi berisiko tidak inklusif.
"Delapan persen itu bisa dicapai kalau kita disiplin, jangan saling menyalahkan. Semua kementerian harus satu gerakan," tegas Luhut.
Sinergi Pemerintah dan Swasta
Luhut juga mendorong kolaborasi erat antara pemerintah, dunia usaha, dan akademisi. Ia mencontohkan keberhasilan beberapa program prioritas yang melibatkan swasta dalam pembangunan infrastruktur dan kawasan industri terpadu. Menurutnya, model kemitraan semacam ini harus diperluas ke sektor lain.
Dengan strategi hilirisasi, percepatan investasi, dan reformasi birokrasi, pemerintah berharap target 8 persen dapat diraih dalam periode kepemimpinan Prabowo. Publik kini menanti apakah janji besar ini benar-benar terwujud dalam angka pertumbuhan nyata.
Comments (0)