Oct 12, 2026
Politik

KRL Rangkasbitung–Tanah Abang Jadi Andalan Mobilitas Warga Jabodetabek

JAKARTA — Layanan Kereta Rel Listrik (KRL) lintas Rangkasbitung–Tanah Abang terus menjadi tulang punggung mobilitas harian masyarakat di kawasan selatan Jabodetabek. Rute sepanjang puluhan kilomet...

KRL Rangkasbitung–Tanah Abang Jadi Andalan Mobilitas Warga Jabodetabek

JAKARTA — Layanan Kereta Rel Listrik (KRL) lintas Rangkasbitung–Tanah Abang terus menjadi tulang punggung mobilitas harian masyarakat di kawasan selatan Jabodetabek. Rute sepanjang puluhan kilometer tersebut menghubungkan sejumlah wilayah penyangga di Provinsi Banten dengan pusat aktivitas ekonomi di Jakarta, dan hingga kini masih mencatat tingkat okupansi yang konsisten tinggi pada jam sibuk pagi maupun sore.

Berdasarkan pemantauan di lapangan, rangkaian kereta pada lintas tersebut melayani penumpang dari sejumlah stasiun utama, antara lain Rangkasbitung, Maja, Parung Panjang, Tenjo, Citayam, Depok, dan Tanah Abang. Kepadatan penumpang terlihat paling mencolok pada periode pemberangkatan pagi menuju arah Tanah Abang, yang bertepatan dengan jam masuk kerja dan kegiatan sekolah.

Peran Strategis bagi Pekerja Komuter

Pengamat transportasi publik menilai keberadaan lintas Rangkasbitung–Tanah Abang memiliki posisi strategis dalam menekan beban lalu lintas jalan raya di koridor selatan Jakarta. Pasalnya, sebagian besar pengguna merupakan pekerja komuter yang setiap hari bermukim di Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang, dan Kota Depok, namun beraktivitas di kawasan pusat bisnis Jakarta.

"Lintas ini menjadi pilihan utama karena waktu tempuh relatif lebih terprediksi dibandingkan moda angkutan jalan. Masyarakat sangat bergantung pada ketepatan jadwal dan kenyamanan rangkaian," ujar seorang pengguna rutin saat ditemui di Stasiun Tanah Abang, Selasa (14/1/2025).

Selain sebagai penghubung antarwilayah, Stasiun Tanah Abang sendiri berfungsi sebagai titik transit penting. Dari sana, penumpang dapat melanjutkan perjalanan ke berbagai tujuan melalui lintas lain maupun moda transportasi lanjutan. Pola perjalanan berantai inilah yang menjadikan integrasi antarmoda sebagai faktor krusial dalam menjaga kelancaran mobilitas warga.

Dorongan Peningkatan Layanan

Di sisi lain, sejumlah catatan masih menjadi perhatian publik, terutama terkait kapasitas gerbong pada jam-jam puncak. Antrean penumpang di peron, kondisi kereta yang padat, serta kebutuhan penambahan jadwal kereta menjadi aspirasi yang kerap disampaikan pengguna.

Pemerintah dan operator dinilai perlu menindaklanjuti hal tersebut melalui Rapat Koordinasi lintas instansi agar kebijakan penambahan rangkaian, perawatan sarana, dan pengaturan headway dapat ditetapkan secara terukur. Langkah itu penting mengingat jumlah pengguna yang terus tumbuh seiring bertambahnya kawasan permukiman di sepanjang jalur.

"Kenyamanan dan keselamatan penumpang harus menjadi prioritas utama. Setiap keputusan mengenai jadwal dan kapasitas mesti berbasis data perjalanan harian," tegasnya.

Aspek keselamatan juga menjadi sorotan, mulai dari pengamanan perlintasan sebidang hingga edukasi kepada masyarakat agar tidak beraktivitas di area rel. Kejadian kecelakaan di perlintasan liar masih menjadi persoalan yang memerlukan penanganan bersama antara pemerintah daerah, pengelola sarana, dan aparat setempat.

Dampak Sosial dan Ekonomi

Kehadiran layanan KRL lintas Rangkasbitung–Tanah Abang turut memberikan dampak ekonomi bagi wilayah yang dilalui. Kawasan sekitar stasiun tumbuh menjadi pusat aktivitas jual beli, mulai dari pedagang makanan, penyedia jasa ojek, hingga usaha kecil lainnya yang mengandalkan arus penumpang harian.

Bagi pemerintah daerah, peningkatan layanan kereta dinilai sejalan dengan upaya mendorong penggunaan angkutan umum massal sesuai amanat kebijakan pembangunan transportasi berkelanjutan. Berdasarkan UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, penyelenggaraan angkutan umum wajib mengutamakan keselamatan, kenyamanan, dan keterjangkauan bagi masyarakat.

Dengan jumlah perjalanan yang tinggi setiap hari, lintas Rangkasbitung–Tanah Abang menegaskan posisinya sebagai salah satu urat nadi transportasi publik di Jabodetabek. Penambahan kapasitas, pembenahan fasilitas stasiun, serta integrasi antarmoda yang berkelanjutan akan menjadi kunci dalam memastikan layanan ini tetap andal melayani mobilitas warga pada tahun-tahun mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS tania-sari

Reporter Hukum. Meliput Mahkamah Konstitusi, judicial review, dan dinamika legislasi.

Comments (0)

User