Sep 16, 2026
Nasional

Kemenhub Beberkan Panduan Keselamatan Darurat Saat Kapal Tenggelam di Laut

JAKARTA — Dua insiden kecelakaan laut yang terjadi secara hampir bersamaan di perairan Indonesia kembali menghentak publik dan memicu sorotan tajam terhada

Kemenhub Beberkan Panduan Keselamatan Darurat Saat Kapal Tenggelam di Laut

JAKARTA — Dua insiden kecelakaan laut yang terjadi secara hampir bersamaan di perairan Indonesia kembali menghentak publik dan memicu sorotan tajam terhadap keandalan sistem keselamatan pelayaran nasional. Salah satu peristiwa menonjol melibatkan penanganan serta pengangkatan bangkai kapal KMP Tunu yang mengalami musibah saat berlayar. Tragedi ganda ini menjadi alarm keras bagi Kementerian Perhubungan (Kemenhub), operator pelayaran, serta para penumpang akan krusialnya pemahaman mendalam mengenai prosedur evakuasi darurat saat kapal mengalami bahaya tenggelam di tengah laut.

Berdasarkan data Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), sebagian besar korban jiwa pada kecelakaan kapal disebabkan oleh kepanikan massa serta minimnya pemahaman dasar terkait navigasi evakuasi mandiri. Ketika kapal mulai hilang kendali akibat kebocoran lambung kapal atau cuaca ekstrem, jendela waktu bagi penumpang untuk menyelamatkan diri sangatlah terbatas, yakni berkisar antara 10 hingga 30 menit saja sebelum armada sepenuhnya karam.

Kronologi Pertolongan Pertama dan Urutan Evakuasi

Para ahli keselamatan maritim menegaskan bahwa kesiapsiagaan diri dimulai sejak pertama kali melangkahkan kaki ke atas geladak kapal. Saat situasi darurat diumumkan oleh nakhoda melalui alarm pelayaran, penumpang dituntut untuk bertindak cepat tanpa mengabaikan instruksi keselamatan baku.

Berikut adalah urutan kronologis langkah keselamatan yang wajib diikuti penumpang saat terjadi insiden kecelakaan laut:

  1. Mendengarkan Sinyal Darurat: Pahami bunyi sirene bahaya yang bertiup sebanyak 7 kali suara pendek dan 1 kali suara panjang secara terus-menerus sebagai tanda perintah resmi untuk meninggalkan kapal (*abandon ship*).
  2. Mengenakan Jaket Pelampung (Life Jacket): Segera ambil pelampung yang tersedia di bawah kursi atau loker darurat. Pastikan tali pengikat terkunci rapat di dada dan pinggang, serta peluit keselamatan berada di dekat mulut.
  3. Menuju Titik Kumpul (Assembly Station): Berjalan cepat mengikuti jalur evakuasi berlampu hijau tanpa membawa barang bawaan berat yang berpotensi menghambat pergerakan.
  4. Prosedur Melompat ke Air: Jika terpaksa melompat dari geladak tinggi, gunakan teknik silang tangan (*cross-arm method*) dengan menutup hidung dan mulut, serta melompat dengan kaki lurus menyilang untuk meminimalkan benturan keras dengan air.

Analisis Kesiapan Fasilitas dan Kepatuhan Regulasi

Evaluasi teknis pasca-insiden KMP Tunu menunjukkan pentingnya standardisasi kelengkapan alat keselamatan pada kapal penumpang komersial. Data perbandingan berikut menggambarkan tingkat kesiapan standar operasional prosedur (SOP) keselamatan dibanding tingkat pemahaman aktual penumpang di lapangan:

Peralatan Keselamatan Standar Regulasi International (SOLAS) Tingkat Pemahaman Penumpang
Jaket Pelampung (Life Jacket) 110% dari total kapasitas penumpang 45% memahami cara pakai dengan benar
Sekoci Penolong (Life Raft/ILR) Dapat mengapung otomatis saat kapal tenggelam 30% mengetahui lokasi pengoperasiannya
Sinyal Suar Darurat (EPIRB/Flare) Aktif otomatis mengirim sinyal satelit Memerlukan inspeksi periodik ketat

Menurut analisis pakar transportasi maritim, faktor kepanikan massal kerap memperburuk dampak bencana di laut. "Sebagian besar fatalitas terjadi bukan murni karena ketiadaan pelampung, melainkan karena penumpang terlambat merespons sinyal bahaya serta salah melakukan teknik melompat ke air saat kapal mulai miring," ujar Dr. Capt. Bambang Sumantri, pengamat keselamatan pelayaran maritim.

Strategi Bertahan Hidup Saat Terombang-ambing di Laut

Setelah berhasil keluar dari badan kapal dan berada di permukaan air laut, ancaman berikutnya adalah hipotermia serta kelelahan fisik. Oleh karena itu, penumpang diimbau untuk menghemat energi secara maksimal sambil menunggu kedatangan tim Search and Rescue (SAR).

  • Terapkan Posisi H.E.L.P (Heat Escape Lessening Posture): Rapatkan kedua lutut ke dada dan peluk erat tubuh sendiri untuk mempertahankan suhu inti tubuh dari dinginnya air laut.
  • Membentuk Kelompok Kumpul (Huddle Position): Jika selamat bersama penumpang lain, saling berpegangan membentuk lingkaran rapat agar posisi survivor lebih mudah terlihat oleh helikopter tim pencari.
  • Manfaatkan Alat Pemancar Sinyal: Tiup peluit pada jaket pelampung secara berkala atau gunakan lampu suar yang menyala otomatis saat terkena air asin untuk menarik perhatian kapal penyelamat.

Pemerintah melalui Kemenhub berjanji akan memperketat audit keselamatan (*ramp check*) terhadap seluruh armada kapal feri dan perintis di Indonesia guna mencegah berulangnya tragedi maritim serupa di masa mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS hendra-wijaya

Editor Politik. Mantan jurnalis cetak dengan spesialisasi politik elektoral. Menulis analisis kebijakan dan reportase parlemen.

Comments (0)

User