Kemarau Panjang Singkap Kampung Tenggelam di Bendungan Karian
Permukaan air Bendungan Karian di Kabupaten Lebak, Banten, menyusut drastis selama puncak musim kemarau Juli 2026, menyingkap kembali sisa-sisa permukiman yang telah tenggelam sejak bendungan tersebut...
Permukaan air Bendungan Karian di Kabupaten Lebak, Banten, menyusut drastis selama puncak musim kemarau Juli 2026, menyingkap kembali sisa-sisa permukiman yang telah tenggelam sejak bendungan tersebut diresmikan. Pantauan pada Kamis (24/7/2026) memperlihatkan fondasi rumah, reruntuhan bangunan, serta menara masjid yang biasa terendam kini muncul utuh di tengah hamparan tanah retak yang sebelumnya menjadi dasar waduk. Fenomena ini langsung menarik perhatian warga sekitar, terutama mereka yang dulunya menghuni kampung-kampung yang ditenggelamkan.
Salah satu saksi mata, Odon (56), warga Dusun Cikarang yang direlokasi pada 2018, mengaku tak menyangka bisa kembali melihat rumah masa kecilnya.
“Biasanya kalau musim hujan, paling-paling cuma ujung menara masjid yang kelihatan. Sekarang, rumah-rumah masih jelas berdiri meski sudah rusak. Bahkan jalan setapak menuju balai desa masih tampak,”ujarnya dengan nada haru.
Bendungan Karian dan Kampung yang Tenggelam
Bendungan Karian mulai dibangun pada tahun 2015 dan diresmikan Presiden Joko Widodo pada akhir 2019. Proyek strategis nasional ini membendung aliran Sungai Ciberang dengan kapasitas tampung 314,7 juta meter kubik, berfungsi sebagai pemasok air baku bagi wilayah Jakarta, Bekasi, dan sebagian Banten. Pembangunannya menenggelamkan sedikitnya empat dusun di Kecamatan Cilograng dan Malingping, termasuk Dusun Cikarang, Cibuluh, dan Cikawung. Lebih dari 280 keluarga direlokasi ke permukiman baru yang disiapkan pemerintah.
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Citarum (BBWS Citarum) yang dihubungi terpisah, Maman Suparman, menegaskan bahwa menyusutnya permukaan air adalah siklus tahunan yang terjadi saat kemarau panjang, namun tahun ini penurunannya lebih tajam.
“Elevasi muka air waduk turun hingga 13 meter dari ambang normal 128 meter di atas permukaan laut. Ini dampak kemarau yang lebih kering dari prediksi. Namun kami pastikan pasokan air baku masih terkendali,”tegasnya.
Nostalgia dan Kekhawatiran Warga
Bagi para mantan warga, kemunculan kembali kampung halaman menimbulkan gelombang nostalgia. Sejumlah warga dari tempat relokasi sengaja berkunjung untuk melihat langsung sisa-sisa rumah mereka. Eni (48), mantan warga Kampung Cibuluh, mengaku terharu sekaligus sedih.
“Saya masih ingat sumur depan rumah itu, sekarang tinggal lingkaran batu merah. Dulu di situlah kami timba air setiap pagi. Ada rasa rindu yang campur aduk,”tuturnya sambil menunjuk tumpukan bata di kejauhan.
Namun di balik euforia nostalgia, sebagian warga khawatir kalau kemarau panjang bisa mengganggu pasokan air bersih dan irigasi. Seorang petani di Kecamatan Cilograng, Ruslan (52), mengeluhkan debit air saluran irigasi yang berasal dari Bendungan Karian semakin mengecil.
“Sawah tadah hujan sudah gagal panen, kalau waduk terus surut, irigasi teknis pun terancam,”katanya.
Pemerintah Pastikan Layanan Air Baku Tetap Aman
BBWS Citarum menjamin bahwa penurunan elevasi muka air ini tidak akan mengganggu pemenuhan kebutuhan air baku bagi Jakarta dan sekitarnya. Pintu intake air baku dibangun pada kedalaman yang cukup untuk tetap beroperasi meski waduk mengalami penyusutan ekstrem. Namun, Maman Suparman mengimbau agar Perum Jasa Tirta II selaku operator lebih mengintensifkan pengawasan dan efisiensi distribusi.
Sementara itu, Bupati Lebak meminta warga untuk tidak menjadikan area bekas kampung yang terbuka sebagai tempat wisata dadakan karena kontur tanah yang labil dan risiko longsor kecil. Petugas dari Satpol PP serta Unit Pengelola Bendungan telah memasang garis pembatas dan papan peringatan di sekitar lokasi.
Fenomena yang Menjadi Pengingat Adaptasi Iklim
Fenomena munculnya kembali kampung tenggelam ini, menurut pengamat lingkungan dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Dr. Andi Sutisna, menjadi pengingat betapa rentannya sistem sumber daya air terhadap perubahan iklim.
“Siklus kemarau yang semakin ekstrem memaksa kita untuk lebih serius mengelola tampungan air dan merevisi pola tanam. Bendungan Karian yang awalnya didesain untuk ketahanan air baku, kini harus dioperasikan dengan perhitungan adaptif,”ungkapnya.
Data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Banten dan Jawa Barat masih akan dilanda kemarau hingga akhir Agustus dengan intensitas hujan di bawah normal. Hal ini diperkirakan akan terus menurunkan level air Bendungan Karian dalam beberapa pekan mendatang.
Pemerintah daerah, bersama BBWS Citarum dan BPBD, telah menyiagakan pompa air cadangan serta berkoordinasi untuk distribusi air bersih jika situasi memburuk. Masyarakat diminta untuk menggunakan air secara bijak dan melaporkan setiap gejala krisis air di lingkungan masing-masing.
Di tengah kekeringan, pemandangan sisa kampung yang muncul dari dasar waduk menjadi saksi bisu perjalanan hidup ratusan keluarga yang kini telah memulai babak baru di tempat relokasi. Odon dan warga lainnya mungkin hanya bisa sesekali mengenang, tetapi jejak-jejak yang tersingkap kemarau ini akan kembali tenggelam begitu hujan besar tiba.
Comments (0)