Kemarau Panjang Bongkar Kampung Tenggelam di Bendungan Karian
LEBAK — Musim kemarau ekstrem yang melanda Kabupaten Lebak, Banten, pada Juli 2026 menyebabkan fenomena langka: menyusutnya permukaan air Bendungan Karian secara signifikan hingga menyingkap sisa-si...
LEBAK — Musim kemarau ekstrem yang melanda Kabupaten Lebak, Banten, pada Juli 2026 menyebabkan fenomena langka: menyusutnya permukaan air Bendungan Karian secara signifikan hingga menyingkap sisa-sisa permukiman warga yang telah tenggelam sejak tiga tahun silam. Struktur fondasi rumah, sumur, puing pagar, hingga jalan setapak yang membeku di dasar waduk kini dapat disaksikan secara kasatmata, menjadi pemandangan yang memicu gelombang nostalgia sekaligus kepiluan bagi warga terdampak relokasi.
Penampakan ini menjadi kali pertama sejak pengisian awal waduk pada Maret 2023, menurut catatan Unit Pelaksana Teknis Daerah Pengelola Sumber Daya Air Wilayah Sungai Ciliman-Cibareno. Saat itu, sedikitnya 78 kepala keluarga dari dua dusun—Dusun Karian dan Dusun Cibunar—direlokasi ke lahan pengganti yang disiapkan pemerintah pusat.
Laju Penurunan Muka Air Capai 14 Meter
Kepala UPTD PSDA Wilayah Sungai Ciliman-Cibareno, Eko Supriyanto, menyatakan bahwa elevasi muka air Bendungan Karian per 24 Juli 2026 tercatat pada angka 73,2 meter di atas permukaan laut, turun hingga 14,1 meter dari level normal operasional 87,3 meter. Penurunan tersebut disebabkan oleh minimnya pasokan air dari Daerah Aliran Sungai Ciberang dan Cimanceuri yang terdampak kekeringan, ditambah dengan penguapan tinggi akibat suhu udara yang konsisten di atas 34 derajat Celsius.
"Ini merupakan titik terendah sejak penggenangan perdana. Saat inspeksi rutin, tim kami menemukan kembali jalan desa selebar tiga meter yang dulu menjadi jalur utama Dusun Karian," ujar Eko dalam keterangan resmi di Lebak, Kamis (24/7).
Penyusutan ini juga berimbas pada kapasitas tampung efektif waduk yang merosot hingga 38 persen. Meski demikian, Eko memastikan pasokan air baku dan irigasi bagi tiga kabupaten/kota masih dapat terlayani, kendati dengan pengaturan pintu air yang lebih ketat.
Fondasi Rumah dan Sumur Kembali Menyembul
Pantauan di lapangan menunjukkan sejumlah artefak kehidupan masa lalu yang kini muncul di permukaan lumpur kering. Di sektor timur bendungan, deretan fondasi batu kali rumah panggung khas Banten Selatan terlihat jelas membentuk pola perkampungan. Sementara di titik selatan, sisa sumur gali berdiameter 1,2 meter dengan bibir semen masih utuh berdiri di tengah retakan tanah liat.
Pohon asam jawa berusia puluhan tahun yang dahulu menjadi penanda batas dusun juga masih berdiri, meski batangnya telah lapuk dan mengering. Sejumlah warga yang mendapat kabar tentang fenomena ini menyempatkan diri berkunjung ke tepi waduk untuk menyaksikan langsung tanah leluhur mereka.
Sumadi, 65 tahun, mantan warga Dusun Cibunar yang kini menetap di Desa Kerta, Kecamatan Maja, tak kuasa menahan emosi saat mengidentifikasi fondasi rumahnya dari kejauhan. "Rumah saya dulu tepat di sebelah barat pohon asam itu. Tiga generasi lahir di sana. Meski kami sudah pindah dan hidup lebih baik, melihatnya kembali seperti menguliti luka lama," tuturnya dengan suara bergetar.
Rekognisi dan Mitigasi dari Otoritas
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Lebak, Haerudin, menegaskan bahwa fenomena ini tidak mengindikasikan kerusakan struktur bendungan, melainkan konsekuensi alamiah dari musim kering berkepanjangan. Pihaknya bersama Balai Besar Wilayah Sungai Citarum telah memasang rambu pengaman di zona surut untuk mencegah warga memasuki area yang labil.
"Kami memahami sisi historis dan emosional yang melekat, namun keselamatan publik tetap prioritas. Kami mengimbau warga untuk tidak turun ke dasar waduk karena risiko tanah amblas dan sisa material tajam masih tinggi," tegas Haerudin.
Di sisi lain, Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air merencanakan kajian morfologi dasar waduk setelah kemarau usai, guna memetakan kembali potensi sedimentasi dan umur layanan bendungan. "Data batimetri yang akan kami ambil setelah siklus ini akan menjadi masukan untuk penyesuaian pola operasi waduk jangka panjang," jelas Direktur Bendungan dan Danau, Ade Satria, dalam rapat koordinasi virtual.
Antara Kenangan dan Keniscayaan Proyek Strategis
Bendungan Karian sendiri merupakan proyek strategis nasional yang diresmikan pada 2022 dengan kapasitas tampung 315 juta meter kubik. Selain menjadi sumber irigasi untuk 22 ribu hektare lahan pertanian, ia juga berfungsi sebagai pemasok air baku sebesar 1.200 liter per detik bagi Serang, Cilegon, dan Lebak, serta pengendali banjir di hilir.
Namun, bagi Sumadi dan puluhan keluarga lainnya, kenangan akan kampung yang kini kembali menampakkan wujudnya menyimpan arti yang tak terukur. "Kami paham ini untuk kemajuan daerah, tapi hati kecil selalu berharap ada cara agar jejak kami tidak sepenuhnya lenyap," pungkasnya.
Prakirawan BMKG setempat memprediksi musim kemarau tahun ini masih akan berlangsung hingga akhir September 2026. Dengan demikian, pemandangan kampung tenggelam di Bendungan Karian dipastikan masih akan menyita perhatian publik hingga beberapa waktu ke depan.
Comments (0)