Sep 16, 2026
Hukum

Keluarga Steve Biko Minta Penundaan Sidang Penyelidikan Ulang Kematian

GQEBERHA — Pihak keluarga mendiang ikon anti-apartheid Afrika Selatan, Bantu Steve Biko, mengajukan permohonan resmi kepada Pengadilan Tinggi Gqeberha untu

Keluarga Steve Biko Minta Penundaan Sidang Penyelidikan Ulang Kematian

GQEBERHA — Pihak keluarga mendiang ikon anti-apartheid Afrika Selatan, Bantu Steve Biko, mengajukan permohonan resmi kepada Pengadilan Tinggi Gqeberha untuk menunda pembukaan kembali sidang penyelidikan (inquest) atas kematian sang aktivis. Langkah hukum ini diambil agar tim advokat memiliki waktu yang memadai untuk berkonsultasi secara mendalam dengan janda Steve Biko, Ntsiki Biko, serta menelaah seluruh berkas sejarah perkara.

Keputusan pembukaan kembali penyelidikan yudisial atas tewasnya tokoh Gerakan Kesadaran Kulit Hitam (Black Consciousness Movement) tersebut sejatinya disambut sebagai momentum penting untuk membongkar kebenaran historis. Namun, tim kuasa hukum keluarga menegaskan bahwa proses hukum ini tidak boleh dijalankan secara tergesa-gesa tanpa persiapan matang dari pihak keluarga korban.

"Pihak keluarga membutuhkan ruang dan waktu yang memadai guna memastikan seluruh hak-hak korban terwakili secara komprehensif, khususnya dalam memberikan masukan langsung dari saksi kunci keluarga kepada tim hukum sebelum persidangan dimulai," demikian keterangan tertulis tim kuasa hukum keluarga Biko.

Kronologi Tragedi dan Penyelidikan Kematian Steve Biko

Proses hukum ini merupakan bagian dari upaya panjang menuntut pertanggungjawaban atas kejahatan era apartheid. Berikut adalah linimasa penting terkait kasus kematian Steve Biko:

  1. 18 Agustus 1977: Steve Biko ditangkap oleh polisi keamanan rezim apartheid di dekat Grahamstown (sekarang Makhanda) atas tuduhan melanggar pembatasan wilayah politik.
  2. Agustus – September 1977: Selama interogasi di Markas Besar Polisi Walmer di Port Elizabeth (kini Gqeberha), Biko disiksa secara brutal hingga mengalami cedera otak parah dan dibiarkan tanpa penanganan medis memadai.
  3. 12 September 1977: Biko mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Penjara Pretoria setelah menempuh perjalanan darat sejauh lebih dari 1.000 kilometer dalam kondisi telanjang dan koma di belakang mobil polisi.
  4. November 1977: Sidang penyelidikan awal di bawah rezim apartheid menyatakan bahwa kematian Biko terjadi akibat cedera kepala tanpa ada pihak yang dinilai bertanggung jawab secara pidana—sebuah keputusan yang menuai kecaman luas di tingkat internasional.
  5. Tahun 2024–2025: Kementerian Kehakiman Afrika Selatan memutuskan untuk membuka kembali penyelidikan resmi guna mengoreksi catatan sejarah peradilan yang manipulatif di masa lalu.

Urgensi Konsultasi dan Peninjauan Bukti Historis

Tim pengacara keluarga menekankan bahwa penundaan ini bukan bermaksud menghalangi jalinya proses peradilan, melainkan memastikan penyelidikan ulang berjalan secara adil, transparan, dan berbobot. Berkas perkara yang melibatkan kesaksian masa lalu serta temuan dari Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (TRC) memerlukan analisis yuridis mendalam.

Pemerintah Afrika Selatan dalam beberapa tahun terakhir mulai aktif membuka kembali serangkaian penyelidikan atas kematian para pejuang kemerdekaan yang tewas dalam tahanan politik rezim apartheid. Upaya ini dilakukan demi memberikan keadilan bagi keluarga korban serta memulihkan martabat hukum negara yang sempat tercoreng oleh impunitas aparat masa lalu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS dimas-permana

Reporter Politik Muda. Fokus pada gerakan pemuda, politik digital, dan representasi generasi Z.

Comments (0)

User