Kapal Rumah Sakit Terapung KRI dr Soeharso Tiba di Pelabuhan Reo, NTT
Kapal rumah sakit terapung milik TNI Angkatan Laut, KRI dr Soeharso 990, telah tiba di Pelabuhan Reo, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk menangani 75 pasien korban gempa bumi yang mengguncang wilayah te...
Kapal rumah sakit terapung milik TNI Angkatan Laut, KRI dr Soeharso 990, telah tiba di Pelabuhan Reo, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk menangani 75 pasien korban gempa bumi yang mengguncang wilayah tersebut. Berdasarkan data resmi yang dihimpun tim di lapangan, jumlah korban jiwa akibat bencana itu mencapai 83 orang, sementara 986 orang lainnya mengalami luka-luka dan membutuhkan perawatan medis.
Kedatangan kapal perang bantu rumah sakit itu menindaklanjuti keputusan Markas Besar TNI Angkatan Laut untuk mengerahkan aset kesehatan guna mempercepat pelayanan medis bagi warga terdampak. Kapal yang bersandar di Pelabuhan Reo tersebut membawa tim dokter, perawat, serta perlengkapan rumah sakit yang siap dioperasikan secara penuh di wilayah bencana.
Kapal Rumah Sakit dengan Fasilitas Medis Lengkap
KRI dr Soeharso 990 merupakan kapal rumah sakit terapung yang dikonversi dari kapal feri menjadi kapal perang bantu rumah sakit. Kapal yang berpangkalan di Surabaya, Jawa Timur, di bawah Komando Armada II tersebut memiliki kapasitas 75 tempat tidur pasien serta dilengkapi ruang operasi, unit perawatan intensif, laboratorium, dan instalasi penunjang medis lainnya.
Kehadiran kapal rumah sakit ini diharapkan menggantikan sementara fungsi fasilitas kesehatan darat yang mengalami keterbatasan akibat lonjakan pasien pascagempa. Seluruh layanan medis di atas kapal akan beroperasi penuh untuk menangani pasien yang dirujuk dari puskesmas dan rumah sakit di sekitar lokasi bencana.
Dalam sejarah pengabdiannya, kapal rumah sakit ini telah dikerahkan dalam berbagai operasi kemanusiaan di sejumlah wilayah Indonesia. Kemampuan berlayarnya mendekati daerah terpencil menjadikannya aset strategis bagi penanganan bencana, terutama bagi wilayah kepulauan seperti NTT yang memiliki akses darat yang terbatas.
Penanganan Medis dan Rujukan Pasien
Sebanyak 75 pasien yang ditampung di KRI dr Soeharso 990 merupakan korban yang dirujuk dari sejumlah fasilitas kesehatan darat di wilayah terdampak. Tim medis di atas kapal melakukan pemeriksaan awal, triase, hingga tindakan operatif bagi pasien yang membutuhkan penanganan lanjutan.
Proses penerimaan pasien dilakukan secara bertahap dengan pendataan identitas dan kondisi kesehatan setiap korban. Pasien yang membutuhkan tindakan operasi segera ditangani di ruang operasi kapal, sedangkan pasien dengan kondisi stabil menjalani perawatan rawat jalan maupun rawat inap sesuai tingkat keparahannya.
Pasien dengan kondisi kritis akan dirawat di unit perawatan intensif kapal, sementara pasien yang memerlukan perawatan jangka panjang akan dipindahkan ke rumah sakit rujukan di darat setelah kondisinya stabil. Koordinasi antara tim medis kapal dan Dinas Kesehatan setempat dilakukan secara berkala dalam rapat koordinasi harian untuk memastikan distribusi pelayanan berjalan merata.
Data Korban: 83 Meninggal, 986 Luka-Luka
Berdasarkan data yang dihimpun dari posko penanganan bencana, korban jiwa akibat gempa bumi di NTT mencapai 83 orang. Sementara itu, 986 orang mengalami luka-luka, mulai dari luka ringan hingga luka berat, dan telah mendapat penanganan di berbagai fasilitas kesehatan.
Petugas gabungan dari TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta relawan terus melakukan pencarian, evakuasi, dan pendataan korban di lokasi-lokasi terdampak. Proses evakuasi warga yang terjebak reruntuhan bangunan dilakukan secara bertahap mengingat kondisi medan dan akses jalan yang terbatas di sejumlah titik.
Bantuan logistik, termasuk makanan, air bersih, tenda pengungsian, dan obat-obatan, terus disalurkan ke daerah-daerah yang membutuhkan. Pemerintah daerah menegaskan bahwa kebutuhan utama saat ini adalah pelayanan kesehatan bagi korban luka serta pemulihan fasilitas umum yang rusak akibat guncangan.
Sinergi Penanganan Bencana
Penanganan bencana di NTT dilakukan secara terpadu melalui koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, dan berbagai instansi terkait. Kehadiran KRI dr Soeharso 990 di Pelabuhan Reo menjadi bagian dari operasi bantuan kemanusiaan yang digelar untuk mempercepat pemulihan masyarakat terdampak.
Dalam rapat koordinasi yang digelar di Pelabuhan Reo, seluruh unsur terkait menyepakati pembagian tugas penanganan medis, mulai dari penampungan pasien di kapal hingga penyaluran bantuan logistik ke pengungsian. TNI Angkatan Laut menyatakan kesiapannya menurunkan seluruh aset yang dibutuhkan, baik kapal rumah sakit maupun kapal pengangkut logistik, selama masa tanggap darurat berlangsung.
Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi gempa susulan serta mengikuti arahan petugas selama proses evakuasi dan penanganan berlangsung. Seluruh pihak berharap pelayanan medis yang diberikan dapat berjalan optimal sehingga angka korban tidak bertambah dan pemulihan wilayah terdampak dapat berlangsung cepat.
Comments (0)