Jejak Desa Tergenang Bendungan Karian Muncul Akibat Kemarau Panjang

LEBAK — Untuk pertama kalinya sejak tiga tahun silam, puing-puing permukiman yang dahulu menjadi bagian dari keseharian warga di wilayah genangan Bendungan Karian kembali menampakkan wujudnya. Surut...

Jejak Desa Tergenang Bendungan Karian Muncul Akibat Kemarau Panjang

LEBAK — Untuk pertama kalinya sejak tiga tahun silam, puing-puing permukiman yang dahulu menjadi bagian dari keseharian warga di wilayah genangan Bendungan Karian kembali menampakkan wujudnya. Surutnya air waduk secara signifikan pada Kamis, 24 Juli 2026, menyibak fondasi rumah, jalan desa, dan sisa-sisa peradaban yang lama terbenam. Fenomena ini menjadi penanda betapa dahsyatnya dampak musim kemarau berkepanjangan terhadap salah satu bendungan terbesar di Provinsi Banten tersebut.

Berdasarkan data yang dihimpun di lapangan, elevasi muka air Bendungan Karian turun hingga 30 persen dari ambang normal, menyisakan tanah retak dan sisa bangunan yang dulu dihuni ratusan kepala keluarga. Genangan yang biasanya menutupi areal seluas lebih dari 1.700 hektare itu kini menyurut drastis, mengungkap bentang alam yang mirip petak-petak pemukiman kering. Warga dari desa terdekat di Kecamatan Sajira dan Muncang, Kabupaten Lebak, ramai-ramai mendatangi lokasi untuk menyaksikan fenomena langka itu.

Penurunan Debit Air Capai Titik Terendah

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cidanau-Ciujung-Cidurian, Dewanto Eko Prasetyo, menyatakan bahwa kondisi ini merupakan imbas langsung dari anomali cuaca yang dipicu oleh fenomena El Nino. “Hasil pemantauan kami menunjukkan elevasi air di Bendungan Karian per 24 Juli 2026 berada pada level 121,7 meter di atas permukaan laut, atau sekitar 15,3 meter di bawah ambang eksploitasi normal. Penurunan ini terpantau sejak awal Juni 2026 dan terus berlanjut tanpa henti,” ujarnya dalam keterangan tertulis. Ia menambahkan, situasi ini memaksa pihaknya memberlakukan manajemen air ketat untuk menjaga pasokan irigasi dan kebutuhan air baku di wilayah hilir.

Bendungan Karian yang merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional rampung dibangun dan mulai diisi air pada awal 2023. Sebanyak tujuh desa di Kecamatan Sajira, Muncang, dan sekitarnya harus direlokasi untuk memberi ruang bagi tampungan air berkapasitas 314 juta meter kubik itu. Selama ini, bendungan tersebut menjadi tulang punggung pemenuhan air baku bagi kawasan Serang Raya, Kabupaten Lebak, hingga sebagian Tangerang, serta mengairi ribuan hektare lahan pertanian. Kini, wajah asli tanah yang telah bertahun-tahun menghilang di balik air kembali terlihat jelas.

Kenangan Warga yang Direlokasi

Nayat (58), salah seorang warga asal Desa Parungsari yang kini menetap di hunian tetap program relokasi, mengaku terharu saat kembali melihat bekas rumahnya. “Saya tak menyangka bisa kembali melihat batas halaman dan sumur tua kami. Ini seperti membuka album lama yang sudah dikira hilang selamanya,” tuturnya sambil menunjuk ke arah tiang listrik lapuk yang muncul setengah dari permukaan tanah kering. Nayat berasal dari salah satu dari 1.203 kepala keluarga yang dipindahkan dalam proses pembangunan bendungan tersebut. Ia masih menyimpan ingatan tentang ladang padi dan kebun kelapa yang kini hanya tersisa dalam ingatan.

Fenomena ini pun menjadi ruang nostalgia sekaligus pengingat akan disrupsi sosial yang dihadapi warga. Meskipun pemerintah telah menyediakan rumah pengganti dan program pemberdayaan, sejumlah penduduk mengaku masih sulit beradaptasi dengan lokasi baru yang jauh dari sumber air dan lahan garapan tradisional. Sosiolog dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Rina Marlina, memandang kemunculan kembali kampung tenggelam ini sebagai kesempatan untuk mengevaluasi keberhasilan penanganan dampak sosial proyek infrastruktur. “Momentum ini ideal untuk meneliti apakah janji pemulihan kehidupan ekonomi warga terdampak benar-benar tertunai,” jelasnya.

Respons Pemerintah Daerah

Bupati Lebak, Iti Octavia Jayabaya, menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Lebak akan berkoordinasi dengan BBWS untuk memastikan fenomena ini tidak mengganggu pelayanan dasar. “Kami segera meninjau lapangan dan berdiskusi dengan pihak pengelola bendungan. Ini fenomena alam langka, namun yang terpenting adalah ketersediaan air baku untuk masyarakat dan irigasi tidak terputus,” ujarnya melalui sambungan telepon. Ia mengimbau warga agar tidak memasuki area bekas genangan secara sembarangan mengingat potensi tanah longsor dan struktur bangunan yang rapuh.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lebak, Febby Rizky Pratama, mengerahkan tim reaksi cepat untuk memantau kondisi di sekitar bendungan. “Kami akan memasang rambu peringatan dan melarang aktivitas yang berisiko. Meskipun pemandangannya menarik, keselamatan warga tetap prioritas utama,” tegasnya. Ia memperkirakan fenomena surut ekstrem ini masih akan berlangsung hingga akhir Agustus 2026 jika pola kemarau terus berlanjut. Pihaknya juga mengantisipasi potensi konflik sosial akibat warga yang mencoba mengklaim kembali lahan yang telah dibebaskan.

Bendungan Karian yang memiliki tinggi 103 meter dan panjang puncak 412 meter itu merupakan bendungan tipe urugan batu dengan inti tanah liat. Kehadirannya diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan air baku sebanyak 8,5 meter kubik per detik untuk empat kabupaten/kota di Banten. Namun, di balik megahnya infrastruktur, kampung-kampung yang kini muncul dari balik lumpur menawarkan narasi sunyi tentang transisi dan memori yang tak ingin dilupakan. Air yang surut tidak hanya memperlihatkan batu bata dan kayu lapuk, melainkan juga lapisan-lapisan cerita yang ikut terangkat ke permukaan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User