Sep 16, 2026
Nasional

JAKARTA — Pakar Mental Ingatkan Ciri Menimbun Barang Bekas Tanda Hoarding Disorder

Tumpukan koran bekas setinggi dada, puluhan kardus kosong yang mulai melapuk, hingga kantong plastik berisi benda-benda tak terpakai tampak memadati setiap

JAKARTA — Pakar Mental Ingatkan Ciri Menimbun Barang Bekas Tanda Hoarding Disorder

Tumpukan koran bekas setinggi dada, puluhan kardus kosong yang mulai melapuk, hingga kantong plastik berisi benda-benda tak terpakai tampak memadati setiap sudut ruangan. Bagi sebagian orang, pemandangan ini mungkin dianggap sekadar ketidakrapian atau rasa enggan untuk membuang barang. Namun, dalam dunia psikologi, perilaku menimbun barang bekas secara berlebihan tanpa nilai guna yang jelas dapat menjadi penanda gangguan kesehatan jiwa serius yang dikenal sebagai hoarding disorder.

Fenomena ini kerap berkembang perlahan tanpa disadari oleh penderita maupun keluarga terdekat. Barang-barang yang bagi orang normal dianggap sebagai sampah—seperti kemasan makanan, pakaian rusak, hingga barang elektronik mati—dianggap memiliki nilai emosional atau potensi kegunaan masa depan yang sangat tinggi oleh seorang hoarder. Akibatnya, ruang gerak di dalam rumah semakin menyempit, memicu bahaya kesehatan fisik dan mengisolasi penderitanya dari kehidupan sosial.

Memahami Perbedaan Kolektor dan Penderita Hoarding Disorder

Masyarakat sering kali keliru dalam membedakan antara seorang kolektor barang dengan penderita gangguan menimbun ini. Pakar kesehatan mental menegaskan bahwa perbedaan mendasar terletak pada organisasi, tujuan, dan dampak emosional dari kegiatan mengumpulkan barang tersebut.

Berikut adalah perbandingan ringkas untuk membedakan kedua perilaku tersebut:

Kriteria Perbandingan Kolektor Barang Penderita Hoarding Disorder
Jenis Barang Barang spesifik, memiliki nilai estetika atau sejarah Barang acak, barang bekas, atau sampah tak bernilai
Pengorganisasian Tersusun rapi, dipajang, dan dirawat dengan baik Berantakan, menumpuk, dan menutup akses ruang hidup
Dampak Emosional Merasa bangga dan senang memamerkannya Merasa cemas, malu, dan cenderung menutup diri

Tanda dan Gejala Utama yang Perlu Diwaspadai

Mengidentifikasi hoarding disorder sejak dini sangat penting agar penderita mendapatkan bantuan profesional sebelum kondisi memburuk. Ada beberapa tanda utama yang bisa diamati dari perilaku sehari-hari penderita:

  • Kesulitan ekstrem melepaskan barang: Merasa sangat tertekan atau cemas saat harus membuang atau memberikan barang bekas kepada orang lain.
  • Menimbun tanpa nilai guna: Mengumpulkan benda-benda acak seperti bungkus makanan, botol plastik, koran lama, atau pakaian yang sudah tidak layak pakai.
  • Hilangnya fungsi ruang tinggal: Kamar tidur, dapur, hingga kamar mandi tidak lagi dapat digunakan sesuai fungsinya karena tertutup tumpukan barang.
  • Konflik sosial dan keluarga: Sering mengalami ketegangan dengan anggota keluarga atau tetangga yang mengeluhkan tumpukan barang dan bau tidak sedap.
  • Ketakutan berlebihan akan kehilangan: Berkeyakinan bahwa barang tersebut akan sangat dibutuhkan di masa depan atau memiliki ikatan emosional mendalam.

"Penderita hoarding disorder tidak sekadar malas membersihkan rumah. Ada hambatan kognitif mendasar yang membuat mereka mengalami kecemasan hebat ketika membayangkan harus berpisah dengan benda-benda tersebut. Pendekatan empati jauh lebih efektif dibandingkan memaksa membuang barang mereka secara mendadak," ungkap Dr. Anita Rahmawati, Sp.KJ, psikolog klinis yang mendalami gangguan persepsi emosional.

Bahaya Kesehatan dan Langkah Penanganan Medis

Dampak dari gangguan ini tidak hanya menyerang kesehatan mental, tetapi juga mengancam keselamatan fisik penderita dan lingkungan sekitarnya. Tumpukan barang bekas yang tidak terkontrol meningkatkan risiko kebakaran, menjadi sarang hama seperti tikus dan serangga, serta menyebabkan masalah pernapasan akibat debu dan jamur yang menumpuk selama bertahun-tahun.

Penanganan hoarding disorder memerlukan kombinasi terapi medis dan dukungan keluarga yang konsisten. Metode yang paling umum dilakukan adalah Cognitive Behavioral Therapy (CBT) atau Terapi Perilaku Kognitif. Melalui terapi ini, penderita dilatih untuk mengubah pola pikir terhadap kepemilikan barang dan belajar membuat keputusan yang lebih rasional saat harus membuang benda tak terpakai.

Bagi anggota keluarga, langkah awal yang disarankan adalah membangun komunikasi terbuka tanpa menghakimi. Mengajak penderita berkonsultasi dengan psikiater atau psikolog merupakan langkah krusial untuk mengembalikan kualitas hidup mereka serta menciptakan lingkungan rumah yang aman dan sehat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS bagus-nugroho

Reporter Kebijakan Publik. Fokus pada APBN, otonomi daerah, dan reformasi birokrasi.

Comments (0)

User