Sep 16, 2026
Nasional

JAKARTA — PT Freeport Indonesia Targetkan Produksi 21 Ton Emas

Di tengah gejolak harga komoditas global dan dorongan kuat pemerintah terhadap hilirisasi industri pertambangan, PT Freeport Indonesia (PTFI) menyampaikan

JAKARTA — PT Freeport Indonesia Targetkan Produksi 21 Ton Emas

Di tengah gejolak harga komoditas global dan dorongan kuat pemerintah terhadap hilirisasi industri pertambangan, PT Freeport Indonesia (PTFI) menyampaikan proyeksi krusial terkait capaian produksinya. Perusahaan tambang raksasa yang beroperasi di wilayah pegunungan Mimika, Papua Tengah, tersebut optimistis mampu memproduksi 21 ton emas pada periode operasional berjalan tahun ini. Angka fantastis ini menegaskan posisi tambang Grasberg sebagai salah satu penghasil logam mulia terbesar di dunia yang memberikan penopang signifikan bagi perekonomian nasional.

Capaian target tersebut tidak terlepas dari mulai beroperasinya fasilitas pemurnian dan pemrosesan (smelter) konsentrat tembaga dan logam mulia terpadu di kawasan industri Manyar, Gresik, Jawa Timur. Melalui fasilitas Precious Metal Refinery (PMR) yang terintegrasi, tambang yang kini mayoritas sahamnya dimiliki oleh pemerintah Indonesia melalui holding BUMN industri pertambangan (MIND ID) tersebut dapat secara mandiri memurnikan emas hingga mencapai standar kemurnian tinggi di dalam negeri tanpa harus mengekspor konsentrat mentah.

Strategi Penambangan Bawah Tanah dan Operasional Smelter

Direktur Utama PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, dalam kemitraan dan rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, memaparkan secara rinci dinamika operasional tambang bawah tanah (underground mining) yang kini menjadi fokus utama ekspansi PTFI. Pengalihan dari metode tambang terbuka (open pit) ke tambang bawah tanah raksasa seperti Grasberg Block Cave (GBC) dan Deep Mill Level Zone (DMLZ) telah menunjukkan hasil yang semakin stabil dan presisi.

Penambangan bawah tanah dengan teknologi canggih berbasis kendali jarak jauh (remote mining) memungkinkan ekstraksi bijih mineral berkadar tinggi secara efisien. Prosedur pemrosesan batuan mineral tersebut kemudian dipisahkan menjadi konsentrat tembaga yang mengandung emas dan perak sebelum dikirim ke fasilitas pemurnian akhir.

"Kami terus mengoptimalkan kapasitas produksi tambang bawah tanah dan memastikan operasional smelter berjalan sesuai tenggat waktu serta standar keselamatan tertinggi. Produksi emas sebesar 21 ton ini merupakan buah dari investasi jangka panjang dan komitmen penuh perusahaan terhadap program hilirisasi nasional," ujar Tony Wenas di hadapan para anggota dewan di Senayan.

Dampak Ekonomi dan Kontribusi bagi Penerimaan Negara

Peningkatan kapasitas produksi emas ini diproyeksikan akan memberikan suntikan segar bagi pendapatan negara dalam bentuk pajak, royalti, dividen, serta penerimaan daerah. Sebagai salah satu kontributor BUMN terbesar, PTFI terus menggenjot efisiensi guna memaksimalkan devisa hasil ekspor serta penerimaan negara bukan pajak (PNBP).

Indikator Operasional Proyeksi & Estimas
Target Produksi Emas 21 Ton
Fasilitas Pemurnian Utama Smelter Manyar, Gresik (PMR)
Kepemilikan Saham Indonesia 51,2% (MIND ID)
Metode Penambangan Utama Tambang Bawah Tanah (Underground)

Keberhasilan memproduksi 21 ton emas di dalam negeri secara langsung memperkuat cadangan devisa dan ketahanan sistem keuangan nasional di tengah ketidakpastian kondisi geopolitik global. Komitmen hilirisasi ini juga diharapkan mampu menciptakan efek ganda (multiplier effect) bagi ekosistem industri manufaktur dalam negeri, mulai dari penyerapan tenaga kerja lokal hingga pengembangan kawasan pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Timur dan Papua.

Tantangan Geologi dan Masa Depan Hilirisasi Sektor Pertambangan

Meskipun target yang dipatok sangat menjanjikan, operasional tambang bawah tanah di wilayah tropis bertekanan tinggi seperti pegunungan Papua tentu memiliki tantangan teknis tersendiri. Potensi kestabilan batuan, manajemen air tanah, serta tantangan logistik material menjadi fokus pengawasan ketat dari tim teknis PTFI. Keberlanjutan produksi sangat bergantung pada konsistensi penerapan standar environmental, social, and governance (ESG) serta mitigasi risiko bencana geologis.

Ke depan, penguatan integrasi antara fasilitas tambang di Papua dan pabrik pemurnian di Gresik menjadi benteng utama Indonesia dalam menguasai rantai pasok logam industri global. Dengan kepemilikan 51,2 persen saham oleh negara, pencapaian target produksi 21 ton emas ini bukan sekadar angka statistik komersial, melainkan simbol kedaulatan pengelolaan sumber daya alam nasional untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS bagus-nugroho

Reporter Kebijakan Publik. Fokus pada APBN, otonomi daerah, dan reformasi birokrasi.

Comments (0)

User