Sep 16, 2026
Nasional

JAKARTA — Pakar Desak Indonesia Optimalkan BRICS Demi Ketahanan Energi

JAKARTA — Momentum berkembangnya peran blok ekonomi BRICS (Brazil, Russia, India, China, South Africa, beserta negara-negara anggota barunya) harus dimanfa

JAKARTA — Pakar Desak Indonesia Optimalkan BRICS Demi Ketahanan Energi

JAKARTA — Momentum berkembangnya peran blok ekonomi BRICS (Brazil, Russia, India, China, South Africa, beserta negara-negara anggota barunya) harus dimanfaatkan secara optimal oleh Pemerintah Indonesia. Akademisi Hubungan Internasional dari Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Moch Faisal Karim, menegaskan bahwa kolaborasi strategis dengan BRICS menjadi kunci vital dalam memperkuat ketahanan energi dan pangan nasional di tengah gelombang ketidakpastian geopolitik global.

Menurut Faisal Karim, ketegangan geopolitik di kawasan Eropa Timur serta kawasan Timur Tengah telah memicu disrupsi rantai pasok global secara signifikan. Kondisi ini berdampak langsung pada lonjakan harga komoditas utama, sehingga langkah diplomasi ekonomi yang lincah dan pragmatis sangat dibutuhkan demi menjaga pasokan domestik tetap aman serta terjangkau.

"Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton dalam dinamika pertumbuhan BRICS. Keanggotaan maupun kemitraan erat dengan blok ini harus ditranslasikan menjadi kerja sama konkret, terutama untuk mengamankan akses terhadap pasokan energi fosil maupun terbarukan serta komoditas pangan esensial," ujar Moch Faisal Karim dalam analisisnya.

Urgensi Ketahanan Energi dan Pangan di Tengah Disrupsi Global

Tantangan ekonomi dunia dalam beberapa tahun terakhir membuktikan betapa rentannya negara berkembang terhadap gejolak eksternal. Laju inflasi sektor pangan global yang sempat menembus angka 15 hingga 20 persen di berbagai negara menjadi peringatan keras bagi pembuat kebijakan di Jakarta. Di saat yang sama, konsumsi energi nasional melonjak drastis seiring dengan pemulihan industri dan pertumbuhan populasi.

Dalam pandangan pakar, terdapat beberapa ranah utama kerja sama yang dapat segera digarap Indonesia bersama negara-negara BRICS:

  • Pasokan Bahan Baku Pupuk: Memanfaatkan potensi produksi pupuk skala besar dari Rusia dan Brasil guna menjaga kelancaran produktivitas petani lokal.
  • Ketahanan Energi dan Transisi Hijau: Membuka akses impor minyak mentah yang efisien sekaligus menjalin kemitraan transfer teknologi energi terbarukan dari Tiongkok.
  • Pemberdayaan Mata Uang Lokal: Mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS melalui skema Local Currency Transaction (LCT) untuk transaksi perdagangan antarnegara.

Perbandingan Potensi BRICS dan Kebutuhan Strategis Indonesia

Guna memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai nilai tambah kemitraan ini, tabel berikut merangkum pemetaan potensi negara anggota BRICS terhadap kebutuhan nasional Indonesia:

Negara BRICS Potensi Sumber Daya & Teknologi Kebutuhan Strategis Indonesia
Rusia & Iran Cadangan minyak mentah, gas alam, dan bahan baku pupuk (potash) Stabilitas pasokan energi fosil & kepastian harga pupuk pertanian
Brasil & India Produksi gandum, kedelai, gula, dan modernisasi pertanian Pemenuhan pasokan pangan pokok & bahan baku industri makanan
Tiongkok Teknologi panel surya, baterai EV, dan pembiayaan hijau Percepatan program transisi energi menuju Net Zero Emission

Strategi Langkah Optimalisasi Kerjasama Indonesia

Untuk mengeksekusi potensi tersebut secara nyata, terdapat tahapan terstruktur yang perlu dijalankan oleh pemerintah secara konsisten:

  1. Pembentukan Gugus Tugas Lintas Kementerian: Memperkuat sinergi antara Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, serta Kementerian ESDM untuk memetakan kebutuhan spesifik.
  2. Perluasan Perjanjian Perdagangan Bilateral: Mengakselerasi kesepakatan dagang khusus yang mempermudah arus masuk komoditas pangan dan energi tanpa hambatan tarif yang memberatkan.
  3. Kerja Sama Investasi Bioenergi: Mendorong aliansi riset dan investasi pengolahan kelapa sawit menjadi bahan bakar hayati (biofuel) bersama sesama negara produsen.

Menjaga Keseimbangan Geopolitik Bebas Aktif

Meski mendorong penguatan hubungan dengan BRICS, Faisal Karim menyuarakan pentingnya konsistensi terhadap prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif. Langkah mendekat ke BRICS hendaknya tidak dimaknai sebagai pembentukan kubu geopolitik baru yang mengasingkan mitra tradisional dari belahan bumi Barat.

"Pendekatan diplomasi Indonesia harus berorientasi pada kepentingan nasional yang nyata. Merapat ke BRICS bukan berarti menjauhi Barat, melainkan memperluas opsi strategis demi terjaminnya pasokan energi dan ketahanan pangan nasional," pungkasnya.

Dengan jumlah penduduk mencapai lebih dari 278 juta jiwa, keberhasilan Indonesia mengamankan pasokan pangan dan energi akan menjadi tumpuan utama dalam mewujudkan visi Indonesia Emas pada tahun 2045 mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS tania-sari

Reporter Hukum. Meliput Mahkamah Konstitusi, judicial review, dan dinamika legislasi.

Comments (0)

User