Sep 16, 2026
Nasional

JAKARTA — Mentan Amran Ungkap Skandal Beras Fortifikasi Rp89 Triliun

Di tengah upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan nasional, sebuah isu krusial mencuat dan menyita perhatian publik. Menteri Pertanian sekaligus Kepal

JAKARTA — Mentan Amran Ungkap Skandal Beras Fortifikasi Rp89 Triliun

Di tengah upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan nasional, sebuah isu krusial mencuat dan menyita perhatian publik. Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman, tidak mampu menyembunyikan kemarahannya saat membongkar dugaan praktik kecurangan peredaran beras fortifikasi yang tidak sesuai standar di pasaran. Praktik ilegal ini diperkirakan telah menimbulkan kerugian fantastis bagi masyarakat Indonesia, mencapai angka Rp 89 triliun.

Penemuan beras fortifikasi "abal-abal" ini menjadi pukulan telak bagi program penguatan gizi masyarakat. Beras yang seharusnya diperkaya dengan bermacam vitamin dan mineral penting untuk mencegah stunting dan meningkatkan kualitas kesehatan, justru dimanipulasi oleh oknum produsen nakal demi meraup keuntungan pribadi secara instan.

Modus Operandi dan Kerugian Konsumen

Praktik manipulasi ini dilakukan dengan mengemas beras biasa atau beras kualitas medium, lalu melabelinya sebagai beras fortifikasi bermerek premium. Konsumen yang berniat membeli pangan sehat bagi keluarga mereka akhirnya harus membayar harga jauh lebih mahal tanpa mendapatkan manfaat nutrisi yang dijanjikan. Hal ini tidak hanya merugikan secara finansial, tetapi juga mengancam program perbaikan gizi nasional.

"Ini adalah bentuk kejahatan pangan yang sangat merugikan masyarakat kecil dan mencederai kepercayaan publik," tegas Amran saat mengekspos temuan tersebut di Jakarta.

"Kami tidak akan tinggal diam. Kerugian yang ditimbulkan mencapai Rp 89 triliun, dan ini angka yang sangat besar. Masyarakat sudah membayar mahal untuk beras yang mereka kira bergizi tinggi, tetapi nyatanya beras biasa. Kita harus menindak tegas para pelakunya," ujar Amran Sulaiman dengan nada penuh amarah.

Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai perbedaan antara produk asli dan manipulasi di lapangan, berikut adalah perbandingan karakteristik yang ditemukan oleh tim pengawas pangan:

Indikator Perbandingan Beras Fortifikasi Standar (Resmi) Beras Fortifikasi Abal-Abal (Temuan)
Kandungan Gizi Kaya Vitamin A, B1, B6, Asam Folat, Zat Besi, Zinc Nir-nutrisi tambahan (Beras biasa/medium)
Harga Jual Sesuai regulasi HET beras fortifikasi Dinaikkan secara sepihak (Overpriced)
Uji Laboratorium Terverifikasi BSN & BPOM Palsu atau tanpa sertifikasi resmi
Dampak Konsumen Meningkatkan status gizi keluarga Kerugian finansial & kerentanan gizi

Langkah Tegas dan Penegakan Hukum

Mendapati fakta memprihatinkan tersebut, Kementerian Pertanian bersama Bapanas dan Satuan Tugas (Satgas) Pangan Polri langsung bergerak cepat melakukan penelusuran mendalam ke rantai pasok beras di berbagai daerah. Langkah hukum tegas disiapkan untuk menjerat para oknum pengusaha dan distributor nakal yang terlibat dalam skandal besar ini.

Pemerintah menekankan pentingnya transparansi dalam mata rantai distribusi beras. Beras merupakan kebutuhan pokok vital, sehingga segala bentuk manipulasi mutu dan harga akan ditindak tegas sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku, mulai dari pencabutan izin usaha hingga sanksi pidana penjara.

  • Pemeriksaan Laboratorium Berkala: Tim gabungan akan memperketat pengujian sampel beras fortifikasi secara berkala di pasar tradisional maupun ritel modern.
  • Audit Sertifikasi Produsen: Seluruh produsen beras yang mengklaim produknya terfortifikasi wajib memperbarui dan memverifikasi ulang sertifikasi gizi.
  • Penindakan Bersama Satgas Pangan: Memproses secara hukum pabrik penggilingan dan distributor yang terbukti melakukan pendaftaran ulang atau pengemasan kembali (repacking) secara ilegal.

Imbauan Kepada Masyarakat

Di akhir keterangannya, Mentan Amran mengimbau seluruh masyarakat Indonesia untuk lebih teliti dan kritis saat membeli produk beras fortifikasi di pasaran. Warga diminta selalu memeriksa kelengkapan izin edar, sertifikasi BPOM, serta tidak mudah tergiur oleh klaim kesehatan berlebihan pada kemasan beras.

Kejahatan di sektor pangan tidak hanya merusak stabilitas ekonomi warga, tetapi juga mengancam masa depan generasi penerus bangsa. Pemerintah berkomitmen membersihkan pasar nasional dari praktik spekulasi demi menjamin ketahanan serta kedaulatan pangan yang berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS dimas-permana

Reporter Politik Muda. Fokus pada gerakan pemuda, politik digital, dan representasi generasi Z.

Comments (0)

User