Sep 16, 2026
Nasional

JAKARTA — Kekerasan Finansial Mengintai Hubungan Toksis, Kenali Tanda Bahayanya

Uang acap kali dianggap sebagai fondasi penting dalam membangun masa depan bersama pasangan. Namun, di balik lembaran rupiah dan saldo rekening, tersembuny

JAKARTA — Kekerasan Finansial Mengintai Hubungan Toksis, Kenali Tanda Bahayanya

Uang acap kali dianggap sebagai fondasi penting dalam membangun masa depan bersama pasangan. Namun, di balik lembaran rupiah dan saldo rekening, tersembunyi bentuk kekerasan yang kerap tak disadari publik: financial abuse atau kekerasan finansial. Dalam banyak kasus hubungan yang tidak sehat, uang bukan lagi menjadi sarana penunjang kebahagiaan, melainkan alat kontrol psikologis yang ampuh untuk merenggut kemandirian seseorang secara penuh.

Berbeda dari kekerasan fisik yang meninggalkan bekas luka kasat mata, kekerasan finansial bekerja secara halus, bertahap, dan sangat manipulatif. Korban sering kali terbangun dalam kondisi serba terbatas tanpa menyadari bahwa kebebasan ekonomi mereka telah dirampas secara sistematis oleh orang yang paling mereka percayai dalam kehidupan sehari-hari.

Memahami Jerat Kekerasan Finansial dalam Pasangan

Kekerasan finansial terjadi ketika salah satu pihak dalam hubungan mengendalikan penuh kemampuan pasangan untuk memperoleh, menggunakan, dan mempertahankan sumber daya keuangan. Menurut data riset psikologi sosial, hampir 99 persen kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) selalu berjalan beriringan dengan taktik manipulasi finansial. Hal ini menunjukkan betapa krusialnya peran uang dalam mempertahankan dominasi kekuasaan atas pasangan.

Pelaku kekerasan finansial umumnya membatasi akses pasangan terhadap uang tunai, rekening bank bersama, hingga kartu kredit. Tidak jarang, pelaku sengaja melarang pasangannya untuk bekerja atau mengejar pendidikan tinggi dengan dalih "ingin melindungi" atau "meminta pasangan fokus pada keluarga", padahal tujuan utamanya adalah menciptakan ketergantungan ekonomi yang mutlak agar korban tidak bisa pergi.

Ciri-Ciri Utama dan Bentuk Perilaku Financial Abuse

Untuk mengenali apakah seseorang sedang berada dalam situasi ini, penting untuk memahami indikator utamanya. Perilaku kekerasan finansial umumnya terbagi menjadi tiga bentuk dominan: penyabotasean karier, pengontrolan anggaran secara ekstrem tanpa persetujuan, dan eksploitasi aset pribadi.

Indikator Hubungan Finansial Sehat Kekerasan Finansial (Financial Abuse)
Akses Keuangan Transparan dan dapat diakses kedua pihak Dikuasai sepihak oleh pelaku secara total
Keputusan Karier Mendukung kebebasan bekerja pasangan Melarang atau menyabotase pekerjaan pasangan
Penggunaan Uang Diskusi dan kesepakatan bersama Pelaku menuntut laporan pengeluaran rinci

Berikut beberapa fenomena lapangan yang kerap dijumpai pada kasus kekerasan finansial:

  • Penyabotasean Pekerjaan: Pelaku melarang pasangan bekerja, merusak peralatan kerja, atau sengaja membuat keributan sebelum jadwal wawancara kerja pasangan.
  • Pengawasan Ekstrem: Meminta bukti nota pembelanjaan hingga sisa uang kembalian sekecil apa pun serta memberikan jatah uang harian yang sangat tidak memadai.
  • Pencurian dan Eksploitasi Aset: Menggunakan nama pasangan untuk mengajukan pinjaman daring tanpa izin atau menguras tabungan pribadi korban secara sepihak.
"Kekerasan finansial adalah bentuk perampasan otonomi diri secara perlahan. Ketika seseorang kehilangan akses terhadap keuangan pribadi, dia kehilangan daya untuk menentukan arah hidupnya dan terjebak dalam siklus ketergantungan yang sangat destruktif," ujar Dr. Rini Handayani, M.Psi., pakar psikologi hubungan keluarga di Jakarta.

Langkah Strategis Memutus Rantai Kekerasan Finansial

Membebaskan diri dari jerat kekerasan finansial membutuhkan perencanaan yang matang dan keberanian besar. Langkah pertama yang sangat krusial adalah menyadari situasi tersebut dan mulai mendokumentasikan seluruh transaksi serta kepemilikan aset secara rahasia agar memiliki bukti kuat jika diperlukan tindakan hukum.

Para ahli menyarankan agar korban mulai membuka rekening bank terpisah di luar pengetahuan pelaku, mengamankan dokumen-dokumen penting seperti KTP, paspor, ijazah, dan sertifikat aset, serta menghubungi lembaga bantuan hukum atau konselor psikologis. Menciptakan tabungan darurat yang aman adalah kunci utama menuju kemandirian kembali. Transparansi dan kesetaraan dalam pengelolaan uang tetap menjadi fondasi hubungan yang sehat dan bermartabat.

Jangan biarkan uang dijadikan alat untuk mengontrol hidup Anda. Pahami ciri-ciri financial abuse dan langkah memutus rantai kontrol sepihak pasangan. Baca selengkapnya di Apaberita.com.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS bagus-nugroho

Reporter Kebijakan Publik. Fokus pada APBN, otonomi daerah, dan reformasi birokrasi.

Comments (0)

User